Dahsyatnya Do-Kebai


Romadhon(Pendidik Ideologis)

Ketika seorang ibu melihat kenakalan anaknya, apalagi kondisi psikologis yang tidak sedang mendukung maka apabila yang keluar adalah doa kebaikan, hasilnya adalah kesuksesan. Artinya Do-Kebai atau do’a kebaikan, seorang ibu kepada anaknya tersebut akan berbuah kebaikan pula.

Itulah yang terjadi pada kisah seorang Imam Masjidil haram, Sheikh Abdurrahman AsSudais namanya. Selain dikenal hafidz, Beliau juga memiliki suara yang sangat menyentuh para ma'mum dan pendengarnya. 

Sheikh Abdurrahman AsSudais adalah sosok nama yang banyak orang mengenal sebagai sumber inspirasi kesuksesan. Ternyata dibalik kesuksesannya, beliau memiliki kisah unik dimasa kecilnya.

Sebagaimana banyak sumber informasi, yang penulis dapatkan kisah unik tersebut adalah sebagai berikut. Ketika itu orang tua syekh Sudais akan kedatangan tamu kehormatan, sehingga ibunda Syekh Sudais yang menyiapkan hidangan termasuk memasak kambing untuk menyambut tamu tersebut. 

Ketika hidangan sudah siap saji, masuklah Sudais kecil setelah bermain ke dalam rumahnya. Alangkah kagetnya sang ibu melihat apa yang sudah Sudais lakukan terhadap hidangan yang sudah ia siapkan.

Sudais kecil menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang sudah disiapkan ibunya. Kaget bercampur kesal akhirnya ibunda beliau memarahinya, "Sudais, dasar kamu anak nakal! Awas kamu kalau sudah besar kamu akan menjadi imam Masjidil Haram.

Kemarahan ibunda Sudais inilah yang menjadi doa luar biasa untuknya. Sehingga  Sudais dewasa tumbuh menjadi seorang imam besar Masjidil haram sesuai dengan apa yang diucapkan oleh ibunya.[Dedih Mulyadi:Islampos]

Kisah Sudais kecil, yang telah membuat sang ibu marah, tetapi menjadi buah kesuksesan ternyata rahasianya adalah  pada do-kebai yang diberikan seorang ibu pada sang anak. Lalu muncul  pertanyaan, bagaimana akibatnya ketika yang dipancarkan adalah do-kebur aau do’a keburukan ?

Andaikan kondisi kita dalam keadaan marah, maka sangat memungkinkan sekali do-kebur  akan tersampaikan. Apalagi ketika secara psikologis juga tidak kondusif, yang terjadi adalah umpatan tidak karuan. Atau kata-kata sumpah serapah akan keluar dari mulut kita, tanpa bisa dikontrol. 

Kalau do-kebai yang diberikan hasilnya adalah kesuksesan, maka sebaliknya jika do-kebur  yang terpancar hasilnya adalah suatu kegagalan.  Oleh karenanya perlu dihindari munculnya  do-kebur tersebut, sekalipun dalam kondisi yang tidak kondusif.

Misalnya kosakata bujat(rusak: bahasa Indonesia), belarah kabeh (kacau semua: bahasa Indonesia), akan terucap ketika kondisi sedang emosi. Jika hal tersebut terucap, maka akan berefek pada orang lain adalah ‘oh… aku memang rusak’, ‘aku membuat kekacauan.’ Dalam konteks yang lain, bisa bermakna 'semoga kamu rusak', 'semoga kamu kacau'.

Sebenarnya mengenai hal tersebut, bisa diganti dengan kosa-kata, misalnya 'belum bagus,' untuk kata ’bujat’ dan 'belum disiplin' untuk kata ’belarah kabeh’. Kata-kata tersebut akan bermakna memberi  do-kebai dan bermakna do'a sehingga akan berpotensi membangun, dari pada do-kebur  yang terpancar. [MasRom]


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post