Catatan Kritis Konsep Negara Bangsa - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 8, 2020

Catatan Kritis Konsep Negara Bangsa


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Dunia muslim masih tercerai-berai. Nasionalisme terbukti menghilangkan kepedulian umat sehingga kaum Muslim menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis. Namun, mereka menghadapi persoalan itu hanya dengan sendiri-sendiri. Kesadaran bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh pun telah meluntur. Padahal persaudaraan mereka berjumlah lebih dari satu miliar manusia.

Nasionalisme inilah yang menyebabkan Palestina terus dinistakan oleh bangsa zionis Israel. Kaum zionis tahu, sistem nation-state yang terapkan di negeri-negeri Muslim adalah benteng penghalang umat Islam untuk membantu saudaranya. 

Demikian pula terjadi dengan saudara-saudara di Irak, Afganistan, Suriah hingga Rohingnya. Para penguasa di negeri Muslim paling banter membela mereka hanya sebatas retorika belaka. Mereka enggan mengirimkan tentaranya untuk mengusir penjajah dan penista. Di sisi lain, sebagian besar umat Islam pun bahkan tidak peduli lagi karena menganggap urusan dalam negeri lebih penting ketimbang mengurusi negara lain.

Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani memaparkan alasan mengapa nasionalisme tidak mampu menjaga persatuan dan kesatuan. Pertama: kualitas ikatannya rendah. Ia tidak mampu mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tatkala mewujudkan persatuan. Kedua: ikatannya hanya bersifat emosional dan muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, selain adanya peluang selalu berubah-ubah. Ketiga: Ikatan ini bersifat temporal, akan meningkat ketika ada ancaman dari luar, sebaliknya pada saat keadaan normal atau aman ikatan ini tidak berarti sama sekali. (An-Nabhani, Nizham al-Islam).

Selain terbukti merugikan umat, nasionalisme juga bertentangan dengan Islam, sebagaimana sabda Rasululullah saw., “Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah (nasionalisme dan tribalisme).” (HR Abu Dawud).

Pernah pada masa Rasulullah saw., salah seorang tokoh Yahudi bernama Syas bin Qais—yang sangat benci dengan persatuan dua suku besar penghuni Kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam—membuat makar dengan mengirim seorang penyair agar membacakan syair-syair Arab Jahiliah yang biasa mereka pakai dalam Perang Buats. Penyair itu berhasil. Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khazraj itu memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama Muslim. Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj. Dalam puncak emosi menyulut perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak, “Senjata-senjata!”

Pada saat genting itulah Rasulullah saw. datang dan merelai mereka. Rasul saw. lalu bersabda, “Wahai kaum Muslim, apakah karena seruan Jahiliah ini (kalian hendak berperang), padahal aku ada di tengah-tengah kalian, setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dengan Islam itu Allah memuliakan kalian. Dengan Islam Allah memutuskan urusan kalian pada masa Jahiliyah. Dengan Islam itu Allah menyelamatkan kalian dari kekufuran. Dengan Islam itu pula Allah mempertautkan hati-hati kalian.” Serta-merta kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari setan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah saw. dengan senantiasa siap mendengar dan taat. (Sirah Ibnu Hisyam, 1/555).

Umat Islam adalah saudara dengan tidak mengenal suku, warna kulit, maupun batas teritorial, sebagaimana Rasulullah saw. mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dengan satu landasan akidah Islam, bukan karena landasan nasionalisme. Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara (TQS al-Hujurat [49]: 10).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here