Membengkaknya Ekonomi Balon - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, January 9, 2021

Membengkaknya Ekonomi Balon


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK (Direktur Poverty Care)

Kemiskinan di era pandemi global hari ini kian mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, menjadi sangat mendesak untuk menghilangkan segera faktor-faktor yang membuat membengkaknya ekonomi balon dan tidak bergeraknya sektor riil tadi, yakni praktik judi dan ekonomi ribawi. Dalam konteks ekonomi, pelarangan bunga bank (riba) dan judi (dalam bursa saham yang disebut oleh Maurice Alaise sebagai a big casino), dipastikan akan meningkatkan velocity of money, yang pada gilirannya akan melancarkan distribusi kekayaan, karena uang akan selalu menggerakkan aliran barang dan jasa. Kondisi ini bisa dilihat dari produk-produk perbankan dalam Islam yang semuanya terkait dengan aktivitas riil dalam perekonomian, baik melalui akad jual beli maupun bagi hasil, sehingga pertumbuhan uang akan senantiasa diikuti dengan pertumbuhan aliran barang dan jasa. Dan terbukti dalam krisis ekonomi, hanya bank yang berpredikat syariah yang mampu bertahan.

Disisi lain sebenarnya banyak ragam pendapat mengenai sebab-sebab kemiskinan. Namun secara garis besar dapat dikatakan ada tiga sebab utama kemiskinan. Pertama, kemiskinan alamiyah, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang; misalnya cacat mental atau fisik, usia lanjut sehingga tidak mampu bekerja, dan lain-lain. Kedua, kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM, akibat kultur masyarakat tertentu; misalnya rasa malas, tidak produktif, bergantung pada harta warisan, dan lain-lain. Ketiga, kemiskinan stuktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kesalahan sistem yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat.

Dari tiga sebab utama tersebut, yang paling besar pengaruhnya adalah kemiskinan stuktural. Sebab, dampak kemiskinan yang ditimbulkan bisa sangat luas dalam masyarakat. Kemiskinan jenis inilah yang menjadi fenomena di berbagai negara dewasa ini. Tidak hanya di negara-negara sedang berkembang, tetapi juga di negara-negara maju. Bahkan problem ekonomi sesungguhnya memang bukan kelangkaan (scarcity) melainkan buruknya distribusi. Fakta menunjukkan, kemiskinan terjadi bukan karena tidak ada uang tapi karena uang yang ada tidak sampai kepada orang-orang miskin. Juga bukan karena kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA), tapi disebabkan oleh distribusi SDA yang tidak merata. Sistem ekonomi kapitalis telah membuat 80 % kekayaan alam, misalnya, dikuasai oleh 20 % orang, sedangkan 20% sisanya harus diperebutkan oleh 80 % rakyat.

Solusi Praktis

Berbagai problem kemiskinan yang terus mendera bangsa ini merupakan ujian sekaligus pelajaran berharga untuk disikapi dengan bijak. Berdasarkan fitrah manusia selayaknya menjadi kewajiban seorang ayah menghidupi nafkah keluarganya, apabila ada sebuah keluarga dirundung kemiskinan maka yang paling utama memberikan respon adalah kerabat atau tetangganya, jika tidak mampu maka tanggung jawab beralih kepada masyarakat atau warga sekitar yang mampu secara ekonomi. Dan apabila juga tidak sanggup maka semuanya diserahkan lepada pemerintah yang tentu mempunyai kapasitas dan tanggung jawab lebih dibanding yang lainnya. Dalam istilah Islam, maka dana bisa diambil dari baitul mal atau kas negara yang memang telah dipersiapkan untuk hal-hal darurat. Sayang dan anehnya institusi atau departemen yang mengurusi bidang-bidang ini ternyata kurang terlihat atau bahkan tidak bergerak cepat ditengah masyarakat yang memang sangat membutuhkan.

Berkaca dalam lintasan sejarah peradaban Islam telah memberikan pelajaran bagaimana yang ditunjukkan dalam jaminan pemenuhan kebutuhan hidup ini kepada semua warga negara tanpa melihat agamanya; tercatat dalam piagam kesepakatan pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra. yang ditulis oleh Khalid bin Walid untuk menduduk Hirah di Irak yang beragama Nasrani, disebutkan: “Saya tetapkan bagi mereka, orang yang lanjut usia yang sudah tidak mampu bekerja atau ditimpa suatu penyakit, atau tadinya kaya kemudian jatuh miskin, sehingga teman-temannya dan para penganut agamanya memberi sedekah; maka saya membebaskannya dari kewajiban membayar jizyah. Dan untuk selajutnya dia beserta keluarga yang menjadi tanggungannya, menjadi tanggungan Baitul Mal kaum Muslim.”

Sebagai penutup, adanya kesenjangan kaya miskin di era saat ini adalah buah dari diterapkannya sistem Kapitalisme yang sangat individualis berdampak tererosinya rasa kepedulian dan tolong-menolong. Dalam pandangan kapitalis penanggulangan kemiskinan merupakan tanggungjawab si miskin itu sendiri, kemiskinan bukan merupakan beban bagi masyarakat/ umat, negara atau kaum hartawan. Inilah pandangan yang harus dihilangkan dan dijauhi masyarakat. Sudah saatnya kita mencari dan menerapkan sistem alternatif yang shahih selain Kapitalisme, tanpa perlu ada tawar menawar lagi, jika benar-benar berkomitmen untuk mengakhiri episode kemiskinan ini. Wallahua’lam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here