Penyakit Boros Negara Maju - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, January 9, 2021

Penyakit Boros Negara Maju


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Negara maju dicirikan dengan industri konsumsinya, karena mereka terobsesi dengan konsumsi. Ekonomi diukur oleh kemampuan mereka untuk menghasilkan jumlah yang sama seperti periode tahun lalu dan Gross domestic product (GDP) telah menjadi alat dimana kemajuan dan kebahagiaan diukur. Pandangan Barat melihat kebutuhan mereka selalu naik dan karena dilakukannya teknik-teknik marketing yang baru maka dihasilkan sedemikian banyak kebutuhan-kebutuhan yang artificial selama bertahun-tahun. Pentingnya konsumsi untuk mengkonsumsi digaris bawahi oleh Richard Robbins dalam bukunya yang meraih penghargaan ‘global problem and the culture of capitalism (masalah global dan budaya kapitalisme),’ ‘beberapa hari setelah al Qaeda menabrakkan dua pesawatnya ke gedung WTC pada tanggal 11 September, para anggota kongres Amerika bertemu untuk merumuskan suatu pesan pada publik. “Kami harus memberi keyakinan pada masyarakat untuk kembali keluar dan bekerja, membeli barang, kembali berbelanja di toko-toko, bersiap menyambut thanksgiving day, bersiap menyambut Natal,” kata seorang anggota kongres, dengan meniru ucapan Presiden ‘keluarlah’ katanya ‘dan jadilah anggota masyarakat yang aktif’. (CNN 2001). ‘Kenyataan bahwa setelah salah satu kejadian yang paling mengejutkan dalam sejarah Amerika itu, para pejabat pemerintah mendorong penduduk untuk berbelanja dan bekerja adalah bukti yang cukup akan arti pentingnya konsumsi agar ekonomi kita bisa berjalan efektif dan termasuk juga untuk seluruh masyarakat.”

Pada masyarakat telah terjadi perubahan dari membeli apa yang diperlukan untuk bisa survive menjadi kebiasaan membeli dimana barang-barang mewah dirubah menjadi suatu keperluan hidup; hal ini terjadi terutama karena adanya pemasaran (marketing) dan iklan (advertising). Tujuan dari para pemasang iklan adalah untuk senantiasa menjadikan konsumen memiliki keinginan yang menggebu-gebu dan menciptakan nilai pada komoditas dengan memberinya daya tarik yang akan menjadikan orang memilikinya. Maka dilakukanlah kampanye secara nasional  dimana selebritis digunakan untuk ikut menyokongnya. Para pengiklan, dengan bantuan perusahaan,  senantiasa menciptakan kegelisahan pada orang untuk memiliki barang-barang yang ‘baru’  atau ‘up to date’. Memiliki barang-barang ‘modern’ telah menjadi keharusan dan ‘ketinggalan zaman’ digambarkan sebagai kegagalan dalam kehidupan. Inilah yang diciptakan oleh Kapitalisme untuk memastikan bahwa konsumen terus mengkonsumsi. 

Keluarga inti dari Negara-negara Barat dengan hanya 2.4 anak dalam keluarga, selalu mengkonsumsi jauh lebih banyak sumber daya dibandingkan dengan jumlah yang lebih kecil yang dikonsumsi oleh keluarga di Dunia Ketiga. Setelah Perang Dunia II, Departemen Perdagangan Amerika, yang bertindak atas tekanan karena ekonomi Amerika sangat terpengaruh oleh perang itu,  mempromosikan pandangan atas rumah tangga yang lebih besar, dan bahkan dengan lebih banyak jumlah anak, untuk menaikkan penjualan banyak produknya agar dibeli di dalam negeri.  Dikarenakan hal ini, Amerika dengan 6% populasi dunia, mengkonsumsi 25% sumber daya dunia. Ini adalah kenyataan yang sangat kontradiktif pada apa yang digembar-gemborkan oleh Amerika dalam kaitannya dengan “over” populasi.

Hal ini dikarenakan adanya kepentingan bisnis yakni untuk bisa mensuplai barang-barang mereka dan untuk mendorong berlanjutnya ekspansi ekonomi dan akumulasi uang mereka. Alasan mengapa Kapitalisme perlu untuk terus menerus tumbuh dan melakukan ekspansinya adalah agar perusahaan-perusahaan itu bisa mendapat keuntungan maka mereka perlu terus menjual sejumlah besar barang dan jasa mereka. Barang-barang tersebut memerlukan sumber daya yang secara alamiah ditemukan di dalam perut bumi seperti minyak tanah, gas, air dll. Hal ini memerlukan pencarian barang-barang mineral tersebut di Dunia Ketiga dimana sebagian besar mineral di dunia terdapat dan disinilah sebabnya kenapa dunia kekurangan makanan dan terjadi kemiskinan global. Kemajuan teknologi seharusnya memastikan lebih banyak barang yang diproduksi dengan harga yang lebih murah dari yang dijual oleh para pesaing barang itu. Teknologi terus berkembang untuk memproduksi barang-barang menjadi lebih cepat dan lebih murah dan pada saat yang sama memastikan bahwa konsumen selalu ingin membeli barang-barang itu. Karena sumber daya dunia adalah terbatas maka semakin banyak perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang semakin berkurang.

Akibatnya Negara-negara maju terus menyuapi Dunia Ketiga, sehingga kebijakan-kebijakan pemerintahan dipengaruhi oleh pencarian sumber daya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan nasional yang seringkali disebut sebagai ‘kepentingan nasional’. Kebutuhan untuk senantiasa memproduksi lebih banyak, mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengeksploitasi Negara-negara yang memiliki sumber daya dan Dunia Ketiga ditipu dengan kesempatan bekerja. Banyaknya zona ekonomi di Asia Tenggara, dimana pekerjanya bekerja pada keadaan yang buruk dan memperoleh hanya beberapa dolar sehari merupakan bukti hal ini.  Dalam zona-zona itu, perusahaan-perusahaan tidak diizinkan untuk menjual produk-produk tertentu di pasaran dimana barang-barang itu diproduksi tapi hanya diizinkan untuk memproduksi barang-barang yang bisa menghasilkan pekerjaan bagi ekonomi Negara pembuatnya.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Amerika mulai mengembangkan kebijakan-kebijakan dalam negeri untuk melawan tantangan atas meningkatnya jumlah penduduk di Dunia Ketiga. Peningkatan penduduk di Negara-negara miskin mulai menjadi perhatian para pemerintahan Barat. Sebuah memorandum dari US National Security Study yang dibuat tahun 1974 oleh the National Security Council atas permintaan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, menyimpulkan bahwa ada empat tipe alasan yang menjadikan pertumbuhan ekonomi di Negara-negara miskin bisa menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS.  

1. Negara-negara dengan jumlah penduduk lebih besar punya pengaruh politik lebih besar

2. Negara-negara semacam itu akan lebih mampu untuk menolak akses bagi Barat atas sumber-sumber daya dan material itu

3. Meningkatnya jumlah kaum muda akan  bisa menantang struktur kekuasaan global

4. Meningkatnya penduduk bisa merupakan ancaman bagi para investor Amerika di Negara-negara itu

Memorandum itu menyebutkan Negara-negara seperti India, Brazil, Thailand, Turki, Ethiopia dan Colombia sebagai Negara-negara yang mendapat perhatian atas hal ini.

Gaya hidup yang boros dari Negara-negara maju maupun pola konsumsi yang mereka lakukan adalah penyebab yang sebenarnya atas meningkatnya pemakaian sumber-sumber daya dunia. Lagipula, konsumsi Negara-negara Barat telah menjadikan Dunia Ketiga terus berada dalam keadaan miskin. Pada saat yang sama, meningkatnya jumlah penduduk di Dunia Ketiga dipersalahkan sebagai penyebab kesengsaraan di dunia.

Seharusnya menjadi sangat jelas bahwa masalah ketidak seimbangan global adalah terletak pada kebijakan-kebijakan Negara-negara Barat. Sementara Negara-negara Dunia Ketiga tenggelam dalam kemiskinan, pemerintahan di Negara-negara maju menyalahkan sebab kesengsaran itu pada korban yang mereka ciptakan.  Khilafah memiliki catatan yang baik sebagai pihak yang bisa menjaga urusan penduduknya dan memiliki sejumlah kebijakan yang tidak hanya memastikan semua penduduknya terpenuhi tapi juga menempatkan hal ini pada agenda global dengan mengungkap yang dilakukan Barat dan mengakhiri kebijakan-kebijakan eksploitatif dari Kapitalisme.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here