Ada Apa dengan Busana Muslimah?


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Persoalan busana muslimah menjadi polemik. Siswi non muslim di SMKN Padang disebut-sebut telah dipaksa berjilbab. Sontak hal tersebut menuai kecaman. 

Kecaman mulai dari intoleran hingga anti Kebhinekaan. Padahal persoalan busana muslimah itu adalah masalah pribadi. Mestinya tidak boleh ada satu orang pun yang menghujat kepada seorang wanita yang memakai busana muslimah. Sebagai perbandingan. Tatkala ada wanita yang terbuka auratnya baik itu rambut, telinga, leher, lengan, dan betis, bahkan pahanya, berjalan di tempat-tempat umum, tidak ada orang yang mempersoalkannya. Apalagi hingga memframing sedemikian rupa. Padahal dengan banyaknya wanita yang terbuka auratnya di tempat umum ikut menyumbang kepada perilaku-perilaku menyimpang seperti pelecehan seksual.

Mengapa untuk persoalan busana muslimah lantas terlontar begitu mudahnya tudingan-tudingan yang terkesan mengkriminalisasi? Tidak hanya mengkriminalisi busana muslimah lebih jauh lagi berpotensi melahirkan perpecahan bangsa.

Buya Gus Rizal dari MUI Sumbar menegaskan bahwa di Sumbar berlaku "Adat Basandi Syara", yakni adat itu berdasarkan hukum Islam. Selama ini tidak ada persoalan dengan semboyan adat tersebut di Sumbar. Bagi siswi muslimah memang  wajib untuk berjilbab. Sedangkan untuk siswi non muslim hanya merupakan himbauan, imbuhnya. 

Ketika siswi non muslim tersebut menyadari akan manfaat yang akan diperolehnya dengan memakai jilbab saat di tempat umum, lantas ia memilih berjilbab, itu adalah sebuah kesalahan? Tentunya tidak bisa kita menyalahkan individu tersebut. Bahkan tidak bisa disebut sebagai pemaksaan.

Begitu pula saat pihak sekolah menghimbau kepada siswinya yang non muslim untuk berjilbab, tidak bisa disebut sebagai pemaksaan. Katakanlah disertai dengan penjelasan, namun bila tidak tergerak, ya tidak akan memakai jilbab.

Semestinya semboyan bangsa dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya itu bisa menghormati adat dan aturan yang ada di suatu wilayah negeri ini. Ambil contoh di Sumbar dengan Adat Basandi Syariat-nya. Hal demikian termasuk dari local wisdom dan menjadi khasanah kehidupan negeri yang beragam.

Janganlah dengan framing intoleran dan anti kebhinekaan, justru menimbulkan kesan adanya Islam Phobia akut di negeri ini. Betapa tidak. Bukan busana muslimahnya yang menjadi akar persoalan. Busana muslimah ini hanya menjadi pemicu. Yang menjadi persoalan adalah adanya nuansa-nuansa Syariat Islam yang menjadi populer di kalangan umat Islam. Sebagai contoh baru-baru ini sedang ramai polemik dinar-dirham di sebuah pasar muamalah. Padahal selama ini tidak pernah ada masalah. Akhir-akhir ini menjadi persoalan adanya dinar-dirham di pasar tersebut. Bahkan ada semboyan bersemangat yakni menjaga kedaulatan rupiah.

Oleh karena itu kaum muslimin sangat perlu untuk mempelajari syariat agamanya sendiri. Dengan pemahaman yang benar, tentunya kaum muslimin akan selamat dari berpecah belah. Yang sangat membahayakan adalah kaum muslimin menjadi benci terhadap agamanya sendiri.

Terkait dengan busana muslimah berupa jilbab dan kerudung. Tentunya wanita muslimah wajib untuk memakainya. Bagi seorang muslimah, memakai jilbab dan kerudung itu berpahala. Di samping itu ada manfaat lainnya yaitu ia terselamatkan dari pandangan mata yang jahat. Mengingat dengan busana muslimah, auratnya terlindung.

Adapun bagi wanita non muslim, dikembalikan kepada pertimbangan manfaatnya. Dengan memakai jilbab, tentunya ia bisa melindungi auratnya dari mata laki-laki yang jahat. Bukankah dengan potret kehidupan yang demikian akan terjaga kehormatan dan kemuliaan wanita? Dengan sendirinya akan tercipta pula masyarakat yang bersih.

Persoalan berikutnya, apakah ada jaminan bahwa tatkala wanita sudah berjilbab lantas bisa selamat dari pandangan jahat seorang laki-laki? Memang tidak ada jaminan wanita berjilbab saat ini bisa selamat dari laki-laki jahat, apalagi wanita yang terbuka auratnya. Jadi yang menjadi pokok persoalannya bukan pada jilbabnya, akan tetapi pada asas kehidupan. Oleh karena itu sangat mendesak menjadikan halal haram sebagai asas kehidupan. Dengan demikian laki-laki dan wanita akan menutup auratnya dengan sempurna. Di samping itu, laki-laki dan wanita akan berusaha menghiasi diri mereka dengan akhlaq yang mulia. 

# 30 Januari 2021


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post