Partai Islam Bisa Menang, Jika... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, January 14, 2021

Partai Islam Bisa Menang, Jika...


Hadi Sasongko (Direktur PoroS)

Hizbun (partai) dan siyasah (politik) adalah partai politik (hizb[un] siyasiy[un]) adalah suatu kelompok yang terorganisasi yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, cita-cita dan tujuan yang sama dalam rangka mengurusi urusan rakyat.  Partai politik Islam berarti partai yang ideologi, orientasi, nilai-nilai, cita-cita, tujuan dan caranya didasarkan pada ajaran Islam. 

Dilihat dari realitasnya, fungsi utama keberadaan partai politik adalah mengurusi urusan rakyat.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek.  Pertama: teoretisasi partai politik itu sendiri.  Secara teoretis, partai politik berfungsi menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat. Partai melakukan penggabungan kepentingan masyarakat (interest aggregation) dan merumuskan kepentingan tersebut dalam bentuk teratur (interest articulation). Partai politik juga memberikan sikap, pandangan, pendapat dan orientasi terhadap fenomena (kejadian, peristiwa, kebijakan) politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Tujuannya untuk membela kepentingan rakyat. Partai politik yang tidak berupaya untuk mengurusi urusan rakyat telah kehilangan eksistensinya.  Kalaupun tetap disebut partai, ia hanyalah partai semu, atau bahkan sekadar nama belaka. 

Kedua: realitas perilaku partai politik sekarang. Di luar negeri ataupun di dalam negeri perilaku partai politik sama.  Partai sama-sama berupaya untuk meraih dukungan masyarakat. Karenanya, tidaklah aneh jika partai-partai politik dalam setiap kesempatan berupaya untuk meraih dukungan rakyat dengan janji-janji akan mensejahterakan rakyat; mulai dari slogan ‘demi rakyat’, ‘bersama kita bisa’, dll hingga kunjungan ke pasar atau makan nasi aking bersama mereka yang kelaparan. Semua itu acapkali dilakukan oleh para aktivis partai politik saat ini.  Di luar negeri pun kampanye partai politik banyak mengangkat isu-isu yang sensitif bagi rakyat.  Gambaran ini menunjukkan bahwa memang hakikatnya partai politik itu diadakan dalam rangka mewujudkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat. 

Sayang, kebanyakan partai politik yang kini ada hanya menyapa rakyat saat Pilkada atau Pemilu. Setelah itu rakyat dilupakan.  Ketika rakyat susah, mereka menyetujui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM); suap dan sogok pun merajalela di kalangan partai; undang-undang (UU) dibuat bergantung pada uang sehinga lahirlah UU yang melegalisasi penyerahan kekayaan sumberdaya alam milik rakyat kepada pihak asing.  Tentu, ini bukan karakter partai politik sejati.   

Ketiga: secara syar’i partai politik memang diperintahkan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.  Di antara dalil perintah mendirikan partai politik Islam adalah firman Allah Swt.:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]:104).

Dalam ayat itu dijelaskan bahwa kelompok (partai) itu memiliki dua fungsi: yaitu da’wah ila al-khayr (mendakwahkan kebaikan) dan amar makruf nahi mungkar.  Imam Jalalain memaknai al-khayr sebagai al-Islam. Imam Ibnu Katsir mengartikan al-khayr dengan ‘itba’ al-Qur’an wa as-Sunnah’ (mengikuti al-Quran dan as-Sunnah).  Pada sisi lain, amar makruf berarti memerintahkan segala sesuatu yang sesuai dengan Islam dan nahi mungkar berarti mencegah segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Jadi, karakter partai yang dituntut al-Quran adalah menyerukan Islam secara keseluruhan, menyuruh menerapkan dan melaksanakan Islam, serta mencegah perbuatan mungkar. Menjadikan partai sebagai sarana untuk memperkaya diri dan kelompok dengan memanfaatkan uang rakyat dan negara jelas bertentangan dengan Islam. Membiarkan rakyat kelaparan, sementara wakil partai justru jalan-jalan ke luar negeri, tegas-tegas mengabaikan ajaran Islam. Membiarkan rakyat dirusak akidahnya melalui berbagai tayangan merupakan pengkhianatan terhadap Islam yang mengharuskan menjaga kemurnian akidah. 

Jelaslah, keberadaan partai sejak awal didedikasikan bagi dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkar demi memenuhi kepentingan rakyat.  Karenanya, standar kemenangan suatu partai politik adalah keberhasilannya menyelesaikan problematika masyarakat. Kemenangan partai politik bukan sekadar menang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Umum (Pemilu). Jika tolok ukur kemenangan itu hanyalah kemenangan dalam Pilkada dan Pemilu, lantas untuk apa kursi yang telah diraih itu? 

Banyak sekali nash-nash yang menegaskan bahwa jabatan, apapun termasuk jabatan yang diperoleh melalui partai politik, haruslah dalam rangka mengurusi dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Rasulullah saw. bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ. وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu itu lemah, sementara jabatan itu merupakan suatu amanah. Jabatan itu nanti pada Hari Kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang dapat memanfaatkan haknya dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya (HR Muslim).

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seorang pemimpin kaum Muslim mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya (HR Bukhari-Muslim).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here