Negara Adidaya dan Negara Pengekor


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Ketika kita memahami konstelasi internasional, perlu merujuk pada buku yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr (Konsepsi Politik Hizbut Tahrir). Pendiri Hizbut Tahrir ini membagi negara-negara di dunia menjadi empat: (1) Negara Pertama; (2) Negara Pengekor; (3) Negara Satelit; (4) Negara Independen.

Negara Pertama adalah negara adidaya yang membuat kebijakan secara internasional. Negara inilah yang menghegemoni dunia dan memiliki pengaruh utama dalam konstelasi politik internasional. Contohnya adalah Amerika Serikat sekarang.

Negara Pengekor adalah negara yang terikat dengan negara lain dalam politik luar negerinya, seperti Mesir terhadap AS dan Khazakhstan terhadap Rusia.

Negara Satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan sebagai pengekor. Misal: Jepang terhadap AS, Australia terhadap AS dan Inggris, dll.

Negara Independen adalah negara yang mengelola politik dalam dan luar negerinya berdasarkan kehendaknya sendiri. Misal: Prancis, Cina dan Rusia.

Bagaimana dengan negeri-negeri Islam saat ini? Bisa dikatakan, sebagian besar negeri-negeri Islam adalah negara pengekor. Kebijakan luar negerinya tidak mandiri, tetapi bergantung pada ‘Tuan Besar’-nya: Inggris atau Amerika Serikat. Sebagai negara pengekor, kebijakan luar negeri mereka didikte sesuai dengan kepentingan ‘Tuan Besar’-nya. Pemimpin negeri pengekor ini pun tidak peduli apakah kebijakannya memberikan manfaat bagi rakyat atau tidak. Mereka juga tidak peduli meskipun kebijakannya  menyengsarakan dan membunuh rakyatnya sendiri. Yang penting, mereka menjalankan kepentingan sang Tuan Besarnya dengan baik.

Sebagai contoh: Musharaf sewaktu menjabat menjadi Presiden Pakistan yang menjadi kaki tangan AS di Pakistan. Kebijakan yang dia ambil baik dalam luar negeri ataupun dalam negeri tidak lebih dari sekadar mengikuti arahan AS. Penguasa pengkhianat ini memberikan jalan lebar bagi tentara AS untuk menyerang Afganistan, tetangga yang penduduknya beragama Islam. Dia pun menjadi mitra utama AS untuk memerangi apa yang mereka sebut sebagai fundamentalis dan teroris.

Untuk menunjukkan penghambaannya, Musharaf menyerang para Mujahidin dan kabilah-kabilah di perbatasan Afganistan yang berjuang membebaskan diri dari penjajahan AS dan sekutunya. Dia dengan bangga membunuh rakyat dan saudaranya sendiri, termasuk rakyat sipil dan para santri, untuk menunjukkan kepada AS bahwa dia serius memerangi para fundamentalis.

Musharaf jugalah yang  memerintahkan tentara untuk menyerbu Masjid Merah yang mengakibatkan ratusan santri terbunuh. Padahal saat itu ulama Pakistan yang menjadi mediator hampir berhasil melakukan negosiasi damai. Namun, Musharaf memilih membunuh para santri. Sekali lagi, ini untuk membuktikan bahwa dia pelayan setia AS. Musharaf juga meninggalkan pejuang Khasmir yang ingin membebaskan diri dari penjajahan India. Alih-alih mendukungnya, Musharaf bahkan menyebut mereka sebagai teroris.

Profil yang sama ada pada penguasa negeri Islam yang lain. Mesir, negara nomor dua penerima bantuan luar negeri AS terbessar setelah Israel, dipimpin oleh penguasa jahat yang kejam. Mubarak menjadi kaki tangan AS untuk menghancurkan para pejuang Islam yang  ingin menegakkan syariah Islam di negara itu. Mubarak  melakukan ini untuk memuaskan Tuan Besarnya, AS, yang tidak ingin Mesir menjadi negara Islam. Alih-alih mengirim pasukan untuk membela saudaranya di Palestina, Mubarak malah menangkapi siapapun yang ingin berjuang di Palestina. Perbatasan Mesir-Palestina dijaga ketat oleh pasukan Mesir, bukan untuk bersiap-siap perang, tetapi memblokade Mujahidin yang ingin masuk ke Palestina, termasuk memblokade senjata.

Penguasa dari negara pengekor ini sungguh telah merendahkan dirinya di hadapan kaum Muslim. Sebagian besar rakyat dari negara pengekor ini menganggap pemimpinnya adalah musuh mereka. Begitu pula sebaliknya. Doa-doa rakyat bukan lagi berisi permohonan kepada Allah agar memberikan keselamatan dan petunjuk bagi pemimpinnya. Doa mereka berisi agar para pemimpin mereka dilaknat Allah Swt.

Pemimpin seperti ini jelas akan dihinakan oleh Allah Swt. Tempatnya adalah di neraka yang sangat mengerikan. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang didoakan oleh Rasulullah saw., “Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab kepemimpinan umat, dan menimbulkan kesulitan bagi mereka (umat), maka beri dia kesulitan, dan  siapa saja yang berbuat baik kepada mereka, maka beri dia kebaikan.” (HR Muslim).

Ironisnya, mereka juga dihinakan oleh Tuan Besar mereka sendiri. Setelah dianggap tidak lagi bermanfaat sebagai kaki tangan kepentingan negara-negara besar, mereka pun dicampakkan. Lihatlah nasib Husni Mubarak, dijatuhkan dengan hina, setelah AS menganggapnya tidak lagi berguna. Meskipun sudah mengabdi dengan setia, Nawaz Syarif dijatuhkan oleh AS. Al Sisi kemungkinan besar akan mengalami nasib yang sama. Hidup mereka berakhir dengan tragis: dihujat, diusir dari negaranya dan dihinakan rakyatnya.

Itulah akibatnya ketika negeri-negeri Islam menanggalkan ideologi Islam sebagai asas politik luar negeri mereka.  Padahal sesungguhnya yang membuat sebuah negara kuat adalah ideologinya. AS menjadi jaya—meskipun membawa penderitaan bagi umat manusia yang lain—karena merupakan negara ideologis. AS berpegang teguh pada ideologi Kapitalismenya. Kebijakan luar negeri AS pun jelas: menyebarkan ideologi Kapitalisme dan membuat negara-negara di dunia mengadopsinya. AS menjadikan nilai-nilai Kapitalisme—seperti HAM, demokrasi, pluralisme, liberalisme, sekularisme dll—sebagai isu utama dunia. Metode politik luar negeri AS juga jelas, yakni penjajahan dalam segala bentuknya: politik, militer atau ekonomi.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post