KORBAN BENCANA WAJIB KITA MEMBANTUNYA DAN TANGGUNGJAWAB NEGARA MENOLONGNYA


 Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute)

Ketika mendengar kabar gempa di Sulbar, penulis langsung teringat ketika terjun sebagai relawan ISN pada Gempa Sulteng 2018 lalu. Ada banyak hal yang bisa kita buat untuk membantu para korban. Namun biasanya terbentur dengan tiga hal, KEMAMPUAN DAN KEMAUAN serta KEWENANGAN yang kita punya. Semua tergantung level dan posisi kita. 

Pada penghujung tahun 2020 dan awal 2021 ini, berbagai musibah melanda negeri ini. Belum selesai wabah Corona, sudah disusul kabar duka dua menteri rezim Jokowi ditangkap KPK karena korupsi. Bahkan Bansos untuk rakyat miskin pun masih dikorupsi pula. Datang juga kabar duka Pesawat jatuh, disusul Banjir di Kalimantan. Belum surut Banjir, datang juga Gempa di sulawesi. Bahkan terdengar kabar gunung api pun ikutan meletus pula. Subhanallah... Mengapa negeri ini jadi begini?

Kita paham bahwa anugerah maupun musibah itu kehendak Allah. Kita mesti sabar menjalani dan introspeksi diri. Sebagaimana diungkapkan Sang legenda Ebit G Ade dalam penggalan lirik lagunya, …kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau ALAM mulai enggan BERSAHABAT dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…

Di tengah bencana, kita harus cepat berfikir dan bertindak. Sembari menanti jawaban rumput bergoyang itu. Lalu, Siapa yang bertanggungjawab dan wajib menolong para korban bencana itu? Apakah Pemerintah, LSM atau Ormas, atau negera tetangga? Sebatas apa?

Setiap pihak tentu punya tanggungjawab yang berbeda. Tanggungjawab pemerintah tentulah tak sama dengan ormas. Juga tak sama dengan negara tetangga. Penulis memberikan tiga catatan penting terkait hal ini, sbb: 

PERTAMA, Siapa pun kita wajib membantu korban bencana. Meski bukan tanggungjawab kita namun wajib membantu. Secara pribadi, tentu bantuan itu disesuaikan kemampuan. Beda jika kita bertanggungjawab maka harus tuntas hingga masalahnya selesai. Karena bukan tanggungjawab maka tentu bantuan disesuaikan dengan kemampuan. 

Apa pun level dan posisi kita, bisa ikut berpartisipasi secara pribadi memberikan bantuan. Bisa donasi melalui rekening, mengumpulkan pakaian dan bahan makanan. Juga obat-obatan dan alat-alat penunjang lainnya. Bahkan bisa membentuk tim relawan dan ikut terjun memberikan bantuan di lokasi bencana. Penulis beberpa kali ikut terjun di daerah bencana termasuk sebagai Relawan ISN (Islam Selamatkan Negeri) ketika Gempa di Palu Sulteng. Di lokasi bencana itu kita bisa belajar dan merasakan betapa kompleksnya persoalan di sana. Mulai dari soal menjaga keselamatan diri dan keamanan, soal kesehatan, soal edukasi dan mental recovery. Juga masalah sarana dan prasarana.

Bagi masyarakat yang tak bisa membantu dalam bentuk dana, tenaga dan pikiran, maka bisa membantu dengan doa. Doa sangatlah penting karena bencana ini bisa terjadi atas ijin Illahi. Tak perlu sombong dan merasa diri hebat, sehat dan kuat karena segalanya bisa terjadi sewaktu-waktu atas ijin Illahi. Sehebat apa pun kita. Semahal apa pun infrastruktur yang kita bangun dan banggakan, semua bisa hancur lebur dalam sekejab dengan datangnya bencana. 

KEDUA, Pemerintah wajib hadir sebagai penolong bukan pembantu. Satu-satunya institusi yang diberi kewenangan untuk mengatur bahkan memaksa dan menghukum warganya adalah negara. Maka pihak yang paling bertanggungjawab adalah negara yang direpresentasikan oleh pemimpin pemerintahan yang dibantu para pejabat pemerintah. Ketika datang bencana pun maka mereka yang paling memiliki Wewenangan dan tanggungjawab menyelematkan warganya.

Siapa pun bisa saja ikut membantu di daerah bencana, namun harus tunduk dan patuh dibawah kendali tanggungjawab Pemerintah. Jangan dibalik, ada ormas dan swasta tampil di depan seolah mereka yang punya wewenang dan kewajiban serta berperan penting di daerah bencana. Sementara pemerintah diposisikan cukup membantu saja. Jika ini terjadi, dikhawatirkan perlahan-lahan, negara tunduk dibawah lembaga non pemerintah (NGO) dan lembaga swasta. Itu bukan pemerintahan yang baik.

Ketika ada bencana maka pemimpin pemerintahan harus segera tampil di depan melakukan langkah cepat menyelamatkan nyawa rakyatnya.  Paradigma yang mesti dibangun adalah, pemimpin pmerintahan harus hadir menolong dan menyelamatkan rakyat. Bukan hadir sekedar memberi bantuan korban bencana. Beban tanggungjawab dan wewenang itu ada pada pemimpin pemerintahan bukan pada ormas atau swasta. 

Jadi posisi ormas dan swasta itu membantu. Wajar jika mereka menulis “bantuan ormas” atau “bantuan swasta” tertentu. Akan aneh bahkan terasa lucu jika ada barang untuk korban bencana tertulis “Bantuan Pemerintah, atau Bantuan Presiden atau Bantuan Pemda”. Semestinya bukan memberikan bantuan tapi pertolongan dan penyelamatan yang utama.

Pertolongan utama adalah penyelamatan nyawa. Begitu ada bencana maka upaya yang dilakukan adalah bagaimana menyelamatkan nyawa korban. Harus dilakukan dengan maksimal melalui berbagai jalur (darat, Udara dan Laut). Dan yang paling cepat adalah jalur udara. Jadi ketika ada bencana maka semestinya pada hari pertama itu udara disekitarnya sudah ramai helikopter yang terbang untuk evakuasi pertolongan dan penyelamatan nyawa korban. Korban yang terluka serius harus segera diselamatkan. Mereka yang bisa bertahan ditempat diberikan makanan untuk bertahan. 

Jangan sampai ada rakyat terluka yang akhirnya kehilangan nyawa karena terlambat atau tidak ada pertolongan (bukan Bantuan). Atau bahkan ada korban yang semula sehat jadi sakit karena tak ada makanan sementara jalur darat terputus. Disinilah peran dan tanggungjawab pemimpin pemerintahan melindungi segenap rakyatnya sesuai konstitusi negara. Maka ia wajib mengerahkan segenap daya untuk menolong rakyatnya yang terkena bencana. Jika semua helikopter sudah diterbangkan dan masih perlu menyewa pesawat dan helikopter dari luar negeri, maka itu pun harus dilakukan demi menyelematkan nyawa rakyatnya. Bukankah keselamatan nyawa rakyat itu hukum tertinggi?

KETIGA, Ormas dan Lembaga Swasta serta Negara tetangga dapat membantu pemerintah dalam menangani Bencana. Meski pemerintah memiliki segenggam kekuasaan dan kewenangan, tetap perlu membuka diri agar dibantu oleh masyarakatnya. Apalagi SDM nya pemerintah untuk menangani bencana terbatas. Oleh karenanya memerlukan bantuan tenaga dari para relawan. Namun ini tidak lantas melepas tanggungjawab pemerintah dalam melindungi dan menyelamatkan warganya. Justru posisi relawan itu sifatnya membantu pemerintah dalam menjalankan kewajibannya. Maka, Ormas (organisasi Masyarakat) dan lembaga swasta lainnya termasuk negara tetangga dapat membantu menjalankan misi kemanusiaan atas ijinkan dan dibawah kendali pemerintah. Bukan sebaliknya pemerintah membantu mereka. Atau pemerintah membantu masyarakat korban bencana. 

Semua masalah dalam penanganan bencana itu dapat ditangani dengan baik jika ada kenerja yang baik dari pemimpin pemerintahan. Pemimpin yang berkualitas, tegas dan disegani karena kelembutannya. Tentu dengan keterbatasan SDM maka ia dibantu para relawan kemanusiaan dari berbagai ormas dan lembaga swasta lainnya. Apalagi pasca penanganan bencana, masyarakat perlu disehatkan, dicerdaskan dan disejahterakan.

Dalam menangani bencana dan masalah di negeri ini, ada baiknya kita merenung dan mengambil teladan dari kepemimpinan Khalifah Umar. Dikala malam ia mendekat dan berdoa mohon pertolongan Allah. Dikala siang ia bekerja keras melayani rakyatnya. Beliau mengingatkan kepada kita, "Masalah tidak bisa diselesaikan, kecuali dengan ketegasan tanpa paksaan, dan dibarengi dengan cara lembut tapi tidak disepelekan,” begitu kata Umar.

Sedangkan dalam membangun dan memelihara eksistensi sebuah negeri, Khalifah Umar Umar mengingatkan kita. Harus memilih orang-orang yang terbaik untuk membangun suatu daerah yang dipimpinnya agar tidak rusak.

Tentang Hancurnya sebuah negeri, Khalifah Umar pernah ditanya, "Bagaimana bisa ada Negeri yang hancur, padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang?" Umar menjawab, "Jika para pembuat dosa lebih hebat dari pada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik."

Tentu kita ingin negeri ini jauh dari bencana. Semakin sedikit orang yang berbuat dosa dan kezaliman. Sebaliknya semakin banyak orang baik yang mengajak pada ketaatan pada Allah sang pemilik semesta alam. Allah Yang menentukan anugrah dan menghindarkan dari bencana.

Semoga berbagai bencana segera berakhir. Dan semoga Allah melimpahkan barokah dari langit dan bumi atas negeri ini. Aamiin.

*) Disarikan dari Buku The Golden Story of Umar bin Khaththab.

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=441391930556179&id=100040561274426


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post