Kemandulan PBB Mengatasi Berbagai Pelanggaran HAM Besar


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

PBB didirikan ditahun 1945 untuk ‘menyelamatkan generasi berikut dari derita peperangan.” Sejak itu, tidak kurang 250 konflik tercetus yang membuktikan kegagalan PBB dalam meraih tujuan didirikannya. Barat, dan juga para pembuat kebijakan dunia ketiga, melihat PBB sebagai institusi netral (tidak bias) yang terdiri dari 200 negara anggota, yang menjunjung tinggi nilai internasional, aksi multilateral, demokrasi, pluralisme, sekularisme, kompromi, dan hak asasi manusia.

Padahal, PBB sebenarnya adalah alat eksploitasi yang terlihat dari struktur organisasinya yang membiarkan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan kolonial yang kini menjadi anggota tetap Dewan Keamanannya. Banyak peristiwa yang menunjukkan kelemahan PBB, seperti invasi Irak, penerapan hukum secara selektif pada Israel, kegagalan pembantaian muslim di Sebrenica, dan pembersihan etnis di Rwanda.

Pada dasarnya, PBB adalah organisasi internasional dimana 5 anggota tetap Dewan Keamanan telah menggunakan PBB sebagai alat kebijakan luarnegeri mereka. Bahkan apa yang disebut Hukum Internasional sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada hanyalah etika internasional. Kalaupun hukum internasional harus ada, ia memerlukan perangkat penegak hukum yang bersifat global atau supernasional. Karena kita tahu bahwa perangkat ini juga tidak ada, maka bisa dilihat bahwa hukum internasional baru digembar-gemborkan oleh negara-negara tertentu ketika sesuai dengan kepentingan masing-masing (neo-realisme) (cf. Waltz. K. 1979. ‘A Theory of International Politics’). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diam terhadap pembantaian yang dilakukan milisi Kristen kepada minoritas Muslim di Afrika Tengah. 

PBB juga tidak banyak berbuat  ketika Tentara Mali telah melakukan praktek kekejaman yang meluas terhadap umat yang disebut oleh Barat sebagai militan.

Seperti yang dilansir BBCIndonesia.com (02/02/2013), penasihat khusus PBB anti genosida memprihatinkan laporan perilaku kekerasan tentara Mali saat menguasai kembali kawasan utara negara itu. Dalam pernyataannya, utusan PBB Adama Dieng menyatakan “sangat terganggu” terhadap laporan-laporan yang menyebutkan adanya pelanggaran sistematis dan meluas yang diduga dilakukan tentara Mali.

Dia menyebut, apabila tindakan seperti itu betul-betul terjadi secara sistematis, maka termasuk kategori “tindakan kejahatan yang kejam” 
Laporan-laporan yang diterima Adama Dieng menyebutkan, tentara Mali diduga merekrut dan mempersenjatai kelompok milisi dari kawasan selatan untuk membunuh orang-orang Arab dan etnis Tuareg di kawasan utara.

Disebutkan, tindakan brutal yang dilakukan tentara Mali itu terjadi di kota-kota seperti Sevare, Mopti, Niono, dan kawasan lain yang dilanda pertempuran di kedua pihak. Kekejaman yang ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan PBB dan Prancis terhadap tentara Mali.

Kebiadaban pasukan rezim sekuler Mali dukungan penjajah salibis Perancis akhirnya terkuak juga kepada dunia internasional. Setelah harian The Guardian, The Observer dan beberapa media lokal di Afrika Barat mengeksposnya, stasiun TV 2 Perancis akhirnya menayangkan laporan langsung dari lapangan. Seperti dilaporkan oleh kantor berita Ash-Sharq, tentara rezim sekuler Mali melakukan serangan biadab pada Selasa (22/1/2013) terhadap sebuah masjid di ibukota Bamako. Pasukan Mali menangkap seorang imam masjid, sejumlah ulama juru dakwah dan para jama’ah masjid.

Pasukan Mali membunuh sang imam masjid dan menyiksa para ulama juru dakwah dan jama’ah masjid. Tidak cukup sampai di situ, pasukan Mali mencukur habis jenggot para ulama dan jama’ah masjid. Jenggot adalah sunah fitrah yang merupakan ajaran para nabi dan simbol ketaatan seorang muslim kepada ajaran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa waktu sebelumnya pasukan rezim sekuler Mali juga melakukan pembantaian terhadap para ulama dan juru dakwah di kota Diyabali.

Nilai HAM ala PBB yang nisbi, yang sarat dengan masuknya kepentingan AS dan barat semestinya menyadarkan kita untuk kembali ke nilai-nilai yang paripurna. Itulah nilai-nilai ilahiah. Itulah nilai-nilai Islam. Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ

Sesungguhnya Kami telah memuliakan keturunan Adam (QS al-Isra’ [17]: 70).

Atas kemuliaan itulah Islam melindungi jiwa manusia dari ancaman sesamanya. Perlindungan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan dan memelihara eksistensi manusia. Karena itu, pembunuhan atas satu jiwa manusia pada hakikatnya sama seperti membunuh semua manusia. Balasan yang layak bagi orang yang membunuh adalah dibunuh pula Semua itu tertuang jelas di dalam al-Quran (lihat QS al-Maidah: 32, al-Baqarah 178-179).

Hak-hak lainya seperti hak memiliki dan mengusahakan harta (ekonomi), hak berpolitik, hak edukasi, dan hak primer yang lain dijamin pemenuhannya oleh Islam melalui tanggung jawab negara dalam merealisasikan kehidupan Islam.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post