Bendera Islam


M. Arifin (Tabayyun Center)

Sepanjang sejarah kekhilafahan Islam, sebagai identitas Islam, kaum Muslim, dan negaranya, bendera Al-Liwa' dan ar-Rayah ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Bendera ini tidak boleh dinjak, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Serta tidak boleh diperlakukan dengan cara yang identik dengan penghinaan.

Al-Liwa’ dan ar-Rayah, dari aspek bahasa, masing-masing digunakan untuk konotasi bendera dan panji. Al-Liwa’, dalam kamus Al-Muhith, diambil dari kata lawiya. Al-Liwa'—dengan dipanjangkan waw-nya—adalah bendera. Jamaknya: Alwiyah. Adapun ar-Rayah diambil dari kata rawiya: Ar-Rayah adalah bendera. Bentuk jamaknya: rayat.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan:

اللِّوَاءُ بِكَسْرِ اللَّامِ وَالْمَدِّ هِيَ الرَّايَةُ وَيُسَمَّى أَيْضًا الْعَلَمُ وَكَانَ الْأَصْلُ أَنْ يُمْسِكَهَا رَئِيسُ الْجَيْشِ ثُمَّ صَارَتْ تُحْمَلُ عَلَى رَأْسِهِ. وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ الْعَرَبِيِّ اللِّوَاءُ غَيْرُ الرَّايَةِ فَاللِّوَاءُ مَا يُعْقَدُ فِي طَرَفِ الرُّمْحِ وَيُلْوَى عَلَيْهِ. وَالرَّايَةُ مَا يُعْقَدُ فِيهِ وَيُتْرَكُ حَتَّى تَصْفِقَهُ الرِّيَاحُ وَقِيلَ اللِّوَاءُ دُونَ الرَّايَةِ وَقِيلَ اللِّوَاءُ الْعَلَمُ الضَّخْمُ وَالْعَلَمُ عَلَامَةٌ لِمَحِلِّ الْأَمِيرِ يَدُورُ مَعَهُ حَيْثُ دَارَ.

Al-Liwa’, dengan dikasrah huruf Lam-nya dan dipanjangkan huruf Waw-nya, adalah rayah; juga disebut bendera (‘alam). Bendera ini asalnya dipegang oleh panglima tentara dan diemban di atas kepalanya. Abu Bakar bin al-‘Arabi mengatakan, Al-Liwa’ berbeda dengan ar-Rayah. Al-Liwa’ dipasang di ujung tombak dan meliuk-liuk. Adapun ar-Rayah, panji yang dipasang di ujung tombak, dan dibiarkan ditiup angin. Ada yang mengatakan, al-Liwa’ berbeda dengan ar-Rayah. Ada yang mengatakan, al-Liwa’ adalah bendera yang besar. Bendera adalah tanda posisi panglima, dan mengikuti ke mana pun ia berada.” 

At-Tirmidzi menjelaskan perbedaan al-Liwa’ dengan ar-Rayah:

فَتَرْجَمَ بِالْأَلْوِيَةِ وَأَوْرَدَ حَدِيثِ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ ثُمَّ تَرْجَمَ لِلرَّايَاتِ وَأَوْرَدَ حَدِيثَ الْبَرَاءِ أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً من نمرة وَحَدِيث بن عَبَّاسٍ كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.

Beliau menjelaskan al-Liwa’ dan mengemukakan hadis Jabir, bahwa Rasulullah saw. telah memasuki Makkah, dan al-Liwa’-nya berwarna putih. Beliau kemudian menjelaskan ar-Rayah, dan mengemukakan hadis al-Barra’, bahwa panji Rasulullah saw. berwarna hitam persegi empat, terbuat dari kain wol; juga hadis Ibn ‘Abbas yang menyatakan bahwa ar-Rayah beliau berwarna hitam, sedangkan Liwa’-nya berwarna putih (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Al-Liwa’ berwarna putih, bertuliskan “La ilaha illalLah Muhammad RasululLah” dengan tulisan berwarna hitam. Bendera ini diserahkan kepada panglima atau komandan pasukan, sekaligus menandai keberadaannya. Ia dibawa ke mana pun posisi panglima atau komandan pasukan tersebut berada. Ketika Nabi saw. memasuki Kota Makkah, bendera Nabi saw. berwarna putih. Begitu juga ketika Nabi saw. mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima untuk menyerang Romawi, Nabi saw. menyerahkan bendera berwarna putih melalui tangannya.

Adapun ar-Rayah berwarna hitam, bertuliskan “La ilaha illalLah Muhammad RasululLah” dengan tulisan berwarna putih. Panji ini bersama para komandan regu, pleton, kompi, batalion, brigade, resimen, divisi dan detasemen. Dalilnya, Rasulullah saw. yang ketika itu menjadi panglima Perang Khaibar bersabda:

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، فَأَعْطَاهَا عَلِيًّا

“Sungguh, besok aku akan memberikan panji ini kepada orang yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Beliau pun memberikan panji itu kepada Ali (HR al-Bukhari dan Muslim).

 Posisi Ali ra. ketika itu adalah sebagai komandan regu, pleton, kompi, batalion, brigade, resimen, divisi, atau detasemen dalam Perang Khaibar yang dipimpin oleh Nabi saw. Ini dikuatkan oleh riwayat lain, dari al-Hisan al-Bakri, yang berkata: Kami tiba di Madinah. Ketika itu Rasulullah sedang di atas mimbar, sementara Bilal berdiri di depan beliau dengan memanggul pedang, persis di depan beliau dengan panji-panji berwarna hitam. Aku pun bertanya, “Ini panji-panji apa?” Mereka menjawab, “Amru bin al-‘Ash baru tiba dari peperangan.”

Ini menjelaskan, bahwa panji hitam yang bertuliskan, “La ilaha illalLah Muhammad RasûlulLâh” tersebut jumlahnya banyak, sementara panglimanya hanya satu, yaitu Amr bin al-‘Ash.

Ini pun membuktikan bahwa ar-Rayah (panji) berwarna hitam ini dipegang oleh komandan regu, pleton, kompi, batalion, brigade, resimen, divisi, atau detasemen.

Adapun al-Liwa’ (bendera) dipegang oleh panglima pasukan. Ini dalam konteks peperangan. Dalam konteks damai, atau setelah berakhirnya peperangan, panji-panji berwarna hitam “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” dengan tulisan berwarna putih itu disebar kepada pasukan; yang dikibarkan di atas regu, pleton, kompi, batalion, brigade, resimen, divisi, atau detasemen. Ini sebagaimana dalam hadis Hisan bin al-Bakari tentang pasukan Amr bin al-‘Ash di atas.

Karena Khalifah adalah panglima tertinggi, al-Liwa’ (bendera) berwarna putih, yang betuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” dengan tulisan berwarna hitam itu bisa dikibarkan di Kantor Khilafah. Pasalnya, dialah kepala negara, sekaligus panglima tertinggi, yang bukan hanya simbolik, tetapi riil. Adapun badan dan lembaga pemerintahan dan negara hanya boleh mengibarkan ar-Rayah (panji), bukan al-Liwa’ (bendera). Alasannya, karena bendera putih ini khusus untuk panglima tentara, yang sekaligus menandai tempat dan kedudukannya.

Jadi, badan dan lembaga pemerintahan dan negara, bahkan rakyat secara umum boleh membawa dan mengibarkan ar-Rayah (panji) berwarna hitam di gedung-gedung dan rumah-rumah mereka, terutama pada momen-momen Hari Raya, kemenangan dan sebagainya.

Bendera ini, baik ar-Rayah yang berwarna hitam maupun al-Liwa’ yang berwarna putih, sama-sama bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” di atasnya. Pasalnya, bendera ini bukan sekadar bendera, tetapi merupakan identitas Islam, kaum Muslim dan negaranya. Bahkan untuk mempertahankan bendera ini, Ja’far bin Abi Thalib sanggup mengorbankan apapun yang dia miliki hingga gugur sebagai syahid saat Perang Mu’tah.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post