Amerika Dan Kebohongan Penjajahan Di Irak - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, December 17, 2020

Amerika Dan Kebohongan Penjajahan Di Irak


Ilham Efendi (Direktur RIC)

Hampir 2 dekade yang lalu pada bulan Maret 2003, 300.000 tentara asing, yang dipimpin oleh AS mulai melakukan invasi ke Irak. Setelah satu dekade, pendudukan masih tetap terjadi.

Namun, banyak kebohongan yang dikarang dan saat ini telah menghilang dan terlupakan. Dengan maksud membenarkan invasi, kebohongan itu hanya diganti dengan pembenaran lainnya. Oleh karena itu pada peringatan invasi Irak yang ke-10 tahun, kami menyoroti 10 mitos itu:

Alasan Amerika untuk melakukan invasi ke Irak kini terbukti hanyalah segudang kebohongan. Amerika terus mengubah alasan invasinya ke Irak, dari mulai hak moral untuk menjatuhkan Saddam Hussein yang dituduh memiliki senjata pemusnah massal hingga alasan bahwa umat Islam Irak ingin dibebaskan. Alasan sebenarnya dari Barat dan sekutunya untuk berperang pada tahun 2003 telah gamblang dijelaskan dalam laporan tahun 2001 tentang “keamanan energi”. Suatu komisi ditugaskan oleh AS kepada Wapres Dick Cheney pada waktu itu, yang memperingatkan bahwa Irak akan menimbulkan risiko keamanan bagi pasokan energi global. Noam Chomsky, yang dianggap intelektual terkemuka dunia merangkum agenda Amerika itu: “Ambillah contoh invasi Amerika ke Irak, misalnya. Bagi semua orang kecuali seorang ideolog, cukup jelas bahwa kita menyerang Irak bukan karena cinta kita terhadap demokrasi, tetapi karena mungkin negara itu adalah sumber minyak kedua atau ketiga terbesar di dunia, dan tepat berada di tengah-tengah wilayah penghasil energi utama. Namun, Anda seharusnya tidak mengatakan ini. Ini akan dianggap sebagai teori konspirasi.”

George W Bush dan Tony Blair terus menyatakan alasan mereka berperang di Irak untuk membebaskan dunia dari seorang diktator brutal yang merupakan ancaman bagi perdamaian, stabilitas dan demokrasi regional. Keduanya telah secara teratur menyebutkan penggunaan gas kimia terhadap penduduk Kurdi dan Perang Iran-Irak pada tahun 80-an, sebagai contoh kebrutalan Saddam.

Namun, hal ini juga merupakan kebohongan. Menurut Project for a New American Century Document yang disahkan oleh para pejabat pemerintahan Bush senior tahun 1997, disebutkan, “Sementara konflik dengan Irak yang tidak terselesaikan memberikan pembenaran langsung” bagi AS ‘untuk memainkan peran yang lebih permanen bagi keamanan regional Teluk,’ perlunya kehadiran kekuatan besar Amerika di Teluk melebihi isu atas rezim Saddam Hussein.”

Jadi senjata pemusnah massal Saddam itu bukanlah masalah yang sebenarnya dan bukan pula Saddam itu sendiri.

Kenyataannya, keputusan untuk berperang dibuat bersama oleh para pejabat Amerika dan pejabat senior Inggris sebelum setiap proses demokrasi dilakukan, di balik pintu tertutup, dan tidak mempedulikan bukti-bukti atau hukum internasional. Hal ini telah dipaparkan dalam berbagai dokumen resmi yang dinyatakan terbuka untuk umum.

Dalam suatu pilihan kebijakan yang bocor yang disusun oleh para pejabat Kantor Kabinet Sekretariat Luar Negeri dan Pertahanan (tanggal 8 Maret 2002), tercatat bahwa, “Satu-satunya cara untuk menjatuhkan Saddam adalah dengan menyerang dan memaksakan suatu pemerintahan baru…[Tanpa ada dasar hukum] yang ada saat ini, membuat gerak cepat untuk menyerang akan sangat sulit secara hukum. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan pendekatan yang bertahap. “

Nota pertemuan pada tanggal 23 Juli 2002 antara para anggota kunci kabinet, Perdana Menteri dan Kepala MI6 dan JIC, yang dikenal dengan nama Downing Street Memo, menyimpulkan untuk mendesak mereka yang hadir pada pertemuan itu agar “bekerja dengan asumsi bahwa Inggris akan mengambil bagian dalam aksi militer. “

Bukti bahwa sistem intelijen dipolitisasi dan diambil keuntungan untuk membenarkan invasi kini menjadi semakin jelas. Penentangan terhadap perang menyebabkan para elit politik baik di Amerika maupun di Irak memanipulasi sistem masing-masing agar bekerja untuk tujuan mereka sendiri. Persetujuan Parlemen tidak membuat kejahatan itu menjadi benar, terlepas dari berapa banyak orang yang ikut voting.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here