Mencegah Khathr Mabda'i - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, January 29, 2021

Mencegah Khathr Mabda'i


Ilham Efendi (Direktur RIC)

Kemenangan tercapai jika Islam memimpin dunia. Untuk mencapai kemenangan ini, mabda' (ideologi) Islam mutlak tertanam dalam jiwa umat. Hukum/ajaran Islam baik menyangkut konsepsi pemecahan terhadap berbagai masalah masyarakat (fikrah) maupun metode pelaksanaannya (tharîqah) harus terus didakwahkan. 

Ideologi Islam harus ditanamkan. Pada saat umat memiliki opini umum yang didasarkan kesadaran umum atas ideologi Islam maka umat akan berjuang bersama serta mengharuskan dirinya untuk dipimpin oleh partai/jamaah yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan syariah dan menyatukan umat dalam kepemimpinannya dilandasi oleh ideologi. 

Namun, jika umat belum terpahamkan tentang fikrah Islam yang sedang diperjuangkan melalui thariqah-nya, maka bahaya ideologis (khathr mabda’i) akan datang.  Boleh jadi sebagian umat menerima kepemimpinan partai, namun bukan atas dasar ideologi melainkan atas dasar yang lain seperti kemampuannya mengorganisasi acara, kecakapannya mendatangkan massa besar, kesungguhannya dalam merencanakan dan menjalankan kegiatan bersama, dll. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan, sekalipun tidak setuju dengan fikrah yang diperjuangkan partai, tetapi umat 'rela dipimpin'.  Dalam kondisi demikian, ikatan kepemimpinan bukanlah mabda’ (ideologi), melainkan kepentingan.

Jangan heran jika dalam situasi demikian akan muncul tuntutan kepentingan sesaat kepada partai.  Kalau tuntutannya sesuai dengan fikrah dan tharîqah yang ditempuh tampaknya tidak akan menjadi problem.  Namun, akan lain jika tuntutannya misalnya: (1) tuntutan untuk bersikap kompromi terhadap sistem dan penguasa sekular; (2) tuntutan segera berkuasa dengan menjatuhkan penguasa dengan tetap mempertahankan sistem sekular; (3) bertindak anarkis agar suatu tuntutan dikabulkan oleh penguasa; (4) fokus pada merebut kekuasaan dengan mengabaikan penanaman mabda’ dalam diri umat; (5) bergabung dengan sistem kufur yang ada; dll. 

Tentu, pilihannya amat berat.  Jika memilih tuntutan tersebut maka partai harus mengorbankan fikrah dan tharîqah yang diembannya dalam perjuangan.  Sebaliknya, jika tidak memenuhi tuntutannya boleh jadi akan ada tudingan-tudingan miring terhadap partai.  Pilihannya hanya satu: berpeganglah pada mabda’ karena perjuangan ini memang demi tegaknya mabda’ Islam dan ruh Hizb adalah mabda Islam itu sendiri.  Lihatlah, bagaimana sikap tegas Nabi saw. mempertahankan mabda’ saat ditawari harta, tahta dan wanita oleh Quraisy; begitu juga sikap tegas beliau berpegang pada mabda’ Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah.  “Aku ini Rasulullah, tidak akan menyalahi perintah-Nya,” kata Beliau saat itu.  Sikap negatif umat hanyalah sesaat, akan berubah dengan makin pahamnya mereka terhadap fikrah dan tharîqah yang ditempuh.  

Untuk menghindari terjadinya hal ini perlu ditempuh beberapa hal, di antaranya: (1) berpegang teguh pada hukum Islam secara total, baik fikrah maupun tharîqah-nya; (2) bersungguh-sungguh membina umat dengan mabda’ Islam serta melakukan pergolakan terhadap pemikiran kufur, membongkar rencana jahat asing; (3) menjaga kejernihan pemikiran dan pemahaman partai; (4) terus berjuang berada di tengah-tengah umat dengan hidup bersama mereka, berkomunikasi, beraktivitas bersama, dll.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here