Air Mata Dari Turkistan Timur - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, December 27, 2020

Air Mata Dari Turkistan Timur


Ilham Efendi (Direktur RIC)

Dilansir dari cnnindonesia Dilansir Hindustan Times, Jumat (4/12), Sautbay adalah seorang dokter dan pendidik yang kini tinggal di Swedia. Baru-baru ini dia menerbitkan sebuah buku yang berisi penderitaannya, termasuk ketika ia menyaksikan pemukulan, dugaan pelecehan seksual, dan sterilisasi paksa. "Saya merasa seperti orang yang berbeda. Di sekitar saya menjadi gelap. Sangat sulit untuk menerimanya," ucap dia. Kisah lainnya, Sautbay mengatakan dia pernah memohon kepada petugas pria di kamp untuk mengizinkannya pergi ke toilet. Dia diizinkan pergi, tapi sambil diborgol dan petugas tersebut mengikutinya ke toilet. Sementara itu, Antropolog Jerman sekaligus cendekiawan Uighur, Adrian Zenz melaporkan bahwa ada upaya "aktif" untuk mempromosikan dan memperluas peternakan babi di wilayah Xinjiang. "Ini adalah bagian dari upaya untuk sepenuhnya memberantas budaya dan agama orang-orang di Xinjiang," kata Zenz. "Ini adalah bagian dari strategi sekularisasi, mengubah Uighur menjadi sekuler dan mengindoktrinasi mereka untuk mengikuti partai komunis dan menjadi agnostik atau atheis," ucap dia. Sebelumnya pada 2019, administrator tertinggi Xinjiang, Shohrat Zakir, juga mengatakan wilayahnya akan diubah menjadi "pusat peternakan babi". Proyek itu ditargetkan dibangun di area seluas 25 ribu meter persegi di sebuah taman industri di daerah Konaxahar Kashgar, yang telah berganti nama menjadi Shufu. Kesepakatan itu secara resmi telah ditandatangani pada 23 April tahun ini. China selama ini membantah laporan bahwa mereka menahan etnis Uighur di tempat-tempat layaknya kamp konsentrasi dan membatasi kehidupan mereka di Xinjiang.

Beijing berdalih kamp-kamp tersebut merupakan tempat pelatihan vokasi untuk memberdayakan etnis Uighur dan minoritas Muslim lainnya agar terhindar dari ideologi ekstremisme dan terorisme.

Catatan: 

Apakah yang membuat China dan yang lain berani lancang menduduki negeri-negeri kaum Muslim?

Apakah yang membuat China dan selain China berani lancang, berbuat brutal dan melakukan serangan berdarah terhadap kaum Muslim?

Apakah yang membuat kaum Muslim menjadi titik paling lemah sehingga teriakannya ditelan oleh setiap orang yang melampaui batas dan pembuat dosa?

Apakah yang membuat kaum Muslim menjadi santapan bagi setiap orang rakus dan menjadi tunggangan yang mudah bagi setiap yang melata?

Apakah yang membuat pandangan orang di bumi Islam tidak tertuju kecuali pada darah suci yang ditumpahkan; darah para orang tua, para wanita dan anak-anak. Apakah yang membuat pandangan orang di bumi Islam tidak tertuju kecuali pada ratapan orang-orang lemah dan anak-anak yatim? Apakah yang membuat pandangan orang di bumi Islam tidak tertuju kecuali pada perpecahan dan disistegrasi serta penguasaan oleh musuh dan sekutunya?

Apakah yang membuat kaum Muslim miskin dan papa, padahal negeri-negeri mereka merupakan negeri yang kaya dan penuh potensi?

Sebabnya tidak lain hanya satu. Sebab itu dipahami oleh setiap orang yang memiliki akal dan hati atau orang yang bisa mendengar dan melihat:

Sesungguhnya kaum Muslim telah kehilangan pemelihara yang memelihara urusan-urusan mereka, melindungi dan menasihati mereka.

Kaum Muslim telah kehilangan seorang imam (khalifah) yang dijadikan pelindung dan berperang di belakangnya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Imam (khalifah) tidak lain laksana perisai dimana kaum Muslim menjadikannya pelindung dan berperang dibelakangnya (HR Muslim).

Kaum Muslim telah kehilangan seorang Khalifah yang mendapat petunjuk yang melindungi kemuliaan Islam dan menjaga perbatasan.

Mereka telah kehilangan sosok Khalifah Al-Mu’tashim yang segera menjawab teriakan orang-orang yang meminta pertolongan, seruan orang-orang yang terzalimi dan ratapan orang-orang tertindas!

Sesungguhnya kaum Muslim hari ini lebih dari satu setengah miliar orang. Akan tetapi, mereka tidak memiliki satu negara yang memerintah menurut wahyu yang telah Allah turunkan dan berjihad di jalan-Nya. Para penguasa mereka justru memerintah dengan apa saja selain Islam; memerangi siapa saja selain musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya serta musuh kaum Mukmin. Para penguasa kaum Muslim itu melihat dan mendengar apa yang terjadi di Turkistan Timur, tetapi mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Sebaliknya, para penguasa kaum Muslim itu bungkam seribu bahasa, pekak tuli, buta dan tidak berakal. Mereka itu seperti orang yang mengucapkan perkataan laksana letusan senjata tetapi kosong tanpa makna, hanya saja populer, tetapi mereka menganggap diri telah berbuat baik.

Begitulah, akibat perbuatan para penguasa mereka, kaum Muslim menjadi besar dalam jumlah, tetapi tidak memiliki bobot, seperti buih di lautan. Kondisi mereka seperti yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw.:

«… بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“…Bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan sungguh Allah mencabut dari dada musuh-musuh kalian kegentaran terhadap kalian, dan sungguh Allah menancapkan di hati kalian al-wahn.” Lalu seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah al-wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here