Membaca Politik AS Taklukan China - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, January 29, 2021

Membaca Politik AS Taklukan China


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Mengawali pemerintahannya, Biden melakukan perpanjangan Perjanjian Pembatasan Nuklir dengan Rusia. Biden dan Putin menyetujui perpanjangan perjanjian sebelum 5 Februari mendatang. Masa perpanjangan hingga 5 tahun mendatang. Hanya saja Gedung Putih sendiri masih malu-malu mengakui akan hasil persetujuan Biden-Putin. 

Sebelumnya AS di bawah pemerintahan Trump menyatakan keluar dari perjanjian tersebut. Tentunya langkah politik Trump ini menuai kecaman. Paling tidak ada anggapan bahwa AS sudah tidak komitmen lagi dalam hal pembatasan senjata nuklir. Hal demikian sempat menyulitkan posisi AS. Oleh karena itu Biden ingin mengubah image demikian dengan pendekatan yang soft.

Biden mengetahui bahwa di masa perang dagang AS-China selama ini semakin tegang di bawah Trump. Trump menuding China sebagai penyebab wabah Covid-19. China disebut telah melakukan "genosida" terhadap warga Uighur yang mayoritasnya muslim. Demikian di antara hal yang menjadikan semakin panas hubungan AS-China.

Akibatnya Rusia mendekati China. Bertemulah Putin dengan Xin Jinping membahas hubungan kedua negara. Bahkan hubungan Rusia-China disebut sebagai Teman Dekat. Tentunya posisi demikian tidaklah menguntungkan AS. Pasalnya AS sendiri juga tergoncang oleh pandemi. Di samping itu keadaan ekonomi AS semakin merosot di tengah pandemi. 

Apakah warga AS menyadari posisi AS demikian? Hasilnya Trump pun terpaksa harus merelakan Biden menjadi presiden. Perlu pendekatan baru dalam memposisikan hubungan AS dengan China dan Rusia.

Dalam memformulasikan posisi AS di antara Rusia dan China, Biden tergolong cukup smart. Ancaman China demi kepentingan AS di kawasan Laut China Selatan, terutama di Asia Tenggara sudah mengkhawatirkan. Walaupun memang ada potensi ancaman dari Rusia yang tidak boleh dianggap remeh. Menghadapi keduanya sekaligus tentu membutuhkan effort yang besar. Tampaknya AS harus memilih. Memilih melakukan hubungan lebih intens dengan Rusia atau China.

Sejatinya Rusia maupun China adalah musuh AS. Paling tidak bisa mengurangi tekanan pada kepentingannya, AS harus menguatkan tekanan kepada salah satunya. AS sepertinya ingin fokus menangani China. Oleh karena itu, AS memilih membatasi ruang gerak Rusia melalui perpanjangan perjanjian nuklir selama 5 tahun mendatang.

AS berkepentingan dengan Rusia. Putin mengkonfirmasi desas desus di kalangan intelegen militer AS di tahun 2018. Rusia sedang mengembangkan senjata nuklir bawah laut yang bisa membunuh jutaan orang dalam satu ledakan. Di samping itu, senjata nuklir tersebut mampu menjadikan ribuan kilometer persegi tanah tidak dapat dihuni untuk puluhan tahun. Maka perlu ada langkah pengereman laju Rusia dengan ikatan perjanjian. Paling tidak waktu 5 tahun bisa meredam ancaman nuklir dari Rusia.

Rusia sebagai negara yang memiliki senjata nuklir paling banyak di dunia, ancamannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Rusia perlu dipisahkan barang sejenak dari pertemanannya dengan China. AS pun bisa fokus ke arah China.

Pemerintahan Biden sepakat dengan Trump dalam memperlakukan China. Bedanya Trump frontal. Sedangkan Biden memilih pendekatan yang berkesabaran terhadap China.

China sendiri berharap hubungannya dengan AS di era Biden bisa lebih baik. Walaupun begitu Xi Jinping menegaskan bahwa tentang arti kedaulatan bagi China. Jangan sampai mengancam kedaulatan China, demikian pesan yang tersirat dari pernyataan Xi-Jinping.

Akan tetapi China tetap dalam ambisinya. Berdaulat di kawasan Laut China Selatan. China pada akhir tahun 2020 menerbangkan jet tempur di atas Taiwan. Melihat itu AS meminta China menghentikan tekanan ekonomi dan militernya terhadap Taiwan. Bahkan China mengirim kapal induknya Zhandong dalam latihan militer di dekat Taiwan.

Pada saat terjadinya perjanjian nuklir As-Rusia, China melontarkan pernyataan bahwa memaksakan ego yang erogan tidaklah layak dilakukan. Kerjasama multilateralisme lebih pas di era kerjasama internasional. Sepertinya China bisa membaca bandul politik AS. Walhasil China tetap memberikan sebuah garis tegas dalam hal kedaulatannya. Melihat ini AS sendiri menyadari sepenuhnya untuk menjinakkan China akan butuh waktu yang lama.

Dengan demikianlah perang dingin era baru telah dimulai. Sebuah persaingan antara AS dengan China dalam jangka waktu yang lama. Sebuah perang dingin yang dibayang-bayangi oleh kedigjayaan nuklir Rusia.

AS harus lebih berhati-hati. Filiphina sudah mulai melakukan kerjasama dengan China dalam penanggulangan pandemi dan vaksin. Sementara itu vaksin Pfizer di satu sisi masih rentan menimbulkan pengaruh negatif terhadap tubuh manusia.

Menilik kekuatan senjata nuklirnya, AS berani kalaupun harus konfrontasi dengan China. Apalagi Korut sendiri telah menyatakan siap menghadapi AS. Bagi Kim Jong Un, AS di bawah Biden tetap sama. Oleh karena itu, Biden sendiri perlu ada pendekatan khusus menangani Korut ini.

Negeri-negeri Islam sendiri yang ada di kawasan khususnya Asia Tenggara harus mewaspadai pemanfaatan mereka dalam perang dingin ini. Artinya selama dunia Islam masih didominasi oleh Ideologi Kapitalisme Sekuler, tentunya akan terus menjadi bulan-bulanan. 

Di tengah-tengah perang dingin negara-negara besar tersebut, tentunya kaum muslimin harus mempunyai sikap yang jelas. Sebuah sikap yang berlandaskan pada pandangan Islam. 

Sesungguhnya baik AS maupun China dalam pandangan Islam termasuk negara kafir harbi fiklan. Artinya AS maupun China telah memerangi kaum muslimin. Adapun terkait dengan Rusia. Bisa kita melihat posisinya saat perang Suriah. Persengketaan antara AS dengan Rusia di Suriah tidak lebih hanyalah gimik politik. Di antara keduanya hanya berebut pengaruh. Akan tetapi keduanya sama memiliki andil memerangi kaum muslimin, khususnya di Suriah.

Oleh karena itu, negara kafir harbi fiklan hubungannya dengan negeri-negeri Islam tidak ada hubungan bilateral, selain hubungan perang. Agar negeri-negeri Islam saat ini terbebas dari perang kepentingan di antara negara-negara imperialis, kaum muslimin harus bersatu padu. Jangan sampai kaum muslimin berpecah belah. Karena sesungguhnya persatuan Islam itu merupakan sesuatu yang ditakutkan oleh Barat. Apalagi kalau persatuan Islam itu didasari oleh kesadaran ideologis.

Kaum muslimin perlu bahu membahu dalam menegakkan kembali institusi pelaksana Islam yakni Khilafah. Hanya Khilafah yang bisa membebaskan dunia Islam dari dominasi negara-negara imperialis. Selanjutnya Khilafah akan memainkan politik luar negerinya dalam rangka menyebarkan kebaikan bagi seluruh dunia. 

# 28 Januari 2021


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here