Instropeksi Diri


M. Arifin (Tabayyun Center)

Allah Swt. berfirman (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah! (QS an-Nisa’ [4]: 136).

Di dalam tafsirnya, Ibn Katsir menyatakan, ayat ini tidak terkait dengan tahshîl al-hâshil (yakni agar mereka beriman; karena iman memang sudah ada pada orang-orang Mukmin), tetapi terkait dengan takmîl al-kâmil (yakni agar mereka menyempurnakan iman yang sudah ada).

Penafsiran ini tampaknya sesuai dengan sebuah sabda Nabi saw., “Jaddidû dînakum/îmânakum (Perbaruilah agama/iman kalian)!” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Pembaruan iman sangatlah penting bagi setiap Muslim, apalagi para aktivis dakwah. Pasalnya, sering karena kesibukan dalam menjalankan tugas-tugas dakwah, ditambah lagi dengan kesibukan mencari nafkah atau mengurus rumah tangga, para aktivis dakwah tidak sempat lagi ’mengurusi’ kalbunya. Tahu-tahu kalbunya sudah ’hitam pekat’; dipenuhi dengan noda akibat dosa-dosa kecil ataupun berbagai kelalaian yang tidak terasa sering ia lakukan.

Kata Imam al-Ghazali, kalbu itu ibarat cermin. Saat seseorang melakukan satu dosa/maksiat, maka satu noktah hitam menodai kalbunya. Semakin banyak dosa, semakin banyak noktah hitam itu menutupi kalbunya. Jika sudah tertutupi banyak noktah hitam, kalbu yang ibarat cermin itu tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin; untuk ’mengaca diri’ dan mengevaluasi diri. Saat demikian, kepekaan spiritual biasanya akan lenyap dari dirinya. Jika sudah seperti itu, jangankan dosa kecil, apalagi sekadar berbuat makruh dan melakukan banyak hal mubah yang melalaikan, dosa besar sekalipun mungkin tidak lagi dianggap besar. Jangankan meninggalkan hal sunnah, meninggalkan kewajiban pun mungkin sudah dianggap biasa. Pasalnya, kepekaan kalbunya nyaris hilang; tidak lagi mampu mendeteksi dosa, apalagi dosa yang dianggap kecil.

Padahal, lihatlah kepekaan Abu Utsman an-Naisaburi. Suatu saat, pernah sandalnya putus dalam perjalanannya untuk shalat Jumat dan ia butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Ia lalu berkata, “Sandal ini putus mungkin karena aku tidak mandi hari Jumat.”

Seorang generasi salaf juga pernah berkata, “Aku pernah menganggap sepele sesuap makanan (yang syubhat), lalu aku memakannya. Sekarang, aku seperti kembali ke empat puluh tahun yang lalu.”

Demikianlah. Maksiat itu tidak jarang melahirkan maksiat yang lain. Jika maksiat sering dikerjakan maka terjadilah akumulasi maksiat. Dosa-dosa kecil pun akhirnya menjadi besar.

Pengabaian perkara ini secara berlarut-larut tanpa penanganan serius sering menjadikan aktivis dakwah berkurang kadar ‘keimanan’ dan amal-amal batiniahnya, semisal ikhlas. Bahkan amaliah batin lainnya—seperti jujur, yakin, zuhud, tawakal, takut, tobat, berserah diri dan cinta kepada Allah SWT—mungkin juga hilang dari dirinya. Semua itu sering terjadi karena ia mengabaikan kalbunya.

Dalam kondisi demikian, boleh jadi seorang aktivis dakwah menjadi hanya banyak berkata-kata yang tidak berguna, makan secara berlebihan, berinteraksi dengan orang lain bukan demi kemaslahatan dakwah, banyak tidur dan bermalas-malasan, menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya—meski mungkin tidak menjurus pada hal-hal yang haram atau makruh.

Akibat lanjutannya, nuansa spiritual hilang dari kehidupannya. Dakwahnya terjebak dalam rutinitas. Pengaruhnya tak lagi membekas. Kata-katanya kering dari nilai-nilai ruhiah. Retorikanya tak lagi menggugah, apalagi mendorong orang untuk segera menjemput hidayah dan ber-taqarrub kepada Allah. Bahkan tidak jarang, ghîrah dakwahnya menurun, dan himmah-nya pun tak lagi menyala-nyala; sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya padam.

Seorang aktivis dakwah yang mengalami hal-hal semacam ini tentu tidak boleh terlena dan berdiam diri. Ia harus segara bangkit dan segera memperbarui ketaqwaannya.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post