Rezim Menjelma Menjadi Otoriter - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, January 25, 2021

Rezim Menjelma Menjadi Otoriter


Oleh: Wafi Mu'tashimah (Siswi SMAIT Al-Amri)

Wajah keras rezim Jokowi makin nampak ke permukaan. Muka "ndeso" nya lenyap sudah. Tangan otoriternya sangat memalukan. 

Didepan layar, rezim merangkul ulama untuk menunjukkan keberpihakannya pada Islam. Tapi dibalik layar, mereka berlaku kejam pada para pengkritik kebijakan, beringas pada para pengemban dakwah yang gigih dalam mengoreksi kedzaliman dan mengkriminalisasikannya. 

Rezim oligarki berjalan dengan sistem stik and carrot. Mereka berbuat baik pada siapapun yang menguntungkan. Dan menggebuk apapun yang dirasa membuntungkan. Kendati demikian, para oligarki tak bisa melakukan semua ini sendirian. Mereka butuh beriringan mesra dengan para pengusaha, dan kroni-kroninya.  Sehingga terjadi simbiosis mutualisme, penguasa butuh sokongan dana untuk menjalankan rencananya. Sedangkan para pengusaha membutuhkan dukungan pemerintah untuk merealisir proyek-proyek bisnisnya.  Lalu, para kroni pemerintah memerlukan dana untuk masuk kedalam tampuk kekuasaan.

Hal yang tak terbantahkan dalam sistem oligarki ini ialah penggunaan organ-organ pemerintahan untuk membabat siapa saja yang menghalangi kemauan mereka. Dengan begitu, politik tangan besilah yang akan mulai menggerogoti negara kita  tercinta.

Masih hangat dalam ingatan masyarakat, penembakan 6 laskar FPI beberapa waktu lalu. Kejadian yang ditengarai ada kepentingan politik dibaliknya. Serta menjadi salah satu potret rezim ini mulai menjelma menjadi negara otoriter. Politik tangan besi yang masih tersamarkan. 

Penggunaan aparat negara terkadang juga digunakan  untuk membungkan suara rakyat.  Sebagai terjadi di berbagai aksi turun jalan untuk menghentikan kedzaliman. Rakyat harus gigit jari melihat perlakuan penguasa yang semena-mena. Sejak penolakan RUU Tipikor hingga RUU Omnibus Law tak ada bedanya.

Jika ditilik kembali, semuanya tak berjalan secara kebetulan. Ada sebuah rencana tersembunyi dan terencana jauh-jauh hari sebelum kejadian-kejadian ini terjadi. Makin jelas, ketika pemerintah menaikkan anggaran Badan Intelejen Negara (BIN) yang semula sejumlah 1,8 triliyun pada tahun 2014 menjadi Rp 9,2 triliyun pada tahun 2021. Ini lebih tinggi dibandingkan anggaran kezehatan yang cenderung menurun. Dari Rp. 212, 5 triliyun ditahun 2019 menjadi Rp. 169,7 triliyun di tahun 2021. Padahal, ditengah pandemi seperti ini, anggaran kesehatan lebih diprioritaskan. 

Penguasa menampakan wajah negara otoriter. Sepertinya mereka  siap membantai setiap lawan politik dengan tangan besi. Kini, mereka berusaha menghilangkan berbagai hambatan yang bisa memperlemah kedudukan ditampuk politik. 

Bila para ulama penggila uang sudah diikat dengan jabatan. Maka, para pengemban dakwah lainnya, yang masih mukhlis dan mengkritik penguasa semata-mata karena Allah SWT. mereka coba habisi dengan jalan kekerasan fisik dan hukum. Extra judicial killing lebih tepatnya.


Tapi, tak cukup sebatas ini. Pemerintah ternyata harus mengikat aparat militer pula agar terus berpihak pada mereka. Dan dengan apa lagi jikalau bukan dengan uang. Yang karenanya, negeri ini memperbanyak dana pada angkatan militer negara. Sehingga mereka akan berpikir dua kali untuk membelot dari perintah penguasa. Mengingat kantong mereka tebal sebab kucuran dana dari penguasa.

Menuju Kehancuran

Rezim kapitalis selalu mendiskriminasi Islam. Mengapa demikian? Karena hanya Islamlah yang sekarang sedang mengancam kedudukan kapitalisme global. 

Para kapital mengira rencana-rencana mereka akan akan mengukuhkan cengkram mereka di Indonesia, bahkan dunia. Akan tetapi, sejatinya seluruh fakta semakin memperlibatkan tanda-tanda keruntuhan demokrasi-kapitalisme.

Tidak hanya dari kalangan kaum muslim yang melihat tanda-tanda ini. Bahkan, kaum orientalis barat pun telah memprediksikannya. Melalui buku berjudul How Democracies Die terdapat beberapa ciri-ciri kehancuran demokrasi. Yang salah satunya ialah berubahnya penguasa yang awalnya kukuh dalam memegang prinsip demokrasi menjadi rezim represif hingga otoriter.

Berita ini membawa angin segar bagi kaum muslimin. Memunculkan gerisik harap pada dada mereka. Pasalnya, ciri-ciri yang disebutkan oleh kaum barat tersebut telah benar-benar tampak saat ini. Mungkin tinggal selangkah lagi cita-cita kaum muslimin akan tegaknya daulah lslam akan terwujud. Bangunan keropos demokrasi akan secepatnya runtuh.

Lalu apa yang menundanya? Ummat belum bangkit. Belum ada kesadaran total pada diri ummat akan kewajiban tegaknya daulah Islam. Kaum muslimin masih terlelap dalam tidur panjangnya. Mayoritas dari mereka pun masih ada yang tak sadar jika mereka sedang terjajah.

Maka, ummat perlu untuk bangkit. Dan tugas sekelompok kaum muslimin yang telah sadarlah untuk menggiring kaum muslim menuju kebangkitan yang hakiki. Yakni ketika setiap kaum muslim telah mengemban idiologi Ilam pada pundaknya.  Islam dijadikan bukan sebatas agama spiritual, tapi agama yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab hanya idiologilah yang mampu menciptakan lebangkitan.

Dan jangan lupa bagaimana Islam dengan perannya sebagai idiologi meninggikan peradaban masyarakatnya dalam kurun lebih dari 10 abad. Dimana baik ummat muslim maupun non-muslim merasakan kesejahteraan yang luar biasa. Jadi tunggu apa lagi, wahai kaum muslim berhentilah menjadikan lslam sebagai agama spiritual, tapi terapkanlah ia diseluruh aspek kehidupan. Biidznillah


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here