Mereka Yang Menghadang Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 6, 2021

Mereka Yang Menghadang Khilafah


Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)

Untuk mengetahui permusuhan AS pada kebangkitan Khilafah Islamiyah tentu masih relevan kita cermati salah satu pesan mingguan bagi rakyat AS dalam radio pada 9 September 2006, Presiden AS George W. Bush menyampaikan hal serupa. Bush menyatakan bahwa kaum Muslim berharap akan “establish a totalitarian Islamic empire across the Middle East, which they call a Caliphate, where all would be ruled according to their hateful ideology” (membangun suatu adikuasa Islam totaliter di sepanjang Timur Tengah, yang mereka sebut Khilafah, dimana semua warga akan diatur berdasarkan ideologi kebencian mereka). Lebih jauh, Bush menyatakan, ”America still faces determined enemies. And in the long run, defeating these enemies requires more than improved security at home and military action abroad. We must also offer a hopeful alternative to the terrorists’ hateful ideology. So America is taking the side of democratic leaders and reformers and supporting the voices of tolerance and moderation across the Middle East. By advancing freedom and democracy as the great alternative to repression and radicalism, and by supporting young democracies like Iraq, we are helping to bring a brighter future to this region — and that will make America and the world more secure”. [Amerika masih menghadapi musuh-musuh yang tentu. Dalam jangka panjang, menghadapi musuh-musuh ini memerlukan lebih dari sekedar penjagaan keamanan dalam negeri dan aksi militer di luar negeri. Kita juga harus menebarkan suatu alternatif penuh harapan bagi ideologi kebencian kaum teroris. Jadi, Amerika berdampingan dengan para pemimpin dan tokoh reformasi demokrasi, serta menyokong seruan tolerance dan moderasi di Timur Tengah. Dengan mengembangkan kebebasan dan demokrasi sebagai alternatif luar biasa bagi radikalisme, dan dengan menyokong demokrasi muda seperti Irak, maka kita sedang berupaya mendatangkan masa depan lebih cerah ke kawasan ini – dan itu akan membuat Amerika dan dunia lebih aman] (Distributed by the Bureau of International Information Programs, U.S. Department of State. Web site: http://usinfo.state.gov, 09 September 2006).

Berdasarkan hal di atas, dapat dipahami beberapa langkah yang ditempuh AS, antara lain:

1. AS menuduh kelompok Islam yang melawan peradaban kapitalisme yang menjajah dan menzhalimi umat Islam khususnya dan negara-negara dunia ketiga umumnya sebagai kelompok ekstrimis. Amerika mendorong agar kaum Muslim, khususnya penguasa dan tokoh masyarakat, untuk memusuhi kelompok-kelompok tersebut. Bahkan, Presiden AS saat itu menegaskan bahwa musuh umat Islam adalah kelompok-kelompok Islam yang melawan penjajahan peradaban Barat, musuh itu bukan AS.

2. AS mendudukkan bahwa Islam yang dikatakan ekstrim itu berasal dari Timur Tengah, bukan dari yang lain. Dari sini, Bush hendak mengatakan bahwa Islam tersebut harus ditolak karena bukan lahir dari lokal. Karenanya, dalam konteks Indonesia, yang tidak ’indonesiawi’, termasuk Khilafah, harus ditolak. Padahal, walisongo yang menyebarkan Islam di sini mayoritas adalah utusan Khilafah.

3. AS mendorong para pemuka umat Islam agar lebih bersuara keras mengecam kelompok-kelompok radikal yang menyusup ke masjid-masjid, serta mengecam organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam, mendukung dan membiayai aksi-aksi kekerasan. Dari sini dapat dimengerti bila kelak muncul pencekalan penggunaan masjid bagi organisasi Islam tertentu, tudingan tanpa dasar terkait rebutan masjid, dan suara lantang kecaman terhadap kelompok-kelompok Islam yang dianggap membahayakan kepentingan kapitalisme yang diusung AS.

4. AS mempropagandakan Khilafah secara tidak berdasar, seperti tudingan penerapan Islam berdasar atas ideologi kebencian (padahal perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan) dan totaliter (padahal perlawanan terhadap kebiadaban dan hegemoni). Pihak yang tidak cermat, akan termakan oleh propaganda tersebut. Karenanya, umat Islam sejatinya berdialog tentang hakikat Khilafah, bukan menari diatas genderang AS.

5. AS menggandeng tangan para penguasa untuk mencegah kembalinya Khilafah. AS mencapnya sebagai serangan terhadap peradaban kapitalisme. Padahal, Khilafah adalah perlawanan terhadap perilaku penjajahan dan kezhaliman kapitalisme pimpinan AS, lalu mewujudkan peradaban manusia yang modern dan beradab. Tidaklah mengherankan, bila para penguasa dunia Islam saat ini belum dapat menerima Khilafah sebagai solusi yang digali dari al-Quran dan as-Sunnah maka penyebabnya bukanlah ketidaksesuaian Khilafah bagi dunia Islam melainkan kuatnya tekanan AS terhadap mereka. Dan mereka pun terpedaya.

Melihat hal-hal di atas nampak ada keselarasan antara apa yang menjadi kebijakan AS dengan suara-suara pihak yang tidak setuju dengan khilafah. Jadi, umat Islam jangan sampai terjebak pada kebijakan AS yang ingin melanggengkan hegemoninya di dunia. Yang penting sekarang adalah berdialog secara logis, intelektual dan syar’iy untuk menyelesaikan masalah Indonesia, khususnya, dan dunia pada umumnya. Marilah duduk bersama berbicara tentang Khilafah sebagai solusi.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here