Iqtha'


Abu Inas (Tabayyun Center)

Pemberian negara (iqtha’) adalah memberikan tanah yang sudah dikelola dan siap untuk langsung ditanami, atau tanah yang nampak sebelumnya telah dimiliki oleh seseorang. Dengan kata lain, mekanisme ini hanya berlaku pada tanah yang tidak mati. 

Pemberian tanah oleh negara juga disertai dengan penganugerahan hak kepemilikan secara utuh. Pemiliknya bebas menggunakan dan mengalihkan haknya kepada orang lain. Baidhuri melaporkan bahwa pemberian Rasulullah kepada Bilal ibn al-Harits oleh Rasulullah telah dijual oleh ahli warisnya kepada Umar. Hal memberikan gambaran tentang jangkauan kepemilikan ini.

Pemberian tanah oleh negara dalam pengertian di atas, memiliki pengertian yang berbeda dengan sistem pemberian tanah (land reform) dalam sistem feodalisme. Karena sistem ini bersifat khas dengan dilandasi semangat sosialisme yang tidak pernah diakui kebenarannya oleh Islam. Sistem ini dilakukan negara dengan pemberian tanah milik negara secara cuma-cuma. Hal itu ditunjukkan oleh kasus Bilal AI-Muzni yang meminta sebidang tanah dengan cuma-cuma kepada Rasulullah saw. Tanah di Banu Quradza dan Banu Kanuka yang ditaklukkan dengan peperangan dan tanah Banu Nazhir, Fidak dan Raim yang ditaklukkan secara damai dibagi-bagikan oleh Rasulullah kepada kalangan Muhajirin dan Anshar yang miskin. Tanah-tanah di Khaibar yang ditaklukkan melalui peperangan dibagi menjadi 36 bagian. 18 bagian disimpan untuk menanggulangi biaya negara dan sisanya dibagikan kepada seratus orang kaum muslim. Rasulullah memberikan tanah kepada orang yang dikehendaki sesuai dengan kebijakan yang tepat pada masa itu.

Tentu, prinsip pokok yang harus menjadi pertimbangan adalah mengutamakan kepada orang-orang yang membutuhkan dan memiliki kemampuan untuk mengelolanya.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post