Jalan Baru Politik Islam di Tengah Persaingan AS-China


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Kawasan Laut China Selatan masih tidak sepi dari konflik kepentingan. Yang kentara di permukaan adalah persaingan dagang antara AS dan China. China sendiri berusaha untuk menjadi raksasa ekonomi di kawasan. Sedangkan AS sendiri tidak ingin kehilangan kontrol khususnya di wilayah Asia Tenggara.

AS melihat China tidak sekedar dengan ambisi ekonominya, lebih dari itu ada potensi memberi tekanan militer dan politik terhadap negeri-negeri di sekitar kawasan. Tentu yang menjadi barometer wilayah Asia Tenggara adalah Indonesia. Di antara negeri ASEAN, Indonesia memang paling berpengaruh. Hal demikian bisa dipahami dari perwakilan Singapura pada diskusi virtual baru-baru ini. Indonesia diberi pesan agar ikut memperkuat kerjasama di kalangan negara ASEAN. Mengingat di kawasan Asia Tenggara secara khusus menjadi ajang persaingan antara AS-China.

ASEAN disebut-sebut harus bisa bersikap netral dalam menyikapi persaingan antara AS vs China tersebut. Tidak boleh berat sebelah. Hanya mau menjalin kerjasama dengan China atau AS saja. Negara anggota ASEAN bisa bekerjasama dengan AS maupun China. Semuanya dilakukan untuk kepentingan regional anggota ASEAN sendiri.

Pada semester kedua 2020, ada forum ASEAN+3. ASEAN+3 merupakan wadah kerjasama antara negara ASEAN dengan China, Jepang dan Korea. Fokus utama kerjasamanya adalah penguatan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

Sementara itu bagaimana hubungan kerjasama antara negara ASEAN dengan AS? Indonesia sendiri terikat dengan perjanjian komprehensif dengan AS melalui program CDCS 2020-2025. USAID sebagai lembaga internasional PBB memainkan peran strategis dalam hal ini. 4 fokus utama adalah efektifitas pemerintah, SDM (pendidikan dan kesehatan), pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan lingkungan hidup.

Politik negara-negara ASEAN sedemikian tentu saja hanya menjelaskan bahwa ASEAN kedua kakinya berada di dua kutub yang berbeda. Bahkan bisa dinilai bahwa pesan penguatan kerjasama ASEAN ini, apalagi perwakilan Singapura yang berpesan ada muatan guna mengurangi condongnya ASEAN kepada kubu China. Apalagi secara khusus Indonesia yang diminta ikut aktif dalam memperkuat kerjasama di antara anggota ASEAN. 

Tidak berlebihan sih jika menilik fenomena akhir-akhir ini. Pemerintah Indonesia yang memborong vaksin China, kasus Natuna, termasuk ditemukannya drone bawah laut yang disinyalir milik China di wilayah perairan Indonesia. Dikuatirkan hal tersebut menjadi tekanan politik tersendiri buat Indonesia.

Terlihat sekali bahwa saat ini negeri-negeri Islam tidak bisa mandiri. Mereka tidak bisa menentukan dengan negara mana mereka harus bekerja sama maupun memutuskan hubungan kerjasama. Walaupun negeri-negeri Islam itu banyak dan jumlah penduduknya besar, tetap tidak berdaya. Ditambah lagi di dalam wadah organisasi antara negara, mereka harus terikat dengan mekanisme organisasi.

Sesungguhnya jika melihat realitas pemetaan kawasan Asia Tenggara akan sangat terlihat terjepitnya Indonesia. Indonesia itu sebuah wilayah besar di Asia Tenggara yang selalu dalam pantauan. Negara-negara satelit Inggris maupun AS mengawasinya. Malaysia, Brunei, juga Australia merupakan negara persemakmuran Inggris. Sedangkan Singapura sendiri menjadi satelit AS. Artinya keberadaan Indonesia dipertahankan agar tidak menjadi satelit negara mana saja. Indonesia diposisikan tetap sebagai negara pengekor. Indonesia tidak boleh independen dalam polugri bahkan hingga politik dalam negerinya.

Sudah saatnya negeri-negeri Islam mengambil jalan politiknya sendiri. AS yang saat ini sekarat menjadi The Sick Man, tidak akan banyak berkonspirasi. Mengingat tragedi Capitol Hill baru-baru ini mencoreng mukanya. Tidak pula negeri Islam menjadi ramah dengan negara-negara Komunis. 

Politik yang melarang negeri-negeri Islam menjadi bulan-bulanan negara imperialis. Politik Islam akan menjadi jalan baru itu. 

Negeri-negeri Islam harus segera membuang sekat-sekat primordialisme yang ada di negerinya masing-masing. Dunia Islam mesti bersatu. Maka keniscayaan menggabungkan beberapa negeri Islam menjadi terbuka. 

Negeri-negeri Islam yang terbelenggu negara imperialis harus dibantu untuk bisa bebas. Negeri Islam lainnya harus kuat independensinya. Maka ironis memang, menggabungkan negeri Islam dengan negeri-negeri lain yang notabenenya adalah satelit negara lain. Tentu saja harapan independensi masih jauh dari harapan. 

Selanjutnya, negeri-negeri Islam harus berani bersepakat mengambil Islam sebagai ideologi. Keberanian untuk mencampakkan ideologi negara penjajah. Dengan begitu, dunia Islam akan mampu mengelola kekayaannya secara mandiri. Keadaan ekonomi dunia Islam akan menuju kesejahteraannya. 

Demikianlah jalan baru politik Islam bagi negeri-negeri Islam. Jalan baru ini akan disempurnakan dengan tegaknya Khilafah di tengah-tengah dunia Islam. 

# 13 Januari 2021


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post