Menggelitik, Umat Islam Jadi Bancaan Keputusan Politik - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, January 29, 2021

Menggelitik, Umat Islam Jadi Bancaan Keputusan Politik


Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

“Maunya enak saja. Giliran diminta mengambil Islam kaffah, ogah?”

Gambaran itu tampak dalam keputusan politik demokrasi. Watak demokrasi di negeri muslim biasanya mencoba adaptasi sebagian dan menolak kebanyakan syariah Islam. Sudut pandang politik demokrasi yang matrealistik mudah tergiur dengan harta umat Islam. Ragam kebijakan itu tampak dipoles agar umat Islam ikhlas membantu. Padahal ada udang di balik batu.

Mungkin banyak yang tidak sadar, pasca umat Islam tak memiliki institusi pelindung, umat menjadi bancaan. Keputusan politik yang dibuat penguasa seringnya menikam pelan-pelan. Membunuh dalam senyap model perundang-undangan. Menariknya mengkaji wujud nyata demokrasi di Indonesia. Entitas negeri muslim yang dianggap bisa berdampingan demokrasi. Padahal ekspektasi itu jauh dari realita yang ada. 

Bagaimana itu semua bisa? Tampaknya inilah yang perlu diketahui publik yang selama ini berlindung di bilik.

Pertama, fakta mendasar demokrasi itu sekularisme. Memisahkan pengaturan agama dalam bernegara. Watak dasar ini terjadi di seluruh negara yang mengambil demokrasi. Jikapun ada di neger muslim yang mengambil demokrasi, itu lebih dilandasi kepentingan dari tangan penjajahan politik Barat

Kedua, syariah dalam pandangan demokrasi itu hanya yang ada untung. Selain itu, pasti diperundung. Misal, syariah Islam yang mengatur pakaian, poligami, dan hukum. Politik Islam dijadikan ancaman. Umatnya dituduh ekstrimis, radikalis, dan intoleran. Berbeda dengan potensi dana umat Islam melimpah. Sebisa mungkin penguasa menggunakan dalil sah untuk membantunya. Misalnya dana wakaf, infaq, zakat, umroh dan haji. Sementara mereka lupa, harta karun sumber daya alam justru diserahkan ke korporasi serakah.

Ketiga, rakyat dalam sudut pandang demokrasi hanya sekumpulan suara berguna di pemilu. Pasca itu, rakyat hanyalah setempel dan alasan demi melindungi rakyat untuk menetapkan kebijakan. Pertanyaanya, rakyat yang mana? Sebab sering saja ada rakyat yang dirugikan. Sementara ada kapitalisasi suara rakyat untuk tetap menjabat.

Keempat, umat Islam harus kian menyadari bahwa Islam hadir memberi solusi. Tak sekadar janji surgawi. Islam mengatur hidup secara rinci. Jika syariah Islam bisa diterapkan dalam kehidupan, maka kebahagiaan dan kesejahteraan didapatkan. Pemimpin negara tidak lagi bergantung pada suara rakyat dan perlindungan konglomerat. Pemimpin itu paham jika Allah Sang Maha Hebat. Syariah-Nya pun terasa lezat dan membawa maslahat. Kesempurnaan Islam itulah yang saat ini harus kembali direnungkan oleh umatnya. Syukur bisa diperjuangkannya.

Oleh karena itu, umat Islam harus tahu ‘capek’ jadi bancaan keputusan politik. Ke depan tak boleh balik kucing dengan demokrasi yang bikin pusing. Umat memiliki pegangan nyata dari Allah yang Menciptakan manusia. Jika manusia itu masih meyakininya?


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here