Bergegasnya Para Shahabat Mengangkat Seorang Khalifah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, January 23, 2021

Bergegasnya Para Shahabat Mengangkat Seorang Khalifah


M. Arifin (Tabayyun Center)

Ulama-ulama generasi awal Islam yang hidup di kurun terbaik telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap urusan kekhilafahan. Shahabat-shahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, ‘Ali ra dan shahabat-shahabat besar lainnya bergegas mengangkat seorang khalifah tatkala khalifah sebelumnya mangkat atau karena ada sebab-sebab syar’iy lainnya.

Mereka juga banyak meriwayatkan hadits-hadits yang berbicara tentang khilafah dan khalifah. 

“Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku, dan akan ada para khalifah, dan banyak (jumlahnya).” Para shahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi saw menjawab, “Penuhilah bai’at yang pertama, dan yang pertama. Dan Allah akan bertanya kepada mereka apa-apa yang mereka pimpin.” (HR. Muslim).

Para shahabat juga selalu menjaga eksistensi Khilafah Islamiyyah sepanjang hidup mereka. Jika seorang khalifah mangkat, kaum muslim harus segera mengangkat khalifah baru, sebagai bentuk manifestasi dari sabda Rasulullah saw, artinya, “Barangsiapa mati tanpa seorang imam, maka matinya, mati jahiliyyah.” [HR. Ahmad]

Mereka juga menuturkan sabda Rasulullah, “Jika kalian menyaksikan seorang khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika tidak ada khalifah, maka akan terjadi kekacauan.”[HR. Thabaraniy].

‘Umar bin Khaththab ra sendiri bahkan memilih sekelompok pemuda yang dipersenjatai dengan pedang untuk mengawasi tim formatur pemilihan khalifah yang dipimpin oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau ra berpesan kepada pemuda-pemuda tersebut untuk memenggal tim formatur jika dalam jangka 2 hari tiga malam mereka tidak berhasil mengangkat seorang khalifah. Padahal, anggota tim formatur tersebut adalah shahabat-shahabat yang telah dijamin masuk surga. Namun demikian, tak satupun shahabat mengingkari keputusan ‘Umar ini. Ini menunjukkan bahwa para shahabat rela mempertaruhkan segenap jiwanya untuk mengangkat seorang imam atau khalifah.

Sebagian shahabat-shahabat setelah periode khulafaur rasyidin memilih untuk tidak melepaskan dirinya dari penguasa-penguasa fasiq dan dzalim demi menjaga keutuhan dan kemashlahatan kaum muslim. Ini menunjukkan betapa mereka sangat memperhatikan urusan kekhilafahan dan berusaha menjaganya dengan sepenuh jiwa dan keyakinan. Dalam sebuat riwayat dituturkan bahwa Ibnu ‘Umar ra dan mayoritas ahlul bait termasuk orang-orang yang tidak menolak untuk membaiat Yazid bin Mua’awiyyah dan mereka tidak pernah membaiat seorangpun setelah mereka menyerahkan ketaatan kepada Yazid. Pendapat semacam ini juga dipegang oleh Mohammad bin Hanafiyyah.

Generasi kedua memiliki sikap yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya. Banyak riwayat menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap khilafah Islamiyyah. Perhatian yang sangat besar terhadap urusan pemerintahan ini telah mendorong mereka untuk selalu menjaga eksistensi dan kelanggengannya. Mereka tetap taat kepada para khalifah yang telah dibaiat oleh umat dan selama mereka memerintah dengan hukum-hukum Allah sw, meskipun kepribadian para khalifah tersebut buruk dan merusak.

Generasi kedua, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Mohammad bin Ismail, Mohammad bin Idris, Ahmad bin Nuh, Ishaq bin Raahawiyah, dan lain-lain memberikan perhatian yang sangat besar atas kelangsungan pemerintahan Islam. Mereka memahami bahwa tanpa khalifah, agama ini tidak akan sempurna. Untuk itu, mereka lebih memilih untuk memberikan ketaatan kepada khalifah fajir, semampang mereka masih menerapkan hukum-hukum Allah swt. Sebab, tatkala para khalifah masih menerapkan hukum Islam, maka kemashlahatannya adalah untuk dirinya dan kaum muslim. Sedangkan kefasikannya hanya membahayakan dirinya sendiri.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here