Akan Ada Seorang khalifah Yang Memberikan Harta Secara Berlimpah



M. Arifin (Tabayyun Center)

Gambaran sejarah khilafah adalah sejarah kemakmuran. Sebelum khilafah diruntuhkan, sultan Abdul Hamid II pada 1900 M berhasil membangun jaringan kereta api Hijaz dari Damaskus ke Madinah dan dari Aqaba ke Ma’an. Beliau juga membangun jaringan fax antara Yaman, Hijaz, Syiria, Irak dan Turki; lalu dihubungkan dengan jaringan fax India dan Iran. Semua itu diselesaikan hanya dalam dua tahun. Ini adalah potensi besar bagi kemajuan perekonomian, karena infrasruktur transportasi dan komunikasi sangat vital bagi kemajuan perekonomian.

Dalam dunia pendidikan, Khalifah Umar ibn al-Khaththab menggaji tiga orang guru yang mengajar anak-anak di Madinah 15 dinar (63,75 gram emas murni). M. Sharif menerangkan, pendidikan di Dunia Islam berkembang secepat kilat. Tidak ada satu kampung tanpa ada masjid, sekolah dasar dan menengah yang pertumbuhannya seiring pertumbuhan masjid. Prof. Ballasteros dan Prof. Ribera menerangkan bahwa sekolah-sekolah disediakan dekat sekali dengan semua anak-anak. Untuk mahasiswa disediakan berbagai sekolah tinggi, akademi dan universitas beserta para guru besarnya. Bahkan telah diketahui secara umum, dunia pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran, pada masa Abbasiyah telah berkembang sangat maju. Sekolah dari tingkat dasar hingga universitas dan berbagai fasilitas pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran dibangun secara modern dan disediakan sebagai fasilitas gratis untuk masyarakat. Di antara yang terkenal adalah universitas yang didirikan oleh al-Makmun dan perpustakaan Bait al-Hikmahnya, yang dilengkapi observatorium; Universitas Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizham al-Muluk wazir Sultan Alp Arsalan pada 1065 atau 1067 M; Madrasah Mustanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah al-Mustanshir (1226 – 1242 M) di Baghdad yang bebas biaya dengan fasilitas perpustakaan dan laboratorium dan fasilitas lainnya. Mahasiswanya dijamin kehidupannya dan masih diberi beasiswa satu dinar (4,25 g emas)/orang/bulan. Tidak boleh dilupakan adalah universitas Nuriah di Damaskus yang dirikan oleh Sultan Nuruddin Muhammad Zanki, dengan fasilitas lengkap. Perpustakaan pun menyebar di berbagai kota. Yang terkenal adalah perpustakaan Bait al-Hikmah di Baghdad, perpustakaan Darul Hikmah di Kaero dengan koleksi 1,6 juta buku, perpustakaan di Tripoli (2 juta lebih), perpustakaan al-Hakim (720 ribu judul lebih), 20 perpustakaan di Andalusia, perpustakaan Cordova (400 ribu judul lebih), perpustakaan Madrasah Fadliliyah (100 ribu) dan 6500 di antaranya tentang engginering dan astronomi di samping dua buah globe untuk Bathlimus dan Abul Hasan as-Sufi, sepuluh perpustakaan di Khurasan (masing-masing 12 ribu), perpustakaan Khizanatul Hakam ats-Tsani (400 ribu) dan masih banyak lagi. Wajar jika kemudian lahir ribuan ilmuwan, pioner dan penemu di berbagai bidang keilmuan dan terwujud kemajuan sains, teknologi dan pemikiran. Yang mengesankan, semua itu mempengaruhi renaissance Eropa. Hal itu seperti yang diakui oleh Philip K. Hitti, Prof. Ballasteros, Prof. Ribera, Svend Dahl, Sigrid Hunke, Lothrop Stoddard, Lucas H. Grollenberg dan cendekiawan Barat lainnya.

Tentang realisasi keadilan tanpa ada diskriminasi, Prof Brelvi menyatakan, “Pemerintah Abbasiyah sangat terbuka, seperti pemerintahan negara-negara modern di dunia saat ini, yang belum mampu melebihinya. Semua kantor pemerintahannya terbuka untuk rakyat Muslim dan non-Muslim secara sama.”

Al-Baladzuri melaporkan, keadilan Islam oleh kaum Muslim telah membuat rakyat Hims dan wilayah Syam umumnya lebih memilih hidup di bawah Khilafah. Keadilan itu pula yang membuat kaum Kristen Koptik malah membantu pasukan Amru bin al-‘Ash dalam pembebasan (futuhat) Mesir atas pemerintahan Bizantium yang Kristen. Karena keadilan itu pula Qadhi an-Najiy memvonis pasukan kaum Muslim yang sudah menaklukkan Samarqand tidak sesuai prosedur—yaitu tanpa menyerukan Islam dan jizyah terlebih dulu, yang lalu diprotes oleh penduduknya—harus keluar dan memulainya lagi sesuai prosedur. Hal itu membuat penduduk Samarqand justru memilih hidup di bawah Khilafah.

Keadilan Khilafah pulalah yang membuat kaum Yahudi Spanyol memilih tinggal di wilayah Khilafah setelah inkuisisi oleh Ratu Isabella. Hal yang sama juga membuat orang-orang Rusia memilih tinggal di wilayah Khilafah pasca Revolusi Bolchevik.

Masih banyak sekali catatan sejarah tentang kesejahteraan, kemakmuran, kemajuan, keberkahan dan kerahmatan yang sudah pernah diwujudkan oleh generasi kaum Muslim terdahulu.

Lalu bagaimana dengan kondisi dunia sekarang? Faktanya, sistem Kapitalisme hanya berhasil dalam mewujudkan kemajuan materi, sains dan teknologi. Sebaliknya, Kapitalisme pun berhasil meruntuhkan dan menghancurkan nilai-nilai moral, spiritual, kemanusiaan, keadilan, dan nilai-nilai luhur lainnya. Kapitalisme justru berhasil menciptakan malapetaka dan kesengsaraan, dekadensi moral, kekosongan spiritual, penindasan, penjajahan dan perbudakan. Karenanya, tuntutan kemanusiaan meniscayakan diterapkannya ideologi dan sistem yang bisa menjadi solusi, yang tidak lain adalah syariah dan Khilafah Islamiyah. Semua catatan kegemilangan di atas—tentu bukan demi romantisme—bisa membuat kita, kaum Muslim, percaya diri bahwa ke depan, dengan menerapkan sistem Islam dalam wadah Khilafah, kita akan mampu mewujudkan hal yang sama, bahkan lebih. Apalagi Rasul saw. telah memberikan bisyârah:

«يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا»

Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya. (HR Muslim).

Abu Said menuturkan, bahwa Rasul saw. juga pernah bersabda:

اِنَّ مِنْ اُمَرَائِكُمْ اَمِيْرًا يَحْثُوْ الْمَالَ حَثْوًا وَلاَ يَعُدُّهُ عَدًّا يَأْتِيْهِ الرَّجُلُ فَيَسْأَلُهُ فَيَقُوْلُ : خُذْ, فَيَبْسُطُ ثَوْبَهُ قَيَحْثُوْ فِيْهِ…فَيَأْخُذُهُ ثُمَّ يَنْطَلِقُ

Sungguh, di antara para pemimpin kalian ada seorang pemimpin yang memberikan harta secara berlimpah yang tidak terhitung, seseorang mendatanginya dan meminta harta kepadanya. Lalu pemimpin itu berkata, “Ambillah!” Kemudian orang itu menghamparkan pakaiannya dan pemimpin itu mencurahkan (harta/uang) di atasnya…Orang itu mengambilnya, lalu pergi. (HR Ibn Katsir dalam al-Bidâyah wa an-Nihayah)


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post