Sebelum Mata Pena Berkarat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 8, 2020

Sebelum Mata Pena Berkarat


Adam Syailindra (Koordinator FAR)

Pasca Khilafah Ustmani diruntuhkan agen Inggris 96 tahun yang lalu, Inggris dan Prancis saat itu menjadi adidaya yang bersaing untuk merealisasikan impiannya, yaitu menyiapkan semua bentuk rencana untuk memastikan bahwa Negara Khilafah tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Rencana itu didasarkan pada prinsip devide et impera dengan menjalankan Perjanjian Sykes-Picot. Melalui perjanjian ini, bekas wilayah Kekhilafahan Ustmaniyah dipecah menjadi beberapa negeri mini yang tapal batasnya ditentukan oleh kekuatan kolonial. Islam pun dikeluarkan dari kebijakan publik. Mereka kemudian mempercepat sosialisasi dan penerapan ideologi sekular lengkap dengan gaya hidupnya.

Situasi ini dirangkum oleh Dr David Fromkin, seorang profesor dan ahli sejarah ekonomi dari Universitas Chicago, "Kekayaan Khilafah Ottoman menjadi harta rampasan perang. Namun perlu diingat, bahwa Islam selama berabad-abad berusaha menguasai Kristen Eropa. Maka dari itu, tidak aneh ketika nasib berbalik, Eropa ingin memastikan tidak akan ada lagi ancaman bagi dirinya. Dengan pengalaman merkantilis, Inggris dan Prancis membentuk negeri-negeri kecil yang tidak stabil, yang penguasanya memiliki ketergantungan supaya tetap bisa berkuasa. Negeri-negeri ini dikendalikan pembangunannya dan perdagangannya sehingga tidak akan pernah mampu menandingi Eropa."

Bermunculanlah negeri-negeri kecil bercorak republik, emirat, kerajaan, nasionalis, revolusioner, atau marxis. Masing-masing memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu dipimpin oleh para tiran yang didukung oleh rezim Barat.

Inggris pun membentuk Negara Israel di Palestina yang menjadi ujung tombak untuk mempertahankan kepentingan Barat dalam menghadapi segala kemungkinan akan bangkitnya kembali Negara Khilafah.

Meskipun umat islam telah dikalahkan dan Khilafah dihancurkan, cahaya iman keislaman sebagai ideologi masih belum padam dari jantung dan pikiran sebagian mereka yang ikhlas. Ulama dan pemikir berusaha membangkitkan umat melalui dakwah, membangun gerakan untuk meredam arus pembusukan umat serta mengembalikan kemuliannya dengan menerapkan Islam sebagai pandangan hidupnya.

Sepanjang tahun 50-an, 60-an dan 70-an, mayoritas gerakan Islam berjuang tanpa kekerasan dan berhasil mempengaruhi masyarakat untuk mengendalikan hidupnya dengan Islam.

Namun, penindasan brutal oleh berbagai pemerintah menciptakan atmosfir kekerasan di Dunia Islam. Ini membuat sebagian gerakan islam mempromosikan militansi sebagai balasan terhadap penindasan dan juga menggunakan jalan kekerasan untuk mengambil-alih kekuasaan.

Dalam kondisi seperti ini, gerakan al- Jihad muncul di Mesir. Mayoritas anggotanya ditahan dan disiksa di penjara. Pada saat bersamaan, pada tahun 80-an perang jihad berkobar di Afganistan melawan kekuatan Komunisme Soviet. Kekalahan Soviet mengirim pesan bahwa Islam adalah alat yang efektif untuk mengembalikan wibawa umat dan membebaskan umat dari pendudukan kekuatan asing.

Kemudian, kudeta militer terhadap partai Islam FIS di Aljazair yang memenangkan Pemilu secara sah, membuat banyak pemuda Muslim percaya bahwa jihad adalah jalan keluar untuk kembalinya Islam, bukan dengan pemilu.

Menurut David Mason dalam bukunya, Akhir Abad Amerika, "Amerika tidak lagi berada dalam puncak kepemimpinan setelah menikmati puncak keemasan selama 50 tahun terakhir. Kini negeri ini telah bangkrut. Kita tidak lagi memimpin dalam politik, ekonomi dan sosial. Kita tidak lagi dikagumi orang dan tidak menjadi panutan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan politik seperti dulu. Jadi ini adalah pergeseran global baik bagi AS dan dunia."

Setelah keruntuhan Uni Soviet, kekuatan Barat membutuhkan Islam sebagai musuh baru  dan musuh eksternal untuk menggalang orang-orang Barat mecetuskan Perang Salib baru. Umat Islam dalam keadaan lemah sehingga mudah dituduh dan dilabeli teroris. Serangan 9/11  direncanakan dan dilaksanakan oleh CIA untuk menjustifikasi agresi Amerika untuk mencapai hegemoni global dengan alasan perang melawan terorisme. Sikap ini digunakan untuk menyerang dan menduduki Afganistan dan Irak. Ketika kebohongan tuduhan tentang senjata pemusnah massal Irak terungkap, pemerintah Amerika berubah haluan dengan menyatakan bahwa tujuan dari perang di Irak adalah untuk mempromosikan demokrasi, bukan untuk mencari senjata pemusnah massal.

Inilah bukti petualangan militer oleh Amerika yang seharusnya bisa menyadarkan umat Islam di seluruh dunia. Pemerintah Amerika terus merancang  berbagai pernyataan dan kebijakan untuk memenangkan pertarungan merebut hati dan simpati umat Islam. Namun, di balik itu semua kebohongan justru terungkap dari Amerika itu sendiri.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here