Mengkritisi Mitos Overpopulasi Dunia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, January 9, 2021

Mengkritisi Mitos Overpopulasi Dunia


Lukman Noerochim (Direktur FORKEI) 

Situasi atas mayoritas penduduk dunia saat ini adalah diliputi kemiskinan dan kesengsaraan. 3 milyar manusia di dunia hidup dengan pendapatan kurang dari dua dolar (atau lebih kurang dua puluh ribu) sehari. 1,3 milyar diantaranya tidak punya akses bagi air bersih; 3 milyar tidak punya akses untuk sanitasi dan 2 milyar tidak punya akses untuk listrik. Tingkat pertumbuhan pada abad yang lalu disebut sebagai biang keladi yang menyebabkan keadaan dunia sekarang berada di tepi jurang malapetaka; argumen yang seringkali diutarakan adalah bahwa dunia kekurangan makanan untuk bisa menopang populasi yang demikian besar. Para pendukung overpopulasi mengklaim bahwa pertumbuhan populasi dunia yang besar inilah yang menyebabkan kemiskinan, kehancuran lingkungan dan ketimpangan sosial. Tidak mungkin terjadi pertumbuhan ekonomi pada Dunia Ketiga selama populasinya terus bertambah. Akibatnya, lembaga-lembaga internasional dan pemerintahan di dunia mengembangkan banyak program untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk, yang semuanya diterapkan pada Dunia Ketiga.

PBB mensponsori konperensi pertama mengenai masalah ini pada tahun 1994 di Kairo untuk menganalisa masalah overpopulasi dan mengajukan sejumlah langkah untuk mengkontrolnya. Pada konperensi itu diperdebatkan sedemikian banyak pendekatan untuk mengkontrol fertilitas; seperti dipromosikannya penggunaan alat kontrasepsi, perkembangan ekonomi liberal dan diserukannya peningkatan status wanita. Dasar dari konperensi itu adalah suatu penerimaan atas anggapan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan kemorosotan ekonomi dan dilakukannya usaha-usaha untuk mengkontrol pertambahan penduduk di Dunia Ketiga terhambat oleh keyakinan agama yang mendorong dimilikinya keluarga yang besar dan kurangnya pendidikan bagi wanita.

Usaha-usaha semacam itu menyebabkan diterimanya pandangan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan efek-efek negatif seperti kemerosotan dan kemandegan ekonomi, kemiskinan global, kelaparan, kerusakan lingkungan dan ketidak stabilan politik. Filosofi semacam itu telah menjadi mesin pendorong bagi PBB dan Bank Dunia. Pertumbuhan penduduk adalah sebuah problem bagi Afrika, Amerika Latin dan Asia dan jika masalahnya mau terpecahkan maka Negara-negara itulah yang harus melaksanakannya. Dalam hal ini, korban yang telah sangat menderita malah dipersalahkan dengan riset empiris yang mendukung asumsi semacam itu.

Orang pertama yang menyokong pandangan semacam itu adalah Thomas Malthus pada tahun 1798, yang dalam tulisannya yang terkenal berjudul Essay on the Principle of Population, menyatakan bahwa kelangkaan barang akan menyebabkan masalah karena penduduk bertambah sesuai dengan deret ukur (2, 4, 8, 16, 32), sedangkan sumber-sumber daya seperti makanan bertambah sesuai dengan deret hitung (2, 4, 6, 8, 10). Akibatnya, tanpa dilakukan ‘pengecekan’ lebih dulu untuk mengkontrol fertilitas, populasi akan bertambah sehingga menghabiskan sumber daya dunia dan akhirnya menyebabkan kelaparan, hingga terjadi peperangan dan penyakit untuk menyeimbangkan sumber daya dan populasi.

Namun, tuduhan apapun terhadap overpopulasi harus dilihat dalam kaitanya dengan beberapa tindakan independen untuk mencek ketelitiannya yakni sesuatu yang terkait dengan pemakaian sumber daya. Sumber daya yang dikonsumsi yang menyebabkan ketidak seimbangan global adalah berhubungan dengan besarnya populasi.

Walaupun tidak ada konsensus mengenai kenapa Negara pertama di dunia yang menjadi Negara industri adalah Inggris, salah satu dari 8 faktor penyebab potensialnya adalah karena pertumbuhan penduduk.

Menyusul dilakukannya penyatuan dengan Skotlandia tahun 1707,  penduduk Inggris saat itu adalah 6.5 juta; seabad kemudian jumlahnya naik menjadi 15 juta.  Yang lebih penting lagi,  sebagian besar pertumbuhan itu terjadi setelah tahun 1750 yang merupakan salah satu ledakan  penduduk terbesar dalam sejarah Inggris. Pada tahun 1801,  populasinya telah meningkat menjadi lebih dari 16 juta. Peningkatan ini adalah kritis, karena hal ini menaikkan jumlah tenaga buruh potensial dan konsumen atas komoditas. China dan India juga telah menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang besar adalah suatu hal yang baik, walaupun selama tahun 1960-an dan 1970-an kedua Negara menerapkan program-program pengurangan penduduk. Di bawah pengaruh Barat, kedua Negara itu mampu mengurangi besarnya jumlah penduduk tapi tidak mampu membatasinya dan pada saat yang sama, kedua Negara tadi menjadi raksasa ekonomi yang tumbuh di dunia, dimana hal ini bertentangan dengan pandangan overpopulasi yang menyatakan bahwa semakin banyak orang maka semakin banyak sumber daya yang habis.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here