Cacat Sistem


Lukman Noerochim (Stafsus FORKEI)

Kelambanan penanggulangan covid-19 dan krisis ekonomi masih melanda belahan dunia, terutama yang menimpa negara utama pengusung ekonomi kapitalis, yakni AS, menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam sistemnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis ekonomi yang terjadi bukan sekadar karena persoalan teknis ekonomi, tetapi lebih karena pondasi ekonomi Kapitalisme yang rapuh.

Ada tiga sebab yang membuat ekonomi kapitalis kini mati suri. Pertama: sistem ekonomi kapitalis telah menyingkirkan emas sebagai cadangan mata uang, kemudian menjadikan dolar AS sebagai pendamping mata uang di negara-negara dunia. Akibatnya, goncangan ekonomi sekecil apapun di AS akan menjadi pukulan yang telak bagi perekonomian negara-negara lain. Sebab, sebagian besar cadangan devisa negara-negara di dunia di-cover dengan dolar AS yang nilai intrinsiknya tidak sebanding dengan kertas dan tulisan yang tertera. Karena itu, selama emas tidak menjadi cadangan mata uang, krisis ekonomi akan terus terulang.

Kedua: hutang-hutang ribawi alias bunga-berbunga telah menciptakan masalah perekonomian yang besar. Bahkan kadar hutang pokoknya terus menggelembung sesuai dengan prosentase bunga yang berlaku sehingga menyulitkan negara/individu mengembalikan pinjamam. Krisis pengembalian pinjaman itu membuat roda perekonomian berjalan lambat.

Ketiga: cacatnya sistem yang digunakan di bursa dan pasar modal, yakni transaksi jual-beli saham, obligasi dan komoditi yang tidak disertai dengan adanya syarat serah-terima komoditi yang bersangkutan; bahkan bisa diperjualbelikan berkali-kali tanpa harus mengalihkan komoditi tersebut dari tangan pemiliknya yang asli. Ini adalah sistem yang jelas menimbulkan masalah. Semuanya itu memicu terjadinya spekulasi karena untung-rugi melalui cara penipuan dan manipulasi.

Di samping itu, adanya produk derivat (turunan) seperti obligasi kolateral dari hutang (collateralised debt obligations), obligasi hutang pembelian rumah (mortgage debt obligations), penukaran kredit jatuh tempo (credit default swaps), semuanya itu, menurut Ismail, merupakan sumber terjadinya kegagalan kredit yang  makin memperumit keadaan.

Sebab lain yang membuat hancurnya sistem ekonomi kapitalis adalah kesalahaan memahami fakta kepemilikan. Di mata para pemikir Timur dan Barat, kepemilikan umum adalah kepemilikan yang dikuasai negara, sedangkan  kepemilikan pribadi merupakan kekayaan yang dikuasai kelompok tertentu.

Sesuai dengan teori Kapitalisme liberal yang bertumpu pada pasar bebas, privatisasi, ditambah dengan globalisasi, negara tidak bisa mengintervensi kepemilikan. Akibat kesalahan memahami fakta kepemilikan, terjadilah goncangan dan masalah ekonomi.

Padahal makna kepemilikan bukan sesuatu yang dikuasai negara atau kelompok tertentu. Setidaknya ada tiga macam bentuk kepemilikan. Pertama: kepemilikan umum; meliputi semua sumber, baik yang keras, cair maupun gas, seperti minyak, besi, tembaga, emas dan gas; termasuk semua yang tersimpan di perut bumi, dan semua bentuk energi, juga industri berat yang menjadikan energi sebagai komponen utamanya. Dalam hal ini, negara harus mengekplorasi dan mendistribusikan ke rakyat, baik dalam bentuk barang maupun jasa. Kedua: kepemilikan negara. Kepemilikan ini diambil negara dari pajak, hasil perdagangan, industri dan pertanian di luar kepemilikan umum. Terakhir: kepemilikan pribadi; kepemilikan ini bisa dikelola individu sesuai dengan hukum syariah.

Kehancuran Sosialisme dan Kapitalisame antara lain karena keduanya menjadikan kepemilikan-kepemilikan ini sebagai sesuatu yang dikuasai negara atau kelompok tertentu (pribadi).  Sosialisme gagal dalam bidang ekonomi, karena menjadikan semua kepemilikan dikuasai negara. Sosialisme berhasil dalam perkara yang memang dikuasai negara, seperti industri berat, minyak dan sejenisnya; namun gagal dalam perkara yang seharusnya dikuasai individu, seperti umumnya pertanian, perdagangan dan industri menengah.

Begitu juga yang dialami Kapitalisme. Kehancuran Kapitalisme antara lain karena menjadikan individu, perusahaan dan institusi berhak memiliki apa yang menjadi milik umum, seperti minyak, gas, semua bentuk energi dan industri senjata berat sampai radar. Sebaliknya, negara tetap berada di luar pasar dari semua kepemilikan tersebut. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari ekonomi pasar bebas, privatisasi dan globalisasi.

Akhirnya terbukti, sistem Kapitalisme yang selama ini mengatur ekonomi dunia mengalami goncangan yang sangat besar; dimulai dari rontoknya pasar modal, kemudian menjalar ke sektor lain.

Kini sistem Kapitalisme sedang menderita penyakit demam yang parah. Obat yang diberikan dokter-dokter ekonomi harganya sangat mahal, bahkan tidak menjamin kesembuhan. Yang terjadi justru makin membuat perasaan panik. Inilah akhir sistem Kapitalisme, menyusul kematian sistem Sosialisme.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post