Paris Agreement, Selisih Jalan Deforestasi Kalimantan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, January 22, 2021

Paris Agreement, Selisih Jalan Deforestasi Kalimantan


 

 

Oleh : Nindira Aryudhani, S. Pi, M. Si

(Koordinator LENTERA)

 

Banjir bandang melanda Kalimantan Selatan pada awal 2021. Genangan air terluas terjadi di Barito Kuala yang mencapai 60 ribu hektare. Hingga 17 Januari 2021, bencana alam ini menelan 15 korban jiwa dan merugikan 296 ribu penduduk.

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat curah hujan di Kalimantan Selatan sebesar 461 mm selama 9-13 Januari 2021. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan sepanjang Januari tahun lalu yang sebesar 394 mm. Oleh karena itu, volume air yang masuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito mencapai 2,08 miliar m3, padahal kapasitas normalnya hanya 238 juta m3. Namun, intensitas hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab banjir bandang tersebut (katadata.co.id, 21/01/2021).

 

Masih dari laman yang sama, diketahui hasil analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), perubahan penutup lahan di DAS Barito kemungkinan turut memicu banjir paling parah di Kalimantan Selatan ini. Dalam 10 tahun terakhir, hutan primer yang belum ada bekas tebangan atau gangguan menyusut seluas 13 ribu hektar. Penurunan pun terjadi pada luas hutan sekunder sebesar 116 ribu hektar, sawah 146 ribu hektar, dan semak belukar 47 ribu hektar. Sebaliknya, terjadi perluasan area perkebunan yang cukup signifikan sebesar 219 ribu hektar.

 

Sementara itu, data Global Forest Watch menunjukkan Kalimantan Selatan kehilangan 794 ribu hektar lahan tutupan pohon pada periode 2001-2019, dengan 10,4% di antaranya termasuk kawasan hutan primer. Penurunan tertinggi di Kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu, masing-masing dengan 266 ribu dan 160 ribu hektar. Penurunan luas hutan (deforestasi) bisa menyebabkan atau memperparah banjir di Indonesia karena hutan berfungsi menyerap air dari curah hujan tinggi.

 

Forest Watch Indonesia (FWI) dalam laporan Angka Deforestasi sebagai “Alarm” Memburuknya Hutan Indonesia (2019) menjelaskan jika hutan terganggu, ekosistemnya tidak akan mampu menahan air hujan dalam jumlah besar sehingga aliran yang lolos lebih banyak dibandingkan yang terserap ke dalam tanah, lantas menyebabkan banjir.

 

Mencermati hal ini, tentu kita tak dapat melupakan jargon besar perubahan iklim yang diusung dunia internasional dalam Paris Agreement.

 

Dikutip dari laman ojk.go.id (03/04/2017), Paris Agreement atau Persetujuan Paris merupakan perjanjian dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengenai mitigasi emisi gas rumah kaca, adaptasi, dan keuangan. Persetujuan ini diharapkan efektif terlaksana tahun 2020.

 

Persetujuan ini dinegosiasikan oleh 195 perwakilan negara-negara pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-21 di Paris, Prancis. Setelah proses negosiasi, persetujuan ini ditandatangani tepat pada peringatan Hari Bumi tanggal 22 April 2016 di New York, Amerika Serikat.

 

Tercatat hingga Maret 2017, 194 negara telah menandatangani perjanjian ini dan 141 diantaranya telah meratifikasi perjanjian tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani perjanjian ini pada 22 April 2016. Terkait hal ini, persentase gas rumah kaca yang diratifikasi oleh Indonesia adalah sebesar 1,49%.

 

Tujuan dibentuknya Perjanjian Paris tertuang dalam pasal 2, yaitu:

 

“Menahan laju peningkatan temperatur global hingga di bawah 2 derajat celcius dari angka sebelum masa Revolusi Industri, dan mencapai upaya dalam membatasi perubahan temperatur hingga setidaknya 1,5 derajat Celcius, karena memahami bahwa pembatasan ini akan secara signifikan mengurangi risiko dan dampak dari perubahan iklim.”

 

“Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim, meningkatkan ketahanan iklim, dan melaksanakan pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca tanpa mengancam produksi pangan.

Membuat aliran finansial yang konsisten demi tercapainya pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca dan tahan terhadap perubahan iklim.”

 

Namun apa yang terjadi di Kalimantan Selatan sungguh telak menyelisihi Paris Agreement. Ketika ternyata ada data bukti deforestasi yang diluncurkan oleh LAPAN tadi. Karenanya, efektivitas Paris Agreement pada 2020 di Indonesia pun tak ubahnya harapan palsu. Awal 2021, Kalimantan Selatan banjir bandang.

 

Apakah beragam sajian konvensi perubahan iklim produk kapitalisme ini masih dapat dipercaya? Ketika mereka menyolusi masalah dengan fakta baru. Ibarat gali lubang tutup lubang. Menyelesaikan perubahan iklim semata dengan Paris Agreement, tapi di sisi lain malah memberi ruang luas investasi. Berikut diiringi ketidakkuasaan menahan laju kapitalisasi sumberdaya alam yang harus dibayar dengan deforestasi hebat. Tak heran, jika kemudian hanya berbuah kepanikan tanpa henti. Kebijakan-kebijakan baru tidak mampu memberi solusi tuntas.

 

Ibarat kata, alam pun murka, karena mereka tak dikelola dengan aturan dari Yang Menciptakan mereka. Alam diatur berdasarkan keserakahan manusia. Tanpa sedikitpun melirik aturan Allah SWT.

 

Paris Agreement hanya sekadar kamuflase untuk menopengi keserakahan kapitalisme. Ingatlah, ini baru soal deforestasi lahan untuk batubara dan sawit. Ini masih belum konversi lahan untuk tambang nikel, yang digadang-gadang menjadi sumberdaya inti bagi industri mobil listrik. Yang sedianya menjadikan Indonesia negara pertama di dunia tempat produksi mobil listrik dari hulu hingga ke hilir.

 

Maka, bayangkan dan waspadai sejak sekarang, akan separah apa dampaknya jika bumi ini kian digerogoti nafsu buas kapitalisme namun kian dijauhkan dari aturan Penciptanya?

 

Na’udzubillaahi min dzaalik.

 

Allah SWT berfirman : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf [07]: 96).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here