Biden Dan Imperialisme AS


Taufik S. Permana (Direktur Geopolitical Institute)

Joseph R Biden atau Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris telah resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden Amerika Serikat (AS). Keduanya telah mengambil sumpah menjadi orang nomor satu dan nomor dua di negeri adidaya itu pada Rabu (20/1/2021) siang di gedung parlemen The Capitol tepat pukul 12.00 waktu Washington DC.

Sebagaimana dikutip dari bbc.com Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, langsung bekerja membatalkan sejumlah kebijakan kunci Donald Trump, hanya beberapa jam setelah resmi dilantik. "Tidak bisa membuang waktu jika menyangkut penanganan krisis yang kita hadapi," cuit Biden dalam perjalanan menuju Gedung Putih menyusul pelantikannya. Presiden Biden sedang menandatangani 15 perintah eksekutif yang ditujukan untuk meningkatkan tindakan pemerintah federal terkait krisis virus corona. Tindakan Biden lainnya adalah membatalkan kebijakan Trump soal perubahan iklim, imigrasi, dan hubungan rasial.

Kebijakan Biden tentu masih dalam koridor ideologi kapitalime. Dalam politik luar negeri, Biden masih meneruskan kebijakan imperialistik dari pendahulunya. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan seluruh kamp Komunis Timur pada akhir abad terakhir, Amerika percaya bahwa ia memiliki kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengendalikan wilayah-wilayah poros di negara-negara Islam, yang berpusat di persimpangan pusat daratan dan lautan dunia. Tetapi pendudukan Amerika atas Afghanistan dan Irak, serta perangnya di negara-negara lain telah mengurasnya lebih dari yang diharapkan, sehingga menjadikannya tidak siap menghadapi kebangkitan Cina, dan pembaruan kebangkitan Rusia.

Biden memiliki rencana global yang komprehensif untuk operasi penempatan yang ia harap akan memungkinkannya untuk mengarahkan lebih banyak pasukan ke Asia, dan mengirim yang lain kembali ke Amerika Serikat dari luar negeri.

Banyak ahli mengatakan upaya ini sudah terlambat, mengingat kemajuan militer di China selama dua dekade terakhir, ketika Amerika fokus pada operasi kontra-terorisme di Irak, Afghanistan, Suriah dan di tempat lain. Namun, pada saat ketegangan meningkat dengan Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Iran, tidak jelas bagaimana perubahan besar dapat diharapkan.

Imperium Amerika, dan juga imperium Eropa telah melakukan perluasan pengaruh pada abad ke-19, dengan membangun kekuatannya pada eksploitasi besar-besaran, yang menggunakan slogan-slogan palsu dan tidak bermakna, seperti kebebasan dan demokrasi, untuk menyembunyikan niat sebenarnya yang tak terhindarkan pasti akan menuai reaksi keras dari masyarakat yang didominasi dan dizaliminya. 

Kebijakan luar negeri Barat akan tetap berpusat di sekitar penjajahan, dan kebutuhan untuk mendominasi seluruh dunia dalam rangka mengeksploitasi kekayaan dan sumber daya alamnya untuk kepentingan para elit Barat. Tapi, insya Allah, umat manusia akan segera melihat kembalinya negara yang hanya berusaha mengembalikan perdamaian, keadilan, dan kemakmuran bagi dunia seperti sebelumnya.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post