We Are 99% - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 14, 2020

We Are 99%


Lukman Noerochim (Stafsus FORKEI)

Secara teoretis sistem Kapitalisme dengan Laizess Faire-nya memberikan kebebasan pada individu dalam mengembangkan modal dan meminimalkan peran negara. Jadi, peran swasta lebih dominan dalam pengelolaan perekonomian. Dengan itu, diyakini bahwa kegiatan ekonomi akan berkembang. Bila kegiatan ekonomi di tengah masyarakat berjalan dengan baik, akan ada tangan yang tidak kelihatan (the Invisible Hand) yang akan mengatur distribusi kekayaan dengan sebaik-baiknya dimana resultante-nya adalah kemakmuran bersama. Pada kenyataannya, the Invisible Hand itu tidak pernah benar-benar ada. Yang ada, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Akibatnya, terjadilah ketimpangan dan ketidakadilan.

Ketidakadilan itulah yang sekarang ini terus diprotes oleh gerakan Occupy Wallstreet di AS dan menyebar ke negara kapitalis lain di seluruh dunia. Perhatikan, dalam protes itu selalu ada poster besar berbunyi, "Capitalism is not working", "We are 99%". Maksudnya, Kapitalisme itu nyatanya hanya berpihak pada orang kaya. Capitalism is simply of 1%, by 1%, for 1% (dari, oleh dan untuk 1%).

Dalam Islam, keadaan seperti itu dijamin tidak bakal terjadi. Negara berperan besar dalam distribusi kekayaan agar berjalan baik dan rakyat terpenuhi kebutuhan pokok (al-hajat al-asasiyah), baik kebutuhan dasar individu (sandang, pangan dan papan), maupun kebutuhan dasar masyarakat (keamanan, kesehatan dan pendidikan). Kebutuhan pokok individu dilakukan dengan cara memastikan penerapan hukum nafkah (ahkam an-nafaqat). Jika hukum ini sudah diterapkan dan individu tetap tidak mampu, barulah negara berperan langsung untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Adapun terkait kebutuhan dasar masyarakat, negara berperan secara langsung dengan menyediakannya secara cuma-cuma.

Pertanyaan berikutnya adakah bukti-bukti bahwa sistem Islam memang mensejahterakan? Fakta sejarah yang membentang selama lebih dari 1400 tahun adalah bukti nyata kemampuan Islam untuk mensejahterakan rakyatnya, baik Muslim maupun non-Muslim. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang hanya 3 tiga tahun (99-102 H/818-820 M) sebagaimana ditulis oleh Ibnu Abdil Hakam dalam Sîrah 'Umar bin Abdul 'Aziz, kesejahteraan juga dirasakan oleh seluruh rakyat. Hal ini tergambar dari ucapan Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, "Saat hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan."

Dalam hal pendidikan, Rasulullah saw. pernah menetapkan kebijakan terhadap tawanan Perang Badar: tawanan bakal dibebaskan setelah mengajar baca tulis 10 orang penduduk Madinah. Langkah itu diikuti oleh para khalifah dan penguasa berikutnya. Di Baghdad dibangun Universitas al-Mustanshiriyah. Khalifah Hakam bin Abdurraham an-Nashir juga mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung mahasiswa dari penjuru dunia, termasuk dari Barat. Universitas-universitas itu telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga kini.

Kemampuan Islam mensejahterakan rakyatnya diakui pula oleh penulis non-Muslim yang jujur. Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol. XIII, menulis: Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here