Membungkam Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 8, 2020

Membungkam Khilafah


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Sepanjang abad 19, kekuatan Eropa terus berupaya melemahkan umat Islam baik secara intelektual maupun politik. Mereka mendirikan banyak sekolah misionaris di wilayah Khilafah, rumah sakit dan universitas. Mereka juga membentuk organisasi rahasia yang mempromosikan nasionalisme Arab dan Turki untuk memisahkan Arab dari Turki; memprovokasi Turki untuk melepaskan wilayah Arab sebagai beban nasionalisme Turki. Di penghujung abad 19, baik bangsa  Turki maupun bangsa Arab sama-sama antusias mengusung nasionalisme ini.

Saat itu Khilafah Utsmaniyah dalam keadaan lemah. Khilafah gagal dalam mengantisipasi manuver Eropa dengan invasi intelektualnya. Para ulama pun lengah dalam melawan arus sekularisme Eropa. Akibatnya, Inggris dengan leluasa memprovokasi gerakan separatisme Arab untuk memberontak terhadap otoritas Turki, seperti Revolusi Arab yang dipimpin oleh perwira Inggris Lawrence of Arabia selama Perang Dunia I. Pada saat yang sama, kaum nasionalis Turki terus mendesakan agendanya di wilayah Arab yang membuat Arab semakin marah.

Dari sisi intelektual, Inggris menjadikan Mesir sebagai pusat penyebaran konsep filsafat sekular dan konsep politik Barat, termasuk fatwa yang dibuat oleh Muhammad Abduh. Di sisi lain, kalangan misionaris di Beirut Lebanon juga aktif menyebarkan agenda sekularisasi.

Semua ini berakhir dengan kejatuhan Khilafah Utsmani di Turki oleh Mustafa Kemal, seorang perwira pasukan Utsmani yang juga berlaku sebagai agen Inggris. Di tangan Mustafa Kamal, turki berubah dari Khilafah menjadi Negara Turki bercorak sekular-nasionalis.

Setelah Khilafah Ustmani runtuh, Inggris dan Prancis bersaing untuk merealisasikan impiannya, yaitu menyiapkan semua bentuk rencana untuk memastikan bahwa Negara Khilafah tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Rencana itu didasarkan pada prinsip devide et impera dengan menjalankan Perjanjian Sykes-Picot. Melalui perjanjian ini, bekas wilayah Kekhilafahan Ustmaniyah dipecah menjadi beberapa negeri mini yang tapal batasnya ditentukan oleh kekuatan kolonial. Islam pun dikeluarkan dari kebijakan publik. Mereka kemudian mempercepat sosialisasi dan penerapan ideologi sekular lengkap dengan gaya hidupnya.

Situasi ini dirangkum oleh Dr David Fromkin, seorang profesor dan ahli sejarah ekonomi dari Universitas Chicago, “Kekayaan Khilafah Ottoman menjadi harta rampasan perang. Namun perlu diingat, bahwa Islam selama berabad-abad berusaha menguasai Kristen Eropa. Maka dari itu, tidak aneh ketika nasib berbalik, Eropa ingin memastikan tidak akan ada lagi ancaman bagi dirinya. Dengan pengalaman merkantilis, Inggris dan Prancis membentuk negeri-negeri kecil yang tidak stabil, yang penguasanya memiliki ketergantungan supaya tetap bisa berkuasa. Negeri-negeri ini dikendalikan pembangunannya dan perdagangannya sehingga tidak akan pernah mampu menandingi Eropa.”

Bermunculanlah negeri-negeri kecil bercorak republik, emirat, kerajaan, nasionalis, revolusioner, atau marxis. Masing-masing memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu dipimpin oleh para tiran yang didukung oleh rezim Barat.

Inggris pun membentuk Negara Israel di Palestina yang menjadi ujung tombak untuk mempertahankan kepentingan Barat dalam menghadapi segala kemungkinan akan bangkitnya kembali Negara Khilafah.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here