Perang Dan Kepalsuan Pihak Intelijen - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, December 17, 2020

Perang Dan Kepalsuan Pihak Intelijen


Ahmad Rizal (Direktur ELFIKRA)

Penjajahan modern belum berakhir. Secara umum pasca Invasi Amerika dan sekutunya atas Irak membuat negeri ini lemah dan tidak berdaulat. Perang AS atas Irak dilakukan atas dasar kebohongan mengenai senjata pemusnah massal (WMD) Saddam. Mereka membuat klaim palsu yang telah diumumkan oleh para pejabat Amerika dan pejabar senior Inggris untuk memanipulasi opini publik, agar bisa berperang, dan terlepas dari apakah WMD itu benar-benar ada.

Di antara pihak intelejen bagi sekutu adalah kesaksian pembelot Jenderal Hussein Kamel, menantu Saddam dan Kepala Program WMD Irak. Dia memberikan berpeti-peti dokumen bagi inspektur senjata PBB, serta kesaksian para pejabat mengenai sifat yang tepat dari program WMD bahwa Saddam telah memulai pada tahun sebelumnya. Dia bahkan dikutip oleh para pejabat senior sebagai seorang saksi kunci atas ancaman yang ditimbulkan oleh WMD milik Saddam itu. Kenyataannya, Jenderal Kamel telah memberitahu Inspektur PBB pada tahun 1995 bahwa Irak telah menghancurkan seluruh persediaan nuklir, senjata kimia dan biologi, dan rudal-rudal yang dilarang, pada tahun 1991, tak lama sebelum terjadinya Perang Teluk – persis sebagaimana yang dikatakan oleh Saddam.

Para perwira intelijen senior di MI6 dan CIA telah menegaskan bahwa intelijen sengaja dipolitisir untuk mendukung kesimpulan yang berlawanan dari apa yang mereka telah buat: “Anda tidak bisa hanya memetik ‘buah cheri’ yang sesuai dengan kasus Anda dan mengabaikan yang lain. Ini adalah aturan utama pihak intelijen. Namun, itulah yang dilakukan oleh Perdana Menteri.”

Pemerintahan Bush berencana dari awal untuk mendominasi Irak dengan melakukan pemecahan de facto berdasarkan etnik negara menjadi tiga wilayah otonom, wilayah etnis, yang terbagi masing-masing untuk Sunni, Kurdi dan Syiah. Pembagian ini merupakan faktor utama dari kekerasan saat ini dan perpecahan yang melanda negara itu. Majelis parlemen dan legislatif demokrasi Amerika yang didirikan Amerika di Irak mengubah negara itu menjadi negara faksi dengan pertikaian faksi yang permanen. Pemilu Irak tahun 2005 melembagakan perbedaan sektarian dan etnis tersebut.

Dalam menundukkan semua tantangannya, Amerika menyertakan baik Iran maupun Turki. Iran memulai Dewan Islam Irak (ISCI), suatu kelompok yang dibuat di Teheran dengan dukungan penuh pada tahun 1982. Abdel Aziz al-Hakim adalah pemimpin tertingginya sampai kematiannya pada tahun 2009, yang mengumpulkan faksi-faksi Syiah utama untuk mengambil bagian dalam pemerintah Irak bentukan AS, dimana AS meninggalkan dengan pemberontakan yang terjadi di sekitar Baghdad hanya karena persaingan. Turki memainkan peran sentral dalam memastikan arsitektur bentukan AS secara bersama-sama. Turki membawa kelompok-kelompok yang berbeda itu bersama-sama untuk membentuk pemerintahan dalam Pemilu yang berlangsung. Sebagaimana yang dikatakan seorang analis: “Turki telah lama memfasilitasi stabilitas politik di Irak dan setelahnya Ankara akan memainkan peran yang lebih penting dalam proses politik di Irak karena peran Ankara dalam politik Irak menyeimbangkan dampak Iran di Irak.”

AS dan sekutunya melakukan kehancuran total atas infrastruktur sipil Irak, baik dilakukan dengan menggunakan rudal dengan presisi tinggi maupun tidak, yang menyebabkan angka kematian yang tidak terhitung. Bekas-bekas pembantaian, pengeboman bus-bus, rumah-rumah yang dihancurleburkan, pasar-pasar yang dibakar, infrastruktur sipil yang diratakan dengan tanah dan lingkungan yang dibom masih ada di Irak hingga hari ini.

Penelitian epidemiologi yang paling ketat dari korban tewas penduduk sipil Irak dipublikasikan dalam review jurnal medis terkemuka Inggris Lancet, yang dilakukan oleh John Hopkins University Bloomberg School of Public Health. Diperkirakan ada 655.000 lebih banyak penduduk sipil Irak yang mati akibat perang, dengan menggunakan metode statistik standar yang banyak digunakan dalam komunitas ilmiah.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here