Siklus Ekonomi Dracula - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, January 15, 2021

Siklus Ekonomi Dracula


Yuli Sarwanto (Direktur FAKTA)

Di era resesi hari ini, perlu kita renungkan Q.S. al-Baqarah ayat 275, Allah SWT mengatakan: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang terombang-ambing kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila”. Menurut Buya HAMKA dalam Tafsir al-Azhar, orang yang memakan riba bagaikan orang yang kacau, gelisah, dan resah karena kerasukan setan.

Rontoknya pasar modal dunia di era demokrasi akibat tekanan inflasi merefleksikan ketakutan dan kekacauan para “penjudi berdasi” akan kehilangan laba di lantai bursa. Mereka berbondong-bondong menjual surat-surat berharga sehingga indeks bursa efek di seluruh dunia mengalami pukulan telak hanya dalam satu hari.

Kita diingatkan pengalaman pahit hantaman krisis subprime mortgage AS sejak 2007 menyebabkan para “penjudi berdasi” kelas kakap mengalami kerugian hebat. Krisis subprime mortgage AS berdampak pada jatuhnya nilai kapital pasar modal berbasis surat berharga perumahan kelas dua di Amerika sebesar 12% atau US$ 2,4 trilyun (=Rp 22.080 trilyun) dari US$ 20 trilyun menjadi US$ 17,6 trilyun.

Standard & Poor’s (9/2/2008) merilis sebuah laporan yang memaparkan pasar modal dunia pada bulan Januari 2008 mengalami kerugian sebesar US$ 5,2 trilyun (=Rp 47.840 trilyun). Kerugian kaum kapitalis ini lebih dari 53 kali penerimaan pemerintah Indonesia dalam APBN-P 2008 (Rp 894,99 trilyun). Analisis Senior S&Ps, Howard Silverblatt mengatakan “Hanya sedikit tempat yang aman selama Januari, dimana 50 dari 52 pasar modal dunia mengakhiri bulan secara negatif, 25 di antaranya kehilangan 2 digit.”

Kerugian sistem keuangan Kapitalisme ini tidak serta merta membuat pelaku sektor keuangan jera bermain riba dan berjudi di lantai bursa. Otak para penjudi yang biasa disebut investor ini sudah tidak waras lagi sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. al-Baqarah 275. Kaum kapitalis ini hanya memikirkan laba dan tidak memperdulikan penderitaan orang lain khususnya kesengsaraan masyarakat dengan ulah mereka menggelembungkan uang di lantai bursa.

Buya HAMKA dalam Tafsir al-Azhar memperingatkan bahwa perilaku riba merupakan suatu bentuk kejahatan. Kejahatan riba saat ini tidak lagi semata-mata sebagai pertukaran batil untuk mendapatkan keuntungan yang menyebabkan lawan transaksi mengalami kerugian. Kejahatan riba telah bermetamorfosis menjadi metode penjajahan kaum kapitalis untuk menghisap dan memperbudak masyarakat internasional melalui sistem mata uang kertas inkonvertibel (fiat money), penciptaan uang dalam sistem perbankan (Fractional Reserve system), dan penggelembungan uang dalam transaksi derivatif (derivative transaction) di pasar modal dan pasar uang.

Analis pasar modal Paul B. Farrel di situs Market Wacth menulis sebuah artikel sangat menarik dengan judul Derivatives the New ‘Ticking Bomb’. Dalam artikel tersebut, ia mengulang kembali peringatan yang pernah dilontarkan Warren Buffett lima tahun sebelum krisis subprime melanda AS. Warren Buffet menyatakan pertumbuhan transaksi derivatif yang bersifat masif dan tidak terkontrol dapat menjadi “senjata keuangan pemusnah massa” yang sangat berbahaya.

Peringatan Warren Buffet kini menjadi kenyataan pahit bagi negara-negara di dunia. Krisis subprime mortgage AS yang menyebabkan para fund manager raksasa rugi milyaran dollar AS membawa efek domino berupa krisis finansial yang lebih besar dan merembet pada kejatuhan ekonomi di sektor riil akibat melonjaknya harga minyak dan pangan.

Kerugian hebat di bursa saham tidak membuat nyali “perusak ekonomi” dunia turun. Para penjudi raksasa (fund manager) malah mencari sumber-sumber keuntungan baru untuk memuaskan kerakusan mereka. Selanjutnya mereka menjadikan bursa komoditas sebagai permainan spekulasi. Di tengah penderitaan masyarakat internasional khususnya masyarakat menengah ke bawah, para perusak ekonomi ini meraup untung ratusan milyar dollar AS dari perekayasaan harga minyak mentah dunia di bursa komoditas. Akibatnya harga komoditas paling penting ini mengalami lonjakan luar biasa dan sulit diterima akal sehat.

Betapa tidak, saat perekonomian dunia sedang mengalami kelesuan, industri manufaktur dan jasa transportasi mengalami penurunan, harga minyak mengalami boom. Seolah-olah semua sarana produksi, industri jasa transportasi, dan konsumsi energi rumah tangga mengalami boom pula. Kenyataan ini menggambarkan perkembangan harga minyak mentah sudah tidak sesuai lagi dengan mekanisme supply dan permintaan riil. Sebagaimana yang dikatakan sekjen OPEC, harga minyak melambung disebabkan oleh permainan spekulasi di bursa komoditas dan menurunnya nilai mata uang dollar Amerika.

Dampak dari tren harga minyak yang terus melambung, banyak negara khususnya AS mulai mengubah lahan-lahan pertanian menjadi lahan tanaman penghasil biofuels. Akibatnya produksi tanaman pangan untuk kebutuhan pangan dunia tergerus sehingga menyebabkan membumbungnya harga komoditas pangan di pasar internasional. Dunia pun saat ini diancam rusuh dan kelaparan. Betapa tidak, sejak awal tahun 2008 saja setiap hari 26.500 anak-anak mati setiap hari akibat kelaparan apalagi ketika harga-harga bahan pokok semakin mahal dan semakin sulit diperoleh.

Paul B. Farrel mengingatkan transaksi derivatif di bursa telah menjadi ancaman dunia. Menurut Paul transaksi derivatif merupakan sebuah dunia pasar gelap raksasa yang melebihi lalu lintas transaksi pasar gelap senjata, obat bius, alkohol, judi, rokok, pencurian, dan pembajakan film. Seperti dunia pasar gelap pada umumnya, transaksi derivatif merupakan cara kaum kapitalis menghindari pajak dan peraturan pemerintah untuk memperbesar pundi-pundi kekayaan mereka.

Kenyataan ini mendiskripsikan kepada kita bahwa transaksi derivatif di pasar modal selain batil karena berbasis riba dan judi, juga menjadi metode yang sangat jahat dengan mengunci perputaran uang hanya di dalam lantai bursa. Padahal Allah SWT telah melarang perputaran uang yang hanya terjadi di segelintir orang-orang kaya saja (lihat Q.S. al-Hasyr ayat 7), apalagi perputaran uang yang berbasiskan riba dan judi.

Menurut analisis Paul B. Farrel, perputaran uang di lantai bursa pada tahun lalu melonjak 5 kali lipat dibanding 2002. Pada tahun 2007, perputaran uang yang berasal dari transaksi derivatif mencapai US$ 516 trilyun (=Rp 4,747 juta trilyun) sementara tahun 2002 nilainya mencapai US$ 100 trilyun (=Rp 920 ribu trilyun). Berdasarkan data UNCTAD nilai perdagangan dunia tahun 2006 mencapai US$ 11,982 trilyun (=Rp 110 ribu trilyun), sehingga transaksi derivatif di pasar modal tahun 2007 lebih besar 43,36 kali lipat nilai ekspor-impor dunia tahun 2006.

Sangat tepat sebutan Warren Buffet dan Paul B. Farrel terhadap gelembung uang di pasar modal sebagai senjata pemusnah massa (weapon of mass destruction) karena sifatnya yang merusak dan menghisap. Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 279 Allah SWT memperingatkan para pemakan riba seperti pelaku transaksi derivatif dengan ancaman keras, yakni akan diperangi Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT juga mengancam orang-orang seperti para investor di lantai bursa dengan ancaman siksaan yang pedih disebabkan mereka menjadikan uang sebagai alat untuk bermaksiat, memperkaya diri dengan cara memakan riba dan berjudi (lihat Q.S. at-Taubah ayat 34). Bahkan tidak jarang para “penjudi berdasi” ini melakukan penipuan seperti insider trading dan manipulasi laporan keuangan. Skandal penipuan keuangan terbesar di AS yang melibatkan perusahaan raksasa Enron dan Worldcom merupakan salah satu contohnya.

Dalam hadis riwayat Baihaki dan Hakim Rasulullah SAW menegaskan orang-orang yang memakan riba seperti para investor di lantai bursa akan terkena 73 tingkatan dosa riba dan yang paling ringan dosanya seperti seseorang yang menzinai ibu kandungnya.

Rasulullah juga memperingatkan orang-orang yang mengendapkan uang seperti penggelembungan uang di pasar modal dengan ancaman siksaan api neraka, sebagaimana peringatan Rasulullah atas wafatnya seorang ahli suffah yang kedapatan mengendapkan uang 1 dinar. Beliau mengatakan 1 kali celaka. Ketika ada lagi ahli suffah yang meninggal dan ditemukan ia mengendapkan uang sebanyak 2 dinar, Rasul SAW mengatakan 2 kali celaka (lihat Taqiyuddin an-Nabhani dalam Sistem Ekonomi Islam).

Jika terhadap ahli suffah yang notabene orang miskin mendapatkan siksaan di akhirat karena menimbun uang 1-2 dinar, maka tentu saja siksaan bagi para investor pasar modal yang memakan riba, menimbun uang dan menggelembungkan jutaan hingga trilyunan dollar AS di lantai bursa jauh lebih berat dan lebih pedih. Allah SWT berfirman dalam Q.S. at-Taubah ayat 35 dengan terjemahan sebagai berikut: “Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.”


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here