...Maka Ia Adalah Pemimpin Atas Kaum Mukmin


Eko Susanto

Imam Hasan al-Bashriy dalam kitab al-Sunnah mengatakan, “Siapa saja yang diberi kewenangan untuk menduduki jabatan Khilafah berdasarkan kesepakatan dari umat (ijma’), dan umat telah ridlo kepada dirinya, maka ia adalah pemimpin atas kaum mukmin. Tak seorangpun boleh berdiam diri –meskipun semalam saja—, sementara itu ia tidak mengenal imamnya, baik pemimpinnya itu berperilaku baik maupun buruk... Pendapat semacam ini juga dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal“ -- Imam Ahmad menyatakan, :”..Siapa saja yang berhasil mengalahkan seorang wali dengan perang (pedang), hingga dirinya diangkat menjadi seorang khalifah dan diberi gelar amirul mukminin, maka tak seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, boleh berdiam diri meskipun semalam, sementara itu ia tidak tahu bahwa orang tersebut adalah seorang Imam, baik orang tersebut baik maupun fajir..” Abu Ya’la, al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal.23. Keyakinan semacam ini telah dipegang oleh para ulama salaf. Lihat juga Abu Ya’la, Thabaqaat al-Hanaabilah, juz I/ 241-242]

Dalam kesempatan yang lain, Imam Hasan al-Bashriy berkomentar mengenai penguasa-penguasa ,”Mereka adalah pihak yang akan menjalankan lima urusan kita; menyelenggarakan sholat Jum’at, jama’ah, sholat Ied, menjaga tapal batas negara, dan memberlakukan hudud. Demi Allah, agama ini tidak akan sempurna tanpa mereka (penguasa), meskipun mereka suka berbuat dosa dan dzalim.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Adab al-Hasan al-Bashriy, hal.121. Lihat pula Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam, juz 2/117)

Imam Abu Ya’la Mohammad al-Husain Al-Firaiy al-Hanbaliy menyatakan, “Mengangkat khalifah merupakan kewajiban”. (Imam Abu Ya’la Mohammad al-Husain Al-Firaiy al-Hanbaliy, Al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal.19)

Imam Ahmad berkata, “Akan ada fitnah yang sangat besar jika tidak ada imam yang mengurusi urusan masyarakat.”

Imam Ibnu Taimiyyah berkata, “Harus dipahami bahwa wilayat al-naas (mengurus urusan masyarakat –tertegaknya Khilafah Islamiyyah) merupakan kewajiban teragung diantara kewajiban-kewajiban agama yang lain, bahkan agama ini tidak akan tegak tanpa adanya khilafah Islamiyyah.” (Imam Ibnu Taimiyyah, al-Siyaasat al-Syar’iyyah. Lihat pada Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul al-Maridl, hal. 375)

Imam Mawardiy menyatakan, “Khilafah berkedudukan sebagai wakil nubuwwah.... Ia juga bertugas menjaga agama dan kehidupan dunia...ia adalah sistem pemerintahan yang harus ditegakkan berdasarkan ijma’……mengangkat seorang khalifah hukumnya adalah wajib atas jama’ah al-Islamiyyah..” (Abu al-A’laa al-Maududiy, Al-Hukumah al-Islamiyyah, al-Mukhtaar al-Islamiy, cet-I, tahun 1977, diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Ahmad Idris)

Imam Al-Ghazaliy berkata, “Kita tidak mungkin bisa menetapkan sesuatu perkara ketika negara tidak lagi memiliki imam dan peradilan telah rusak…” (Imam Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum al-Diin, lihat juga syarahnya oleh Al-Zabidiy, juz 2/233)

Pendapat-pendapat senada juga diketengahkan oleh ’ulama-‘ulama besar lain semisal, Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim, Tirmidziy, Thabaraniy dan ashhab al-sunan lainnya; Imam al-Zujaj, Abu Ya’la al-Firaiy, al-Baghawiy, Zamakhsyariy, Ibnu Katsir, Imam al-Baidlawiy, Imam Nawawiy, al-Thabariy, Qurthubiy, Ibnu Khaldun, Imam al-Qalqasyandiy, dan lain-lain. (Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-‘Arab, hal.26; Imam Qalqasyandiy, Maatsirul al-Inafah fi Ma’aalim al-Khilafah, juz I/16; Imam Zamakhsyariy, Tafsir al-Kasysyaaf, juz 1/hal.209; Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quraan al-‘Adzim, juz 1/hal.70; Imam al-Baidlawiy, Anwaar al-Tanziil wa Asraar al-Ta`wiil, hal.602;Imam Thabariy, Tharikhal-Umam wa al-Muluuk, juz 3/277; Imam Ibnu Taimiyyah, Minhaaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, juz 1/137-138; Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, juz 2/519; Ibnu ‘Abd al-Barr, al-Isti’aab fi Ma’rifat al-Ashhaab juz 3/1150 dan Taarikh al-Khulafaa’ hal.137-138, dan lain-lain)


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post