Katakanlah Kepada Dr. Herzl...! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, January 4, 2021

Katakanlah Kepada Dr. Herzl...!


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Katakanlah kepada Dr. Herzl, Palestina  bukanlah harta pribadiku; ia adalah milik semua uamt Islam di dunia. Karena itu, aku tidak akan menyerahkan bagian manapun dari wilayah tersebut, walaupun itu harus merenggut nyawaku.” 

Itulah yang diucapkan Sultan Abdul Hamid II ketika orang-orang Yahudi berusaha membujuknya untuk menjual tanah Palestina kepada Yahudi. Padahal saat itu Khilafah Ustmaniyah yang dipimpinnya sedang lemah. Beberapa wilayah Khilafah telah dicaplok oleh penjajah. Pemberontakan terjadi di beberapa tempat. Berbagai gerakan yang ingin menghancurkan Khilafah pun menyebar di kalangan militer dan elit politik.  Namun, Sultan Abdul Hamid II tetap bersikap tegas; tidak berani mengkhianati negaranya. Sikap inilah yang hampir tidak ada pada para pemimpin negeri Islam saat ini. Sebagian besar pemimpin negeri Islam saat ini justru berkhianat kepada negaranya dan umat Islam.

Di bidang politik pengkhianatan yang paling besar dilakukan oleh Kemal Attartuk, saat dia bekerjasama dengan Inggris meruntuhkan Khilafah Islamiyah.  Pada 20 November 1922 dibukalah Perjanjian Lausanne. Atas nama kemerdekaan Turki, delegasi Ankara yang mewakili Kemal menyetujui syarat-syarat Inggris yang dipimpin Lord Curzon  tentang empat hal: (1) Penghapusan  Khilafah secara total; (2) Pengusiran Khilafah sampai keluar batas negara; (3) Penyitaan kekayaan Khilafah; (4) Sekularisasi negara. Sebagai implementasi dari perjanjian itu, pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang banyak diisi orang-orang Kemal mengumumkan persetujuan penghapusan Khilafah.

Sementara itu, penguasa Saudi berkolaborasi dengan Inggris untuk mempercepat keruntuhan Khilafah Islam. Pada 1902 Dinasti Saud di bawah pimpinan Abdul Azin bin Abdurrahman menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh wali Khalifah lewat bantuan Inggris.  Kerjasama Dinasti Saud dan Inggris tampak pada perjanjian umum Inggris-Saudi di Jeddah (20 Mei 1927). Clayton, wakil Inggris, menegaskan kembali pengakuan Inggris atas ’kemerdekaan’ Ibnu Saud dan hubungan persahabatan Saudi-Inggris. Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat ini Inggris memberikan gelar kebangsawanan ’sir’ untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.

Sekularisasi pun semakin kokoh di Dunia Islam. Hampir seluruh negeri Islam mengadopsi hukum sekular. Di Indonesia, ada banyak produk undang-undang bernuansa pro liberal dan kapitalis. Ratifikasi UU pro-Kapitalisme semakin menguat.

Pasca keruntuhan Khilafah, negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara-bangsa yang berasas sekular. Penjajahan berlanjut lewat sistem sekular yang dipaksakan di Dunia Islam. Negara-negara Barat mengokohkan penjajahan mereka lewat para penguasa yang menjadi kaki tangan mereka di negeri Islam. Hampir di sebagian besar negeri Islam, penguasa yang muncul dalam sistem sekular berada di bawah pengaruh negara-negara kolonialis.

Tidaklah aneh, para penguasa negeri-negeri Islam sangat represif terhadap gerakan-gerakan Islam yang menginginkan tegaknya syariah Islam.  Pasalnya, penegakan syariah Islam akan menghentikan penjajahan negara-negara kolonialis atas Dunia Islam. Hal ini jelas tidak sejalan dengan kepentingan  negara kolonialis yang menjadi ’tuan besar’ mereka. Gerakan Islam juga terus membongkar persekongkolan penguasa negeri Islam dengan para penjajah secara lantang di hadapan masyarakat.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here