Kelaparan, Stok Pangan, Dan Watak Sistem Kapitalisme Serakah


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK (Direktur Poverty Care)

Banyak sekali organisasi yang telah meneliti sebab musabab kemelaratan seperti kurangnya sumber daya alam, efek cuaca lokal, hingga kurangnya penerapan demokrasi. Prinsipnya tidak ada semacam persetujuan dikalangan ahli sosiologi dan lembaga penelitian mengenai penyebab utama kemiskinan dan kemelaratan. Anehnya, semua sepakat, bahwa jalan keluarnya adalah penerapan kapitalisme dan adanya pasar bebas. 

Padahal kalau saja kita lihat secara umum situasi negara dunia ketiga, umumnya, dan negara dunia islam, khususnya, beberapa faktor berikut adalah penyebab utama pemiskinan yang ada sekarang.

Fungsi IMF dan Bank Dunia dengan kebijakan perubahan strukturalnya yang terkenal telah menyengsarakan negeri klien seperti Pakistan, Turki, Indonesia, Bangladesh dan Mesir. Solusi yang diberikan lembaga keuangan internasional tersebut awalnya diperkirakan akan menyelamatkan negara-negara tersebut adalah dengan metoda perdagangan. Kenyataannya banyak sekali kendala yang dipasang oleh negara-negara maju supaya negara-negara berkembang tidak akan pernah bisa berkembang. Artinya, barang-barang yang diproduksi negara-negara maju harus diimpor oleh negara miskin. Memang teorinya sederhana, bahwa perdagangan akan meningkatkan kesejahteraan negara miskin. Itu sebabnya sektor swasta dilihat sebagai kunci pemicu pertumbuhan ekonomi dan penghilangan kemiskinan.

Contohnya, Pakistan membutuhkan investasi di bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur sebelum ia mampu berkompetisi secara global. Namun, IMF dan Bank Dunia justru menyuruh pemerintah Pakistan untuk mengurangi subsidi di bidang-bidang diatas dan meningkatkan fokus ke arah ekspor. Kedua lembaga keuangan tersebut menyuruh Pakistan untuk berkompetisi melawan sektor swasta internasional yang jauh lebih kuat. Itu sebabnya, pertumbuhan ekonomi Pakistan malah semakin terpuruk.

Afrika juga dipaksa untuk untuk membayar hutang, sebagaimana terjadi semasa kolonial dulu. Hutang Afrika terjadi secara semena-mena dengan pemberian hutang bilyunan dolar dengan bunga yang sangat tinggi. Hutang Afrika juga termasuk hutang yang diberikan negara maju semasa pemerintahan diktator, dimana dana pinjaman itu dihamburkan dengan sepengetahuan negara-negara donor/pemberi hutang. Afrika Selatan, contohnya, mewarisi hutang semasa apartheid sekitar 46 bilyun dolar. Pemerintahan baru Afrika Selatan yang berkuasa setelah Apartheid berakhir, dipaksa untuk membayar hutang masa lalunya (atau hutang yang digunakan untuk membiayai penindasannya sendiri). Di tahun 1998 ACTSA (Gerakan Afrika Selatan) memperkirakan bahwa hutang sebesar 18 bilyun dolar digunakan untuk membiayai kebijakan apartheid dan 28 bilyun dolar adalah hutang yang ditanggung negara-negara tetangga afrika selatan untuk membiayai program untuk menghadapi destabilisasi atau imbas dari kebijakan apartheid, dimana berkisar sekitar 74% dari total hutang Afrika.

Situasi dunia Islam berasal dari penjajahan dan direkam dengan baik oleh David Fromkin, Profesor ahli Sejarah Ekonomi di Universitas Chicago. Ia bertutur, "Kekayaan luarbiasa dari Khilafah Uthmaniy telah dikuasai oleh pemenang perang. Namun orang tidak boleh lupa, bahwa kekhilafahan islam telah berusaha selama berabad-abad untuk menguasai Eropa Kristen. Maka tidak heran, apabila para pemenang perang akan memastikan agar khilafah tidak bisa terorganisir kembali, apalagi bangkit untuk mengancam Eropa kembali. Dengan pengalaman merkantilis yang lama, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara yang tidak akan pernah stabil dimana para penguasanya akan selalu tergantung dari negara lain supaya bisa tetap berkuasa. Maka pembangunan di negara-negara ciptaan kolonial akan selalu dimonitor dan dipastikan agar tidak mampu menjadi ancaman bagi Barat lagi. Kekuatan asing pun membuat kontrak dengan para penguasa boneka untuk menghisap kekayaan alam negara mereka, hingga keluarga raja menjadi semakin kaya sedangkan rakyatnya justru semakin terlantar.".

Negara berkembang akan selalu menjadi miskin akibat kebijakan negara Barat. Jelasnya, bukan karena kekurangan pangan tetapi justru oleh konsumsi yang berlebihan oleh masyarakat Barat (yaitu sekitar 20% dari populasi dunia), namun menghabiskan 80% dari produksi pangan.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post