Menolak Berdamai Dengan Israel - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, December 25, 2020

Menolak Berdamai Dengan Israel


Achmad Fathoni (Direktur El Harokah Research Center) 

Dikutip dari pikiran-rakyat.com (22/12/2020) muncul kabar rencana Amerika Serikat (AS) menjadi jembatan untuk menormalisasi hubungan antara Indonesia dengan Israel hingga saat ini masih terus berlangsung.

Kepala lembaga keuangan AS mengatakan negara Paman Sam itu dapat menggandakan portofolio hingga 1 miliar dolar AS, jika Indonesia mau menjalin hubungan dengan Israel.

Dilansir Pikiran-Rakyat.com dari laman Reuters pada Selasa, 22 Desember 2020, AS menjanjikan dana miliaran dolar untuk pembiayaan tambahan kepada Indonesia jika mau menjalin hubungan dengan Israel.

Upaya tersebut merupakan rencana Donald Trump agar negara-negara muslim membangun hubungan dengan Israel, sebelum dirinya lengser Januari 2021 mendatang.

Catatan:

Sebagai bukti keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, kita wajib menolak keras segala upaya jahat AS  untuk menormalisasi hubungan Israel di Indonesia. Faktanya, Israel masih terus menjajah dan memerangi umat Islam di Palestina. Karenanya, menurut hukum Islam, Israel merupakan kafir harbi fi'lan, yaitu kelompok kafir yang secara nyata memerangi umat Islam. Israel harus didudukkan sebagai musuh umat Islam seluruh dunia. Musuh tentu tidak layak diterima begitu saja di sebuah negeri Muslim seperti Indonesia. Seharusnya para pemimpin di negeri-negeri Muslim menyerukan pengusiran Israel dari bumi Palestina, sebagaimana halnya kita mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, mengobarkan jihad fi sabilillah merupakan satu-satunya opsi yang dibenarkan oleh syariah Islam.

Kita merindukan sosok pemimpin seperti Khalifah Sultan Abdul Hamid II, yang secara tegas dan berwibawa menolak upaya Theodore Hertzel, pemimpin Zionis Yahudi, untuk mendirikan negara Israel di bumi Palestina. Sebaliknya, pemimpin di negeri-negeri Muslim saat ini tidak ada yang berani melawan Israel, meski hanya dengan kata-kata sekalipun. Bahkan yang lebih parah dari itu, beberapa pemimpin negeri Muslim justru mengakui keberadaan Israel, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menerima kedatangan delegasi Parlemen Israel termasuk salah satu wujud pengakuan keberadaan Israel secara tidak langsung.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS al-Maidah [5]: 51).

Berdamai dengan Israel merupakan pengkhianatan atas perjuangan kaum Muslim Palestina. Saudara-saudara kita saat ini terus berjuang dengan gigih untuk membebaskan negerinya dari penjajahan Zionis yang didukung penuh oleh gembong penjajahan internasional di bawah pimpinan AS.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here