Extra - Judicial Killing Dan Insiden Misterius Atas Terbunuhnya 6 Aktivis Islam


Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)

Tragedi Tol yang berujung terbunuhnya 6 aktivis Islam dari gerakan dakwah FPI menimbulkan tanda tanya besar bagi publik. Publik mempertanyakan bahwa terdapat missing link dalam narasi yang disampaikan oleh Polri sehingga ruang yang tidak utuh tersebut justru menimbulkan skeptisisme bagi publik. Karena itu, ada dugaan pelanggaran HAM serius yang telah dilakukan akibat arogansi oknum aparat. Sebab, jika mengacu pada keterangan resmi DPP FPI menyebutkan bahwa anggota mereka yang menjadi korban justru tidak membawa senjata api maupun senjata tajam atau dalam posisi mengancam aparat sebagaimana dituduhkan oleh pihak Polri.

Sebagian masyarakat merasakan ada kejanggalan semakin menguat mengingat posisi para korban saat itu adalah dalam rangka melakukan pengawalan Habib Rizieq Shihab yang akan melakukan dakwah keluar kota, bukan mobilisasi massa ke dalam kota dalam rangka menghalangi penyidikan Polri. Mereka meyakini bahwa ini adalah tindakan teror terhadap pemuka agama untuk kesekian kalinya. Ironisnya, tindakan kali ini justru dimotori oleh oknum aparat hingga mengakibatkan terenggutnya nyawa orang lain yang tidak bersalah.

Tindakan terhadap enam orang anggota FPI dapat dikategorikan sebagai tindakan extra-judicial killing atau pembunuhan di luar putusan pengadilan. Tindakan seperti ini dilarang keras oleh ketentuan dalam hukum HAM internasional maupun peraturan perundang undangan nasional. Larangan tersebut dimuat di dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, serta International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik) yang diratifikasi melalui UU Nomor 12 Tahun 2005. Extra-judicial killing merupakan suatu pelanggaran hak hidup seseorang.

Hak hidup setiap orang dijamin oleh UUD 1945 dan merupakan hak asasi yang tidak dapat dikurangi apapun keadaannya (non-derogable rights). Oleh karenanya, tindakan demikian tidak dapat dibenarkan oleh negara hukum seperti Indonesia. Tindakan ini juga melanggar hak-hak lain yang dijamin baik oleh UUD 1945, UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ataupun ketentuan hukum HAM internasional, seperti hak atas pengadilan yang adil dan berimbang (fair trial).
Jika memang ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh enam orang tersebut, seharusnya dapat di proses sebagaimana ketentuan pidana yang belaku. Akibat terjadinya Extra-judicial killing mereka tidak akan dapat diadili dengan adil dan berimbang untuk membuktikan tuduhan yang disampaikan kepadanya karena saat ini sudah meninggal dunia.

Tentu saja, ini adalah ketidakadilan terhadap umat Islam, namun ketidakadilan terbesar adalah jika nanti terdapat langkah - langkah yang dilakukan sebagian pihak untuk mengelabuhi umat Islam yang sedang melakukan investigasi dan membentuk tim untuk menyelidiki pembunuhan ini. Sebagaimana biasa, kadangkala investigasi menemui jalan buntu. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak peduli terhadap keamanan umat Islam di negeri ini dan kehidupan banyak aktivis berada dalam bahaya. Sebagian pihak menuding bahwa pembunuhan ini secara langsung berkaitan dengan "Perang Melawan Teror" yang atas dorongan Amerika. Karena ideologi Komunis tidak punya kesempatan untuk kembali ke dunia, ketakutan terbesar Amerika adalah kembalinya Islam untuk memimpin dunia. Ini adalah alasan mengapa Amerika memulai perangnya terhadap Islam dan kaum Muslim di dunia dan mencap mereka sebagai kaum 'radikal' dan 'teroris'. Tentu saja, Islam jauh dari label seperti itu karena sudah dibuktikan kepada dunia bahwa Islam menyebarkan rahmat bagi seluruh umat manusia.

Apa yang lebih penting adalah bahwa pembunuhan ini sendiri merupakan insiden yang cukup misterius yang telah menimbulkan sejumlah pertanyaan dalam benak masyarakat. Terutama dalam situasi politik ketika seluruh negeri ini berubah seakan menjadi negara polisi, cara dan tempat di mana pembunuhan itu terjadi. Dimana mereka seakan ingin mengalihkan perhatian masyarakat pasca terbongkarnya banyak skandal besar para politisi  di negeri ini.

Kami berharap kepada masyarakat agar mereka lebih berani dan berani lagi serta bersikap kritis dengan menyoroti berbagai kezaliman yang dilakukan siapapun dalam kasus kriminalisasi aktivis, ulama dan yang terbaru adalah insiden terbunuhnya 6 aktivis Islam.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post