Manifesto 2021


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Tahun 2020 telah berakhir. Sebuah catatan besar di 2020 menegaskan bahwa demokrasi jelas gagal. Gagal dalam menangani pandemi Covid-19. Gagal dalam penegakkan supremasi hukum dan keadilan serta gagal dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa di tengah pandemi. Dan setumpuk kegagalan lainnya. 

Kini kita semua memasuki tahun 2021. Tahun yang diharapkan ada perbaikan dan kebaikan bagi negeri. Tahun yang di dalamnya terdapat PR besar dari tahun 2020. Tahun yang harapannya tidak lagi terulang krisis atau bahkan lebih parah dari tahun 2020.

Tentunya terdapat harapan besar terwujudnya keadilan dan kesejahteraan di 2021. Lantas dengan apa harapan besar tersebut bisa diwujudkan?

Masihkah kita semua berharap pada demokrasi? Yang patut untuk selalu diingat, sejak kemerdekaan hingga saat ini, Indonesia sudah dan telah menerapkan demokrasi. Hasilnya Indonesia masih berada dalam kungkungan neoimperialisme dan neoliberalisme. Mimpi kesejahteraan ibarat pungguk merindukan bulan.

Di samping itu Demokrasi adalah sistem pemerintahan dari Ideologi Kapitalisme. Ideologi Kapitalisme notabenenya menjadikan kapital atau modal sebagai basisnya. Ditambah lagi asas Kapitalisme adalah sekulerisme (Pemisahan agama dari kehidupan). Konsekwensinya tidak ada lagi nilai halal dan haram. Yang ada adalah keuntungan. Walhasil di dalam Kapitalisme Demokrasi meniscayakan adanya korpotokrasi (persatuan penguasa dan pengusaha).

Jadi demokrasi itu sudah cacat sejak lahir. Kedaulatan di tangan rakyat hanyalah semboyan manis yang menyihir. Padahal yang berdaulat adalah modal. UU yang ditelorkan sepanjang 2020 tidak pro pada rakyat.

Kesadaran demikian mestinya dimiliki oleh bangsa ini. Jangan sampai di tahun 2021 bangsa ini jatuh ke dalam lubang yang sama hingga 2 kali dan atau berkali-kali.

Di tahun 2021 ini harus dijadikan sebagai tahun muhasabah bangsa. Bersama-sama menyadari akan kelemahan diri sebagai manusia. Kelemahan manusia dalam menelorkan aturan-aturan hidup yang bisa mewujudkan kesejahteraan hidup lahir maupun batin. Demokrasi sebagai contoh sistem produk manusia yang lemah. Akan banyak ditemui kegagalan demi kegagasan demokrasi dalam mewujudkan kesejahteraan.

Bangsa dan negeri ini perlu bersama-sama memikirkan rumusan dan formula kehidupan yang bisa mendatangkan kondisi yang lebih baik di tahun 2021. Sebuah formula baru yang akan mampu menyelesaikan krisis multidimensi. Sebuah formula baru kehidupan yang tidak ada intervensi tangan-tangan manusia dalam mengatur alam Raya. Sebuah formula baru yang mampu mendudukkan manusia dengan sama di hadapan hukum dan perundang-undangan.

Maka tidak mengherankan bila tawaran-tawaran formula baru kehidupan itu berasal dari Islam. Mengingat mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, tentunya ada keinginan agar realitas kehidupan itu menjadi sejalan dengan rambu-rambu panduan Islam.

Menjadi urgen di tahap awal adalah menjadikan umat Islam di negeri ini memahami dengan baik ajaran agamanya. Artinya umat Islam mendudukkan agamanya tidak sekedar berisi nilai-nilai moral, lebih dari itu Islam merupakan ideologi yang akan mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan.

Umat Islam harus segera open mind terhadap agamanya sendiri. Tidak lagi terpenjara pada pemahaman Islam status quo. Memahami Islam hanya sebagai agama ritual. Jika demikian yang rugi adalah umat Islam. Umat akan menjadi bulan-bulanan sistem kehidupan asing. Umat teralienasi dari politik. Akhirnya umat Islam menjadi apatis dalam hidupnya.

Sudah saatnya di era globalisasi dan digitalisasi ini, umat Islam mempunyai pola berpikir global dan holistik. Bukan waktunya lagi ada intimidasi dan pembatasan-pembatasan yang hanya mengkerdilkan umat. Umat Islam itu umat yang besar. Umat Islam adalah umat yang berpengaruh. Umat Islam adalah umat yang mengemban risalah Agung dari Allah SWT di muka bumi.

Bukan jamannya lagi umat Islam alergi dengan kajian-kajian Islam yang bersifat ideologis. Faktanya Kapitalisme Demokrasi sudah gagal. Tentunya umat Islam harus menyadari bahwa Islam yang dipeluknya itu memiliki khasanah pemikiran dan solusi bagi kehidupan. Selama ini umat Islam teralienasi dari khasanahnya sendiri. Bangga dengan khasanah milik orang lain.

Sudah saatnya umat Islam terbuka untuk membahas semua persoalan kehidupannya berdasarkan kacamata Islam. Tatkala menghadapi pandemi Covid-19, umat Islam merujuk bagaimana Islam menanggulanginya. Tatkala menghadapi persoalan eksploitasi SDA negerinya oleh asing, umat Islam membahasnya dalam perspektif Islam untuk menyelesaikannya. Tatkala menghadapi gurita korupsi, umat Islam tidak segan mengulasnya dari perspektif Islam dalam memberantas korupsi.

Dengan demikian umat akan menjadi cerdas dalam menyikapi setiap persoalan bangsa dan negerinya. Islam dan solusi-solusinya akan menjadi darah segar dalam diri umat. Darah segar yang menjadikan umat Islam akan dengan sendirinya menuntut bagi terwujudnya Islam dan solusi-solusinya dalam realitas kehidupan. Bukankah demokrasi menetapkan kedaulatan itu di tangan rakyat? Artinya ketika rakyat ini sudah memahami dengan baik bahwa Islam yang dianutnya adalah solusi terbaik kehidupannya. Tentunya mereka akan bisa berbuat banyak bagi kemanusiaan. Wujud nyata akan hal itu adalah rakyat akan menggunakan kekuasaannya untuk bisa menerapkan Islam secara paripurna. 

# 2 Januari 2020


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post