Jejak Islam: Pengkondisian Keamanan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 27, 2021

Jejak Islam: Pengkondisian Keamanan


Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)

Dalm konteks Islami, keamanan dan stabilitas dalam negeri suatu negara memainkan peran yang sangat penting. Perekonomian yang menjadi urat nadi kehidupan rakyat tidak akan berjalan dengan baik jika keamanan dan stabilitas dalam negeri kacau dan terganggu. Jihad yang menjadi kewajiban negera dalam mengemban dakwah ke seluruh dunia juga tidak mungkin dilakukan dengan sempurna jika keamanan dan stabilitas dalam negeri belum terkendalikan. Bagaimana mungkin para prajurit akan berjihad secara maksimal jika pikirannya terus dihantui oleh keadaan keluargannya yang tengah terancam kaamanannya.

Untuk itu, diperlukan sebuah departemen dan organ fungsionalnya yang secara khusus menangani keamanan dan stabilitas dalam negeri. Departemen apakah itu dan apa organ fungsionalnya? Telaah Kitab kali ini akan membahas Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam Pasal 70, yang berbunyi: “Departemen Keamanan Dalam Negeri menangani semua bentuk ancaman dan gangguan keamanan, mencegah segala hal yang dapat mengancam keamanan dalam negeri, menjaga keamanan di dalam negeri melalui kepolisian dan tidak diserahkan kepada militer kecuali dengan perintah dari Khalifah. Pemimpin departemen ini disebut Direktur Keamananan Dalam Negeri. Departemen ini memiliki cabang di setiap wilayah yang disebut Direktorat Keamanan Dalam Negeri, dan kepalanya disebut Kepada Kepolisian Wilayah.” Juga Pasal 71, yang berbunyi: “Kepolisian ada dua jenis: kepolisian militer yang berada di bawah Amirul Jihad atau Departemen Perang; kepolisian yang ada di bawah penguasa untuk menjaga keamanan, yang berada di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri. Kedua jenis kepolisian tersebut diberi pelatihan khusus dengan tsaqâfah khusus yang memungkinkan mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dengan baik (Hizbut Tahrir, Masyru' Dustur Dawlah al-Khilafah, hlm. 19-20).

Depkamdagri merupakan departemen yang menangani semua bentuk ancaman dan gangguan keamanan, juga menjaga stabilitas dan keamanan dalam negeri melalui satuan kepolisian. Berikut ini contoh pencegahan dan pengkondisian keamanan yang dilakukan oleh Depkamdagri dan organ fungsionalnya, yaitu kepolisian.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Ali bin Abi Thalib. Ali berkata:

Rasulullah saw. pernah mengutusku bersama Zubair dan Abu Murtsid. Masing-masing dari kami menunggang kuda. Rasulullah saw bersabda, “Berangkatlah kalian hingga sampai di Kebun Hâj (Begitulah yang dikatakan Abu Awanah dan dalam riwayat lain disebut Kebun Khakh) karena di kebun itu terdapat seorang wanita yang tengah membawa surat dari Hatib bin Abi Balta’ah kepada kaum musyrik. Bawalah wanita itu kepadaku.”

Lalu kami berangkat menunggang kuda kami masing-masing hingga kami menjumpai wanita tersebut, seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Wanita itu berjalan menunggang unta. Hathib menulis surat kepada penduduk Makkah yang isinya memberitahukan tentang keberangkatan Rasulullah saw ke Makkah. Kami pun bertanya kepada wanita itu, “Di mana surat yang engkau bawa?” Wanita itu menjawab, “Aku tidak membawa surat.”

Lalu kami menambatkan untanya dan menggeledah hewan tunggangannya. Kami tidak menemukan surat yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. Dua orang temanku berkata: “Kami tidak melihat surat bersama dia.” Aku berkata, “Sungguh, kami tahu bahwa Rasulullah saw. tidak berbohong.”

Kemudian Ali pun bersumpah: “Demi Allah, engkau mengeluarkan surat itu atau engkau akan kami telanjangi.” Akhirnya, wanita itu menunjuk ke arah pinggangnya. Ia mengenakan ikat pinggang dari kain. Lalu wanita itu mengeluarkan surat itu. Kami kemudian membawa wanita itu berserta suratnya kepada Rasulullah saw. (Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 80).

Dalam Mushannaf Abdur Razzaq diriwayatkan dari Ibnu Uyainah dari Ismail bin Abi Khalid yang berkata bahwa Aku mendengar Abu Amr asy-Syaibani mengatakan:

كَانَ عبدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ: يَعُسُّ الْمَسْجِدَ فَلا يَدَعُ فِيهِ سَوَادًا إِلا أَخْرَجَهُ إِلا رَجُلا مُصَلِّيًا

Ibnu Mas’ud berpatroli menjaga dan mengelilingi masjid setiap malam. Ia tidak membiarkan seorang pun kecuali mengeluarkan dia dari masjid selain dari orang yang sedang shalat.

Kata ‘assa ya’ussu artinya ronda (berpatroli) pada malam hari untuk mengamati pergerakan para pencuri, mencari para pembuat keonaran dan siapa saja yang dikhawatirkan kejahatannya. Abdullah bin Mas’ud adalah komandan petugas patroli pada masa Khaifah Abu Bakar. Pada masa Umar bin al-Khaththab, maka beliau melakukan sendiri kegiatan patroli ini.

Di dalam negara Khilafah yang tidak lama lagi akan tegak kembali dengan izin Allah, maka Depkamdagri akan mengirim polisi untuk melakukan patroli ke pemukiman-pemukiman, kampung-kampung, pasar-pasar dan jalan-jalan raya untuk menjaga harta benda (properti) milik masyarakat seperti rumah, warung, toko dan lain-lainnya. Semua ini adalah tugas kepolisian sehingga masyarakat tidak dibebani dengan semua itu.

Adapun apa yang terjadi saat ini, beberapa anggota masyarakat, pemilik warung dan toko mengangkat satpam untuk menjaga rumah, warung dan tokonya. Tentu biayanya dari para pemiliknya. Semua ini salah. Semua ini terjadi akibat dari kekurangpahaman masyarakat akan haknya, sementara negara belum maksimal dari tanggung jawab dan kewajibannya. Padahal menjaga keamanan dan berpatroli adalah kewajiban negara dan termasuk tugas kepolisian.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here