Membaca Situasi Global


Lukman Noerochim (stafsus FORKEI)

Situasi internasional akan selalu dalam posisi dinamis karena ditentukan oleh kondisi ekonomi-politik beberapa negara dan tergantung dari situasi tertentu yang menyelimutinya. Perubahan situasi dan kondisi tejadi karena suatu negara bisa melemah atau menguat, atau karena hubungan dengan negara lain melemah atau menguat. Dalam hal ini, terjadinya perubahan keseimbangan kekuatan global disebabkan oleh pergeseran keseimbangan kekuatan yang terjadi sebelumnya. Ini sebabnya, memahami status setiap negara yang mempengaruhi situasi internasional adalah dasar untuk memahami keseimbangan kekuatan adidaya global.

Persaingan antar kekuatan dunia telah berlangsung sejak dahulu dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dalam masa Mesir kuno yang diperintah oleh para Fir’aun, Mesir adalah negeri adidaya dan bersaing dengan Mesopotamia. Imperium Romawi menjadi negara adidaya dan Imperium Persia bersaing dengannya. Lalu, Daulah Khilafah menundukkan keduanya, Romawi dan Persia sekaligus, dan menjelma menjadi kekuatan adidaya hingga akhir abad ke-18, dan dalam perjalanan sejarahnya sempat berseteru melawan Mongol dan terlibat dalam Perang Salib.

Perancis dan Inggris bersaing dengan Khilafah Utsmaniyah selama hampir 3 abad hingga pertengahan abad-18. Menjelang Perang Dunia I, Jerman menggeser keseimbangan kekuatan global, dan menghadapi persaingan dari Inggris dan Perancis. Setelah Perang Dunia I, Inggris menjadi kekuatan global dan menghadapi persaingan Perancis. Tidak lama kemudian, Jerman menantang Inggris dan hanya berakhirnya Perang Dunia II yang telah menghentikan hegemoni Jerman. Usai Perang Dunia II, AS menjadi pemenang dan menjadi kekuatan adidaya, yang menghadapi persaingan dari Uni Soviet selama 50 tahun, hingga jatuhnya Soviet pada tahun 1990an. Percaturan Politik Antar-Bangsa (Game of nations) Saat ini AS adalah negeri adidaya dunia, meski mulai melemah ia masih berpengaruh terhadap politik internasional. AS adalah ekonomi terbesar dunia, termaju dalam penguasaan teknologi mutakhir, dan memiliki pangkalan militer yang tersebar diseluruh dunia untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya.

Rusia dan Cina berkembang secara pesat tanpa mengikuti resep demokrasi liberal Barat. Sebaliknya, Rusia justru menantang AS secara terbuka. Misalnya, Rusia menancapkan benderanya di dataran es Antartika, men-tes bom secara masif, dan mempersengketakan sistem pertahanan misil AS di Eropa Timur. Rusia juga merebut kembali status adidayanya dengan dengan menguasai kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari pengaruh AS  dan menghentikan tiga revolusi di negara-negara Asia Tengah.  AS, setelah 20 tahun tidak memiliki saingan berarti, mulai menghadapi tantangan serius dari suatu negara (Rusia) yang menguasai ladang gas dan minyak bumi terbesar di dunia.

Perusahaan yang mampu bersaing dengan AS adalah Rusia, Inggris, Perancis, dan Jerman, dimana ke-empat negara tersebut memiliki ambisi internasional. Rusia dalam dekade terakhir berhasil menguasai sumber mineral dan menundukkan beberapa konglomerat yang sempat menguasai perekonomian Rusia sejak jatuhnya Uni Soviet. Dengan dibekali sumber energi yang luarbiasa, Rusia kini berada dalam fase untuk bersaing dalam meningkatkan teknologi militernya dalam menghadapi AS.

Inggris yang dalam sejarah sempat menjadi negara adidaya masih memiliki pengaruh pada bekas jajahannya. Inggris adalah salah satu pemain penting dalam politik Eropa dan sering menimbulkan kegelisahan pada AS atas kegagalan rencananya di Eropa. Perang Dunia II telah menghabiskan energi Inggris yang sempat melemahkan kedudukan internasionalnya. Pembuat kebijakan Inggris menyadari hal ini dan membangun manuver politik kerjasama ketimbang persaingan secara langsung dengan AS. Inggris melakukannya dengan cara bekerjasama dengan AS di wilayah internasional  di satu sisi. Di sisi lain, Inggris membuat AS frustasi dalam usahanya mendominasi Eropa.

Perancis, selayaknya Inggris, adalah pemain penting lainnya dalam sejarah dan politik Eropa dan kebijakan Perancis diterapkan diseluruh bekas jajahannya dalam bentuk kekuatan budaya dan ekonomi sehingga mampu mempengaruhi Dunia. Perancis yang mendominasi Uni Eropa, berhasil menggunakannya untuk memajukan kepentingan Perancis. Dibawah pimpinan Nicolas Sarkozy, Perancis membangun pangkalan militer di Teluk dan bekerjasama dengan AS di Lebanon dan konflik Russia-Georgia.

Jerman adalah negara ketiga terbesar ekonomi dengan nilai 2,7 trilyun dolar dan menjadi ekonomi termaju di Eropa. Di tahun 2004, Jerman adalah eksportir terbesar dunia dengan nilai 912 bilyun dolar. Ekonomi Jerman juga melakukan ekspansi terutama di wilayah Eropa Timur, dengan penerapan sederet kebijakan ekonomi. Jerman juga melakukan peran penting dalam negosiasi pertukaran tawanan perang antara Israel dengan pejuang Hezbullah. Jerman juga menempatkan armada Angkatan Lautnya dalam invasi Israel di Lebanon pada tahun 2006, yaitu frigat Mecklenburg-Vorpommern dan Karlsruhe, yang didukung dengan helikopter, kapal logistik dan perahu patroli dengan kekuatan 1500 personil. Ini adalah penempatan militer terbesar Jerman sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Masalahnya, Jerman memandang dunia dari perspektif Uni Eropa, sedangkan Inggris dan Perancis menggunakan Uni Eropa untuk memajukan  kepentingan nasional masing-masing.

China adalah salah satu negara yang bersaing melawan AS dan memiliki pengaruh yang cukup penting, namun Cina masih merupakan kekuatan lokal. Andai saja Cina tidak memiliki ambisi internasional yang sempit, Cina mungkin bisa bersaing melawan AS secara langsung. Hal ini mungkin saja terjadi dalam waktu dekat. Jepang adalah kekuatan ekonomi dengan jumlah besar di dunia setelah AS, akan tetapi Jepang tidak memiliki pengaruh selain pengaruh ekonomi. Kebijakan Jepang untuk turut serta dalam koalisi pendudukan Afganistan dan penghapusan pasal tentang sikap pasifisme dalam konstitusi Jepang sehingga mampu menempatkan pasukan diluar Jepang, sebenarnya adalah bentuk manuver AS untuk mengimbangi Cina. Pengaruh Jepang,tidak lain adalah kepanjangan tangan dominasi AS di Asia, dan bukan dari Jepang itu sendiri.

Di samping para negara adidaya, ada juga negara-negara yang memiliki pengaruh terbatas di wilayah masing-masing dan bersifat sesaat saja. India, misalnya, memiliki jumlah populasi dunia yang besar dan memiliki senjata bom nuklir dan memiliki potensi untuk berpengaruh di wilayah sekitarnya. Namun India tidak sehebat yang media promosikan dan masih terletak diposisi buncit dari daftar negara adidaya. Italia pun masih memiliki pengaruh di dunia, karena ia pernah menjadi negara adidaya sebelum Perang Dunia Kedua, meski hanya sesaat.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post