RESHUFFLE KABINET TEGASKAN TIADA KAWAN DAN LAWAN ABADI, PERCUMA BERDARAH-DARAH? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, December 25, 2020

RESHUFFLE KABINET TEGASKAN TIADA KAWAN DAN LAWAN ABADI, PERCUMA BERDARAH-DARAH?


 Oleh: Wahyudi al Maroky 
(Dir. Pamong Institute)

Setahun rezim Jokowi-Makruf menakhodai negeri ini. Kapal NKRI diterpa badai resesi ekonomi dan pandemi. Kapal semakin oleng karena “bocor-bocor” korupsi. Apalagi dua orang dekatnya (mentri KKP dan Mensos) ditangkap KPK karena Korupsi di akhir tahun ini. 

Mungkin bulan Desember kali ini bisa dibilang Desember kelabu. Bagaimana tidak, ada menteri KKP, kader terbaik Pak Prabowo dari Partai Gerindra ditangkap KPK. Juga ada Mensos Juliari Peter Batubara Kader terbaik PDIP yang juga ditangkap KPK. Ini tamparan keras bagi Jokowi dalam upaya memenuhi janji politik untuk memberantas korupsi. Sekedar mencegah orang dekatnya untuk tidak korupsi saja tak bisa. Bagaimana mau cegah yang lain? konon lagi mau Berantas Korupsi?

Di sisi lain, pada akhir tahun 2020 ini Jokowi mengumumkan reshuffle Kabinetnya. Ini merupakan kabar gembira bagi enam menteri baru yang akan bergabung dalam kabinet. Termasuk Sandi dan Risma yang masuk jajaran kabinet. Namun menjadi Desember kelabu bagi para menteri yang diganti dan para politisi yang gagal masuk kabinet. 

Masuknya Sandiaga Uno yang merupakan cawapres Prabowo ke dalam kabinet mendapat komentar dari politisi Nasdem Irma Chaniago. Menurutnya, penunjukan Sandi, sapaan akrab Sandiaga, membuat perjuangan partai politik yang tergabung di koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf menjadi percuma.

"Percuma kemarin saya dan teman-teman koalisi berdarah-darah di Pilpres [2019]," kata Irma kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/12).

Tentu saja banyak pihak yang merasa berkeringat, bahkan berdarah-darah untuk memenangkan jagoannya saat Pilpres 2019 lalu. Sebenarnya bukan hanya berkeringat dan berdarah-darah, ada juga yang sampai korban nyawa. Bukankah ada 894 petugas KPPS yang meninggal? Sayangnya mereka tak bisa lagi ikut bersuara dan ikut menikmati hasil pesta demokrasi itu.

Dari reshuffle enam menteri ini dapat kita berikan tiga catatan penting sbb; 

PERTAMA, Memang diperlukan pengisian jabatan dua menteri yang ditangkap KPK karena korupsi itu. Suka atau tak suka, memang perlu ditunjuk menteri untuk menggantikan dua menteri itu. Mereka berdua tak mungkin memimpin kementrian dari balik jeruji besi. Namun ini bukan opsi satu-satunya. Ada cara lain untuk tetap bisa melanjutkan program pemerintahan yang ada.

KEDUA, Opsi untuk Menggabungkan kementrian yang ada dengan kementrian lain. Ini pilihan yang lebih rasional jika berniat untuk melakukan efisiensi pemerintahan dan merampingkan birokrasi. Bukankah dulu kementrian sosial juga pernah dihapuskan? 

Dengan penggabungan kementrian akan menghemat anggaran negara. Minimal operasioanl menteri dan stafnya bisa dipangkas. Sedangkan birokrat yang lain tetap berjalan seperti biasa. Keuntungan berikutnya tidak perlu ada kasak kusuk kader Partai yang mengincar jabatan menteri tersebut. Ini mengurangi kegaduhan politik.

Namun yang jelas opsi penggabungan ini akan menggangu kepentingan para politisi yang mengincar kursi menteri itu. Semua berpulang kepada presiden karena mengisi jabatan menteri itu hak prerogatifnya. Kita lihat saja nanti.

KETIGA, Reshuffle yang dilakukan semakin menegaskan kentalnya kepentingan politik ketimbang layanan pemerintahan yang baik. Reshuffle ini juga membuktikan adagium politik sekuler; “Tak ada kawan abadi dan tak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”.  

Tak aneh jika saat ini Sandi menjadi bagian kabinet Jokowi. Ini mengikuti jejak Prabowo yang sudah duluan menjadi bagian Kabinet Jokowi. Padahal Probowo-Sadi adalah lawan Jokowi-Makruf saat pilpres 2019 lalu. Baru setahun lalu mereka menjadi lawan dan bertarung sengit melibatkan para pendukung masing-masing. Banyak yang berkeringat bahkan “berdarah-darah”. Lebih dari itu ada banyak dana dan korban nyawa. Menurut KPU, ada 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit. (kompas.com 22/1/2020).

Semuanya kini berakhir sudah, setahun lalu mereka menjadi lawan, kini mereka menjadi kawan. Duduk bersama dalam satu kapal pemerintahan dengan pemandangan indah berbagai pulau. Sesekali singgah menikmati pemandangan dan kekayaan yang berlimpah dipulau itu. Tak lupa harus sama-sama melunasi berbagai Utang politik saat pesta demokrasi lalu. Baik utang kepada Investor politik, utang kepada partai politik juga utang janji-janji kepada rakyat. Akankah mereka memenuhi janji-janjinya pada rakyat? Waktu jugalah yang akan menjawabnya.

Para pendukung semestinya bisa menarik pelajaran penting dari reshuffle ini. Ketika mendukung idolanya atau calon pemimpinnya saat pesta demokrasi jangan sampai berlebihan. Jangan sampai memutuskan silaturrahim dengan sesama saudara. Karena kalau anda sakit dan mati, yang mengubur jenazah adalah saudara dan tetangga, bukan pemimpin pujaan itu.

Bagi para pendukung Jokowi-makruf, yang dulu berjuang dan berkeringat bahkan konon sampai “berdarah darah” maka bersabarlah jika belum bisa jadi menteri. Itu pengalaman berharga agar kelak tidak perlu sampai berdarah darah. Tetap jaga kerukunan dan persatuan sesama anak bangsa.

Nasihat untuk para politisi, janganlah terlalu sering berjanji. Tapi jika sudah berjanji maka penuhi janji itu di dunia ini. jangan tunggu ditanggih di akhirat nanti. 
Bagi rakyat, bersabarlah menerima janji-janji dari politisi dan siapkanlah diri untuk menerima janji yang baru. Sangat berbeda dengan Janji-janji Ilahi dalam Kitab suci yang justru sering dilupakan dan lebih percaya pada janji para politisi. 

Sudah saatnya membuka kitab suci dan menyambut janji-janji Ilahi dengan memenuhi berbagai perintahNYA dalam kitab suci itu agar tak mudah kecewa. Jika menggantungkan harapan kepada manusia maka bersiaplah untuk kecewa. Maka jadikanlah Allah SWT sebagai satu-satunya tempat menggantungkan harapan. 
 
Semoga sesama anak negeri ini bisa menjaga persatuan. Tidak mudah terprovokasi dalam pesta demokrasi yang bisa memecah belah sesama anak negeri ini. Demi meraih kebaikan negeri ini dimasa depan. Aamiin.

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here