Islam Tidak Toleran Atas Perbuatan Keji Untuk Wujudkan Masyarakat Bersih


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Islam sebagai agama yang sempurna mengatur semua aspek kehidupan manusia. Walhasil dengan penerapan Islam secara paripurna akan bisa menghasilkan kesejahteraan. Masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang bersih. 

Masyarakat yang bersih tidak tersebar di dalamnya hal-hal yang keji dan maksiat. Individu-individunya berusaha semaksimal mungkin menghindari perbuatan keji dan maksiat.

Menyebarkan konten yang mengandung perbuatan keji seperti pornografi, pornoaksi, perzinaan dan termasuk pula hubungan intim suami istri, diancam oleh Allah SWT dengan adzab yang pedih. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT di dalam firmanNya berikut ini. 

انّ الذين يحبّون ان تشيع الفاحشة في الذين آمنوا لهم عذاب اليم في الدنيا والاخرة

Sesungguhnya orang-orang yang senang untuk menyebarkan kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman, maka bagi mereka adalah adzab yang pedih dalam kehidupan dunia dan akherat (QS An-Nur ayat 19).

Jadi di dalam ayat tersebut Allah dengan keras mengancam bagi para penyebar kekejian dan keburukan. Di dunia tentunya ada sangsi yang akan diberikan negara yakni berupa takzir. Takzir yang ditetapkan berupa hukuman cambuk dengan kadar yang bisa memberikan efek jera. Jumlah kadar cambuknya sama dengan had qadzaf yakni 80 kali cambukan. Di akherat ada adzab yang pedih menanti.

Sedangkan yang termasuk menyebarkan kekejian adalah menyebarkan beritanya, termasuk konten videonya ataupun yang lainnya. Larangan menyebarkan tersebut bertujuan agar perbuatan keji tersebut tidak dianggap sebagai hal yang biasa. Di samping mencegah orang untuk mengikuti pelanggaran yang serupa.

Tidak bisa dinyatakan bahwa dengan alasan konten porno tersebut untuk konsumsi pribadi lantas ada semacam privilege untuk memproduksinya. Sesungguhnya individu-individu di dalam masyarakat Islam akan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Bukankah Nabi Saw pernah menyatakan dalam haditsnya sebagai berikut ini. 

من حسن اسلام المرء تركه مالا يعنيه
Artinya: Termasuk bagian dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang bermanfaat baginya.

Termasuk hal-hal yang tidak bermanfaat adalah merekam hubungan intim di antara suami istri. Hukum merekam hubungan intim pasutri adalah makruh. Lebih baiknya tidak dilakukan. Di samping merupakan tanda kebaikan Islam seseorang adalah tidak melakukannya, terbuka potensi untuk tersebarnya konten porno tersebut di tengah-tengah masyarakat. Bisa jadi karena kelalaiannya, konten porno yang dibuatnya tersebut tersebar. Dan atau hp dan alat perekam lain yang digunakannya hilang. Tentu saja dalam hal ini ia secara tidak langsung ikut andil dalam menyebarkan konten yang berbau porno. Apalagi kalau sengaja menyebarkannya.

Adapun konten porno yang direkamnya dari aktifitas perzinaan yang dilakukannya maka tentu saja jelas keharamannya. Berzina itu haram. Merekam perzinaannya berarti merekam keharaman maka hukumnya adalah haram. Tidak bisa kemudian beralasan kalau hasil rekamannya tersebut untuk kepentingan pribadi. 

Maka para pelaku perzinaan tersebut memang harus dibuktikan bahwa konten tersebut adalah benar-benar dilakukannya. Bila terbukti, baik melalui pengakuan, ataupun saksi-saksi maka akan diberlakukan had perzinaan atas mereka. Had bagi pezina muhson atau yang sudah pernah menikah adalah dirajam sampai mati. Sedangkan had bagi pezina ghoiru muhson (belum pernah menikah) adalah dicambuk 100 kali.

Begitu pula semua konten pornografi dan pornoaksi yang sengaja diproduksi untuk kepentingan bisnis maka itu semua adalah pelanggaran. Sangsi takzir yang tegas akan dikenakan pada pelaku dan penyebarnya. 

Had atau sangsi bagi para penyebar kekejian dan para pelaku pornografi, pornoaksi, maupun perzinaan tidak mensyaratkan Islam dalam penerapannya. Artinya bila pelaku adalah non muslim, maka had tersebut tetap diberlakukan. Dengan demikian ada ketegasan sangsi yang mampu menjamin kebersihan masyarakat.

Demikianlah sistem Islam yang mampu menjamin terbentuknya masyarakat yang bersih. Ketaqwaan individu, kontrol sosial dan negara yang menerapkan Islam menjadi pilar masyarakat Islam yang bersih.

Hal demikian berbeda dengan sistem sekuler. Atas nama kebebasan berperilaku, aksi pornografi, pornoaksi dan perzinaan menghiasi kehidupan masyarakat. 

Kesimpulannya, untuk mewujudkan masyarakat yang bersih, Islam tidak akan bertoleransi dengan semua bentuk perbuatan keji. Walhasil hanya Islam yang akan mampu memberantas semua bentuk pornografi, pornoaksi dan perzinaan. 

# 08 Januari 2021


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post