Kisah Peradaban Agung - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 6, 2021

Kisah Peradaban Agung


M. Ismail (Direktur ElSad)

Allah menegaskan bahwa Islam akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Allah pun menjamin keberkahan hidup masyarakat akan terealisasi jika masyarakat beriman dan bertakwa (QS al-A‘raf [7]: 96), yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara total dan formal.

Pernahkah fakta normatif kesejahteraan dan keberkahan hidup itu terwujud secara real di tengah-tengah kaum Muslim? Pertanyaan itu penting untuk dijawab, karena jika tidak pernah terwujud dalam 1300 tahun lebih sejarah kaum Muslim, sementara sistem Islam diterapkan, maka orang sulit percaya bahwa sistem Islam akan mampu mewujudkannya pada masa datang. Berikut adalah beberapa catatan sejarah akan hal itu.

Abu Ubaid menuturkan, pada masa Umar ibn al-Khaththab (13-23 H/634-644 M), di provinsi Yaman, tiap tahun Mu’adz ibn Jabal mengirimkan separuh bahkan seluruh hasil zakat kepada Khalifah. Sebab, ia tidak menjumpai seorang (miskin) pun yang berhak menerima bagian zakat. Yahya ibn Sa’id pernah ditugaskan memungut zakat di Afrika oleh Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H/717-120 M). Ia pun tidak bisa menjumpai satu orang miskin pun di Afrika. Gubernur Basrah, Hamid ibn Abdurrahman, sesuai arahan Umar bin Abdul Aziz, membelanjakan kas negara berlimpah untuk gaji pegawai dan anggaran rutin, membantu mereka yang dililit utang dan membantu mereka yang ingin menikah. Uang yang masih banyak di kas negara pun dijadikan sebagai pinjaman modal bagi warga non-Muslim agar bisa mengolah tanahnya, dan pengembaliannya setelah dua tahun atau lebih.

Sebagai gambaran kemakmuran pada masa Abbasiyah, Philip K. Hitti menyatakan bahwa al-Mansur membangun Baghdad mulai tahun 762 M—menurut as-Suyuthi tahun 141 H—selama 4 tahun dengan menggunakan tenaga lebih dari 100.000 orang baik insinyur, arsitek, pekerja ahli hingga pekerja biasa dan menghabiskan total biaya 4.883.000 dirham. Menurut M. Kurdi Ali, al-Mansur juga membangun sejumlah jembatan, kanal dan berbagai bendungan, tersebar merata di wilayah Khilafah.

Meski pembangunan begitu gencar, saat al-Mansur meninggal (159 H/775 M ) keuangan negara masih surplus sebesar 600 juta dirham dan 14 juta dinar. Saat Harun ar-Rasyid meninggal (194 H/809 M), di kas ada 900 juta. Saat al-Muktafi meninggal (296 H/908 M), kas negara surplus 100 juta dinar. Dari sisi pemasukan negara, Ibn Khaldun mencatat pada masa al-Makmun sebesar 332 juta dirham; Ibn Qudamah mencatat, pada masa al-Mu‘tashim sebesar 388,3 juta dirham setahun. Pada masa inilah dibangun kota Samara—singkatan dari sarra man ra’a (Memuaskan Mata Orang yang Memandangnya). Adapun Ibn Khurdazbeh mencatat, pemasukan negara pada pertengahan abad ke-3 H sebesar 299,3 juta dirham.

Dari sisi pembangunan terdapat begitu banyak catatan proyek pembangunan yang dijalankan. Hal itu tentu berdampak positif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Khilafah Umayah di antaranya fokus pada pembuatan saluran air dan jaringan irigasi, penggalian sungai dan kanal, pembangunan bendungan dan penciptaan lahan produktif dari lahan mati yang ada. Muawiyah telah memulai proyek penghijauan Hijaz. Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik banyak membangun masjid, membuka berbagai rumah sakit, asrama orang-orang cacat, dan memberikan bantuan pembiayaan pada usaha pembangunan. Daerah rawa al-Bata’ih di Irak antara Basrah dan Kufah pun disulap menjadi lahan produktif dengan biaya 3 juta dirham (jumlah yang cukup besar saat itu) dan dibagikan kepada rakyat. Khalifah Hisyam menggali sumber-sumber air di sepanjang perjalanan Makkah. Ia juga mendirikan Rasafa, tempat peristirahatan bagi pekerja dan musafir.

Jaringan irigasi itu tetap dipelihara dan diperluas oleh Khilafah Abbasiyah. Istri Harun ar-Rasyid turut membiayai pembangunan saluran air di Makkah yang lalu dinamakan dengan namanya, mata air Zubaidah. Bahkan Khilafah Abbasiyah membentuk Direktorat Irigasi (Diwân al-Mâ’i) dengan pegawai ribuan orang. Khilafah Abbasiyah juga fokus pada industrialisasi. Ribuan pabrik dibangun pada masa itu dan tersebar di berbagai wilayah negara. Damaskus terkenal dengan pabrik bajanya. Tripoli, Kairo, Maroko dan Spanyol terkenal dengan galangan kapalnya. Moshul terkenal sebagai pusat industri tembaga. Menurut Svend Dahl, abad ke-8 M pada masa Harun ar-Rasyid, pabrik kertas sudah berdiri di Baghdad dan beberapa kota lainnya. Pada abad ke-10 M pabrik kertas itu sudah menyebar di Mesir.

Lalu bagaimana dengan kondisi dunia sekarang? Faktanya, sistem Kapitalisme hanya berhasil dalam mewujudkan kemajuan materi, sains dan teknologi. Sebaliknya, Kapitalisme pun berhasil meruntuhkan dan menghancurkan nilai-nilai moral, spiritual, kemanusiaan, keadilan, dan nilai-nilai luhur lainnya. Kapitalisme justru berhasil menciptakan malapetaka dan kesengsaraan, dekadensi moral, kekosongan spiritual, penindasan, penjajahan dan perbudakan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here