Amerika Bukanlah Satu Orang Biden!


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dunia baru saja menyaksikan, Biden akhirnya terpilih menjadi prisiden Amerika Serikat yang mengganti Trump. Banyak kalangan di seluruh dunia, termasuk Dunia Islam, menyambut gembira kemenangan Biden sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak kalangan berharap, Biden akan menyelamatkan Amerika Serikat dan membawa perubahan yang besar terhadap dunia. 

Banyak kalangan di AS menilai, kemenangan Biden adalah kemenangan ”perubahan”. ”Perubahan” bahkan menjadi tema utama yang berkali-kali disuarakan Biden di hadapan publik AS. Namun, dalam konteks politik luar negeri AS, khususnya terhadap Dunia Islam, harapan atas ”perubahan” kebijakan AS terhadap Dunia Islam tampaknya tidak bakalan terwujud. Ini bisa dilihat dari janji-janji ”perubahan” Biden saat kampanye, utamanya di bidang pertahanan dan luar negeri. 

Sepintas, memang ada beberapa janji perubahan ke arah positif yang dikatakan Biden seperti beralih dari unitelarisme ke politik multilateralisme, mengedepankan kerjasama dan diplomasi dan mempercepat perdamaian Timur Tengah, penyelesaian kasus pelanggaran HAM di berbagai negara. Namun, tentu saja itu hanya dalam tataran strategi politik, sama sekali tidak menyentuh paradigma politik AS yang imperialistik (bersifat menjajah). Pasalnya, AS tetaplah negara utama pengemban ideologi Kapitalisme, dan penjajahan/imperialisme adalah metode baku politik luar negerinya.

Karena itu, AS di bawah Biden sekalipun, tetap akan mendukung penjajahan Israel atas Palestina, misalnya. Namun perlu diingat Amerika bukanlah satu orang. Amerika adalah sebuah negara kapitalis dengan seperangkat kebijakan luar negeri kapitalis, yakni untuk menjajah negara-negara lain. Dengan cara itulah, negara itu senantiasa mencari cara untuk mempertahankan dominasinya di Dunia Islam dan terus melanjutkan agenda eksploitasi kapitalisnya.

Karena itulah, siapa saja yang menjadi presiden AS dan partai manapun yang berkuasa (Republik atau Demokrat) di AS, kebijakan AS dalam menghadapi negara-negara Islam akan tetap sama. Bedanya, jika Partai Republik berusaha meraih tujuan secara terang-terangan maka Partai Demokrat menginginkan hal yang sama, tetapi dengan cara yang lebih halus. Biden sangat memahami bahwa selama ini hegemoni AS terhadap dunia semakin pudar akibat pendudukan AS terhadap Irak yang tidak berdasarkan justifikasi yang kuat, di samping AS juga rugi besar di Irak. Karena itulah, Biden lebih fokus pada China demi kembali meraup dukungan penuh Eropa dan dunia. Rancangan inilah yang akan dijalankan oleh AS untuk kembali merias wajahnya di hadapan dunia setelah 4 tahun carut-marut akibat ’ulah’ Trump.

Namun demikian, dunia tidak boleh melupakan kejahatan AS di bawah Republik maupun Demokrat dalam hal mengintervensi (baca: menyerang) negara lain. Setelah Perang Dunia II saja AS—baik di bawah Republik maupun Demokrat—telah menyerang lebih dari 20 negara di seluruh dunia seperti Yunani (1947-1949), Italia (1948), Korea (1950-1953), Iran (1953), Guatemala (1954), Kongo (1960), Kuba (1961), Vietnam (1969-1975), termasuk negara-negara lain seperti Granada (1983), Libanon (1983), Libya (1958 dan 1983), Somalia (1991-1992), Afganistan (1998-2004), Sudan (1998), Serbia, dan terakhir Irak. Kebijakan AS yang barbar ini tentu akan terus berlangsung dan kontinu.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post