Saat Kedholiman Makin Brutal, Kejatuhan itu Tinggal Tunggu Waktu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, December 18, 2020

Saat Kedholiman Makin Brutal, Kejatuhan itu Tinggal Tunggu Waktu


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Semenjak keruntuhan Khilafah Utsmaniy pada 1924 M, kaum muslimin tidak lagi diatur dengan Syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya. Yang tersisa hanya dari aspek ibadah mahdhoh, makanan, minuman, pakaian dan akhlaq. Itupun sifatnya individual semata. 

Kapitalisme dengan turunannya menggantikan Islam. Akibatnya, politik menjadi opportunis, pemerintahannya demokrasi, sistem ekonominya liberal, sistem pendidikannya sekuler, sistem sosialnya hedonistik dan lainnya. 

Penerapan sistem kehidupan selain Islam adalah bentuk kedholiman tersebut. Kerusakan demi kerusakan terus terjadi. Bahkan kerusakan itu semakin menjadi brutal. 

Terjadi kerusakan itu akibat ulah tangan manusia. Manusia tidak lagi menjadikan halal haram sebagai standar hidupnya. Perbuatan dosa dan berbagai kejahatan dilakukannya baik sembunyi maupun terang-terangan. 

Saat ini eskalasi kerusakan itu hingga pada tataran membungkam kritik dan upaya-upaya mengembalikan Islam dalam kehidupan. UU ITE menjadi legitimasi guna mengkriminalisasi mereka yang kritis terhadap jalannya kekuasaan. Sementara itu bagi kalangan yang dekat dengan kekuasaan nyaris tidak tersentuh hukum. 

Kasus penistaan terhadap Islam kian marak. Para pelakunya masih melenggang, meski sudah dilaporkan. Abu Janda, Sukmawati, Ade Armando, dan lainnya, seperti kebal hukum.

Hal ini berbeda tatkala kita berbicara mengenai FPI dan HRS. HRS dijerat dengan tuduhan melakukan penghasutan dan pelanggaran prokes. Padahal HRS hanya melakukan dakwah dengan apa yang disebutnya sebagai Revolusi Akhlaq. Tentunya menjadi sumir tuduhan demikian. 

Menjadi sumir tatkala kita membandingkan dengan ribuan pelanggaran prokes di masa kampanye pilkada 2020. Bahkan euforia kemenangan pilkada juga tidak lepas dari kerumunan dan pelanggaran prokes. Belum lagi sangsi yang menjerat. HRS terancam hukuman penjara di atas 5 tahun. Ya, sangsi tersebut khusus untuk HRS.

Fragmen HRS tersebut harus didahului dengan tindakan biadab pembunuhan terhadap 6 orang anggota FPI pengawalnya. Yang semakin menyakitkan adalah konfirmasi kepolisian yang melakukannya.

Demikianlah kriminalisasi dan diskriminasi kepada Islam, ulama dan aktifisnya. Dengan tudingan berpaham radikal, kekuasaan yang ada menjadi penghadang kembalinya Islam ke panggung kehidupan. Di tahun 2017, BHP dari organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dicabut. Aktifisnya mengalami kriminalisasi. Hanya karena menyuarakan pembelaan pada muslim Uighur, Ali Baharsyah harus merasakan jeruji besi.

Bahkan alibi guna menjerat suara kritis dari kalangan ulama dan aktifis Islam hingga pada tataran yang tak masuk akal. Yang terbaru karena bercerita mimpi bertemu Rasul Saw, Ustadz Haikal Hasan dilaporkan ke polisi. Memang apa yang salah dengan mimpi? Bukankah mimpi bertemu Rasulullah Saw itu menjadi harapan setiap muslim? Tentunya kita bisa menemukan jawabannya karena pandangan politik Haikal Hasan berbeda dengan kekuasaan.

Fenomena permusuhan terhadap Islam dan ulamanya adalah Puncak dari gunung es. Upaya menutupi berbagai kerusakan penyelenggaraan negara dengan mengkriminalisasi Islam adalah Puncak kebrutalan.

Korupsi merajalela, utang yang semakin menggunung tembus sekitar 7000 trilyun rupiah, resesi ekonomi, kemiskinan meningkat, kegagalan menangani pandemi, gurita oligarki dan lainnya adalah borok-borok penyelenggaran negara. Anehnya negara berkonsentrasi memusuhi radikalisme. Parahnya radikalisme itu dialamatkan kepada Islam, ulama dan aktifisnya.

Bukankah kedholiman kepada Islam itu hanya akan menghasilkan kehancuran? Sejarah telah membuktikannya. 

Di Puncak kebrutalannya, Fir'aun mengancam akan membunuh Nabi Musa AS dan pengikutnya. Allah SWT tidak tinggal diam. Allah SWT menenggelamkan Fir'aun dan tentaranya di lautan. 

Begitu pula Namrudz. Di Puncak kebrutalannya, ia memerintahkan untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim AS. Allah SWT menyelamatkan Ibrahim AS. Sedangkan Namrudz pun binasa bersama kekuasaannya di hadapan kebesaran Allah SWT. 

Hal yang sama tidak terkecuali terhadap musuh-musuh dakwah Rasulullah Saw. Tatkala pembesar kafir Quraisy sudah mengancam membunuh beliau Saw, Allah SWT menyelamatkannya. Allah SWT memberikan kekuasaan pada Rasul saw. Selanjutnya dengan kekuasaan tersebut, Rasul Saw menghukum orang-orang yang keras permusuhannya pada Islam. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. Bangsa kafir Quraisy yang menjadi musuh bebuyutan Islam, takluk di bawah kekuasaan Rasul Saw. Bahkan kekuasaan Rasul Saw mampu menggoyahkan dan mengalahkan adidaya kekufuran saat itu, Romawi dan Persia. 

Demikianlah sejarah itu akan berulang. Tatkala kedholiman semakin menjadi brutal, kejatuhan itu hanya tinggal menunggu waktu. Kejatuhan itu pasti akan datang. Selanjutnya Fajar kemenangan Islam akan terbit. Kekuasaan Islam yang terwujud dalam institusi Khilafah akan menebarkan keadilan dan rahmat bagi seluruh alam. 

# 16 Desember 2020


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here