Tanda Tanya Perpres Pencegahan Terorisme


Ilham Efendi (Direktur RIC) 

Perpres Pencegahan Terorisme yang dikeluarkan pemerintah menuai polemik. Selain ambigu, keputusan ini menyasar wilayah keyakinan, tentu lain pembahasannya soal dengan tindakan kekerasan. Potensi subyektifitas dan tendensiusitas akan muncul dan sulit dikontrol. 

Aksi terorisme sangat tidak bisa ditolerir.  Namun bila ditelaah secara global, berbagai kasus kejahatan ISIS, jika digunakan oleh pihak tertentu untuk mendistorsi dan menghantam Islam dan Khilafah tentu berdampak negatif. Dalam perspektif global, tidak heran, sebelumnya Amerika berusaha menghubungkan perjuangan penegakan Khilafah identik dengan ISIS untuk mengasingkan dari masyarakat. Amerika terus meramu untuk menghasilkan ide-ide baru dalam rangka melawan Islam dan Khilafah.

Propaganda radikalisme dan terorisme yang ditudingkan kepada kelompok Islam yang terus dipropagandakan oleh Barat dan para mitranya bertujuan antara lain: Pertama, menjauhkan umat Islam dari keterikatan dengan dengan agamanya yang paripurna. Kedua, melemahkan ghirah umat Islam untuk memperjuangkan agamanya, terutama dalam konteks penerapan syariah secara kâffah dalam institusi Khilafah. Ketiga, mengadu domba antarumat Islam; radikal vs moderat. Keempat, mencegah kebangkitan umat Islam yang dikhawatirkan dapat mengancam segala kepentingan negara-negara Barat. Barat tentu amat khawatir jika dominasi dan hegemoninya atas negeri-negeri Islam berakhir akibat bangkitnya kaum Muslim.

Aksi kekerasan dan terorisme apalagi menyebabkan orang terbunuh jelas tidak dibenarkan dalam syariah Islam sehingga harus ditolak. Namun, membunuh atau menyebabkan tewasnya orang (termasuk yang terduga teroris) dengan alasan untuk pemberantasan terorisme juga tidak dibenarkan. Keduanya jelas dilarang oleh syariah. Allah SWT berfirman:

] وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ …[

Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar (TQS al-Isra’ [17]: 33).

Hal itu merupakan kezaliman. Menteroriskan aktivis Islam dan ulama juga sebuah kezaliman. Sebab, stigmatisasi negatif itu akan terus melanggengkan kezaliman itu bahkan bisa makin memperbesar kezaliman yang terjadi. Allah SWT berfirman:

] وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ [

Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan (TQS Hud [11]: 113).

Karena itu umat Islam tidak boleh cenderung apalagi mendukung kezaliman dan pelakunya, dan jika pelaku kezaliman itu adalah negara. Umat Islam tidak boleh diam saja. Umat harus menolak semua itu.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post