Cacat Sistem Bursa Saham - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 27, 2021

Cacat Sistem Bursa Saham


Yuli Sarwanto (Direktur FAKTA)

Sistem kapitalisme rentan krisis. Sumber krisis global datangnya dari pilar-pilar yang menjadi penopang sistem ekonomi Kapitalisme, di antaranya adalah pasar non-riil (virtual market) tempat diperdagangkan-nya surat-surat berharga dan surat kontrak di pasar berjangka. Uang dijadikan sebagai komoditi yang diperjualbelikan di pasar uang. Begitu besarnya uang berputar di pasar uang hingga mencapai triliunan dolar dalam satu hari, tetapi inflasi tinggi dan uang kas langka sampai bank tidak bisa memberikan kredit ke sektor riil. 

Pilar lainnya yang juga tak kalah berbahayanya adalah diterapkannya sistem perbankan ribawi yang nyata-nyata membebani bahkan mencekik para debitor dengan bunga kredit di sektor riil. Di situlah letak kebobrokannya.

Sedangkan kerusakan sistem bursa saham terletak pada sistem perdagangan yang diberlakukan di bursa. Transaksi-transaksi yang terjadi di sana tidak memenuhi syarat akad yang sah menurut syariah Islam. Jadi transaksi tersebut batil. Ditambah lagi bahwa transaksi di lantai bursa sangat sarat dengan spekulasi para pialang.

Jual-beli dalam pasar saham ini bukanlah jual-beli sesungguhnya. Sebab, tidak ada unsur serah-terima diantara kedua pihak yang bertransaksi. Padahal syarat jual-beli adalah adanya serah terima dalam barang yang disyaratkan ada serah-terima barang dagangan dan pembayarannya atau salah satu dari keduanya. Penjualan dalam pasar ini adalah penjualan sesuatu yang tidak dimiliki, baik itu berupa mata uang atau barang komoditi komersial, dengan harapan akan dibeli di pasar sesunguhnya dan diserahterimakan pada saatnya nanti.

Pembeli dalam pasar ini kebanyakan membeli dan menjual kembali barang yang dibelinya sebelum dia terima. Orang kedua itu juga menjualnya kembali sebelum dia terima. Demikianlah, jual-beli ini terjadi secara berulang-ulang terhadap satu obyek jualan sebelum diterima, hingga transaksi itu berakhir pada pembeli terakhir yang bisa jadi sebenarnya ingin membeli barang itu langsung dari penjual pertama yang menjual barang yang belum dia miliki, atau paling tidak menetapkan harga sesuai pada hari pelaksanaan transaksi, yakni hari penutupan harga. Peran penjual dan pembeli selain yang pertama dan terakhir hanya mencari keuntungan lebih jika mendapatkan keuntungan saja, dan melepasnya jika sudah tidak menguntungkan pada waktu tersebut, persis seperti yang dilakukan para pejudi.

Yang dilakukan oleh para pemodal besar adalah memonopoli saham dan sejenisnya serta barang-barang komoditi komersial lain di pasaran agar bisa menekan pihak penjual yang menjual barang-barang, yang tidak mereka miliki, dengan harapan akan membelinya pada saat transaksi dengan harga lebih murah, atau langsung melakukan serah-terima sehingga menyebabkan para penjual lain merasa kesulitan.

Sesungguhnya bahaya pasar modal semacam ini berpangkal pada dijadikannya pasar ini sebagai pemberi pengaruh pasar dalam skala besar. Sebab, harga-harga dalam pasar ini tidak sepenuhnya bersandar pada mekanisme pasar semata secara praktis dari pihak orang-orang yang butuh jual-beli, namun justru terpengaruh oleh banyak hal; sebagian di antaranya dilakukan oleh para pemerhati pasar, sebagian lagi berasal dari adanya monopoli barang dagangan dan kertas saham, atau dengan menyebarkan berita bohong dan sejenisnya. Di sinilah tersembunyi bahaya besar menurut tinjauan syariah. Sebab, cara demikian menyebabkan ketidakstabilan harga secara tidak alami sehingga berpengaruh buruk sekali pada perekonomian yang ada.

Sekadar contoh: sebagian besar investor sengaja melempar sejumlah kertas saham sehingga harganya menjadi jatuh karena terlalu banyak penawaran. Pada akhirnya para pemilik saham kecil-kecilan bergegas menjualnya kembali dengan harga murah sekali, karena khawatir harga saham-saham itu semakin jatuh sehingga mereka semakin rugi. Dengan adanya penawaran mereka itu, mulailah harga saham itu terus menurun sehingga para investor besar itu berkesempatan membelinya kembali dengan harga lebih murah dengan harapan akan bisa meninggikan harganya dengan banyaknya permintaan. Pada akhirnya para investor besarlah yang beruntung, sementara kerugian besar-besaran harus ditanggung investor kecil-kecilan, sebagai akibat dari perbuatan investor besar yang berpura-pura melempar kertas-kertas saham itu sebagai ikutan. Hal itu pun terjadi di pasar komoditi.

Karena akar krisis ekonomi saat ini terletak pada penerapan sistem ekonomi Kapitalisme, maka satu-satunya cara yang paling mendasar untuk memperbaikinya adalah dengan mencabut sistem ekonomi Kapitalisme dan menggantinya dengan sistem lain, yaitu sistem ekonomi Islam yang datang dari Allah Yang Maha Pencipta.

Sebagaimana sistem ekonomi Kapitalisme yang tegak di atas fondasi sistem pemerintahannya, maka sistem ekonomi Islam pun hanya bisa tegak di atas fondasi yang sangat kuat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here