Ayat Suci Lebih Tinggi Dibandingkan dengan Ayat Konstitusi



Hadi Sasongko (Direktur POROS)


أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).

Konsekuensi ketika kita bersyahadat, ayat suci (al-Quran) harus ditempatkan lebih tinggi dibandingkan dengan ayat konstitusi. Sebabnya, Islam adalah agama yang sempurna. Tidak layak umat Islam berpijak pada paham sekularisme yang sesat dan menyesatkan, yang telah merendahkan kedudukan al-Quran di bawah konstitusi. Allah SWT telah berfirman:

)وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ(

Dialah Yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya (TQS al-An’am [6]: 61).

Karena itu hukum dan aturan Allah SWT pun harus ditempatkan di atas hukum dan aturan buatan manusia. Apalagi hukum dan aturan Allah SWT yang sempurna pasti membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada hukum yang lebih baik, adil dan bijaksana selain hukum Allah SWT semata. Karena itu saat manusia justru berpaling dari hukum dan aturan Allah SWT, mereka diingatkan dengan firman-Nya:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

Hendaklah kamu memutuskan perkara di tengah-tengah mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (TQS al-Maidah [5]: 49).

Ayat di atas menjelaskan bahwa kaum Muslim harus tunduk dan ridha terhadap syariah Allah SWT. Mereka harus selalu merujuk pada hukum yang terdapat dalam al-Quran dan al-Hadis dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan mereka. Mereka tidak layak berpaling dari ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Tidaklah pantas seorang lelaki Mukmin maupun perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, memiliki pilihan lain dalam urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

Allah SWT adalah Zat Yang paling mengetahui keputusan hukum yang paling baik dan adil bagi manusia. Karena itu Allah SWT pun mempertanyakan mereka yang masih mencari-cari hukum lain dalam menyelesaikan masalah kehidupan mereka, sebagaimana firman-Nya:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

Lalu ketika Allah SWT mempertanyakan seperti itu, apakah layak bagi kita sebagai hamba-Nya memilih hukum selain hukum-Nya? Apakah pantas kita mengatakan bahwa ayat kontitusi lebih tinggi daripada ayat suci?


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post