Gimik Politik AS Akhiri Konflik Yaman, Perkuat Hegemoninya di Timur Tengah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, February 21, 2021

Gimik Politik AS Akhiri Konflik Yaman, Perkuat Hegemoninya di Timur Tengah


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Pada pidato politiknya (4/02), Joe Biden menegaskan polugri AS ke depan. Jalur diplomasi akan menjadi strateginya. Secara khusus terkait konflik Yaman, Biden menyatakan akan melakukan langkah politik komprehensif guna menciptakan kestabilan di kawasan Timur Tengah. 

AS secara signifikan melakukan beberapa tahapan politik. Langkah awal adalah menghapus kelompok Syiah Houthi dari daftar kelompok teroris. Di samping itu AS menyatakan akan menghentikan dukungan kepada koalisi pimpinan Arab Saudi dalam memerangi Houthi. Di lain pihak, AS menegaskan dukungannya untuk mempertahankan kedaulatan Arab Saudi dari berbagai serangan.

Arab Saudi sendiri mulai tahun 2015 ikut terjun ke dalam konflik Yaman. Arab Saudi dengan koalisi yang dipimpinnya, di antaranya UEA, kuatir dengan laju invasi Syiah di kawasan. Houthi sendiri dengan jumlah personel militernya sekitar 75 ribu orang bisa bertahan selama 6 tahun dalam perang Yaman, tentunya mendapat dukungan Iran. Persenjataan Iran seperti  rudal balistik memperkuat keberadaan Houthi. Bahkan Houthi berhasil menduduki kota Shan'a. 

Sentimen Sunni-Syiah dimainkan dengan cantik dan brutal dalam konflik Yaman. Arab Saudi dengan koalisinya yang sunni, sejatinya adalah berada dalam hegemoni AS. Saat pemerintahan Trump, AS berkomitmen menjual persenjataan militer ke Arab Saudi sejumlah 60 milyar dollar. Arab Saudi sebagai negara petrodollar pemasuk utama energi AS. Artinya serangan koalisi Arab Saudi menggunakan alutsista produk AS. Tidak sedikit warga sipil Yaman yang menjadi korban. 

Adapun kelompok Houthi menyambut dengan gembira rencana AS dalam menarik dukungan atas Arab Saudi. Iran sendiri sebagai negara penyokong Houthi, tidak menolak rancangan politik AS untuk mengakhiri konflik Yaman. Iran hanya memandang bahwa bila langkah Biden tersebut bukan sebagai manuver politik, tentunya merupakan langkah memperbaiki kesalahan di masa lalu. Artinya penarikan dukungan AS atas Arab Saudi dengan koalisinya bukanlah solusi mengakhiri perang di kawasan Timur Tengah.

Walaupun sempat Iran bersitegang dengan AS atas dibunuhnya Jenderal Soelaimani oleh AS atas perintah Trump, tetap saja Iran berada dalam kendali AS. Maka tidak mengherankan bila hubungan AS-Iran tidak akan pernah memasuki tahapan perang militer terbuka yang bersifat menghancurkan.

Biden melihat dukungan AS atas koalisi Arab Saudi telah menyumbangkan angka kematian yang meningkat di Yaman. Selama 6 tahun konflik Yaman, jumlah korban meninggal dunia lebih dari 110 ribu orang. Sementara sekitar 80 persen warga Yaman berada dalam ancaman bahaya kelaparan. Oleh karena itu, sebagai upaya memperbaiki kesalahannya, Biden mengambil kebijakan diplomasi. Pada 11 Februari 2021, utusan khusus AS untuk Yaman yakni Timothiy Lenderkin berkunjung ke Arab Saudi. Bisa ditebak bahwa AS ingin menghibur Arab Saudi agar tidak terlalu kuatir atas ancaman Houthi. Pihak Arab Saudi sendiri akan mendukung langkah Biden. 

Akan tetapi di hari yang sama dengan kunjungan Timothy, terjadi serangan Houthi atas Bandara Abha di Arab Saudi. Sebuah pesawat sipil menjadi sasaran serangan. Pertanyaannya, apakah serangan Houthi adalah kelemahan AS menjamin kedaulatan Arab Saudi? Tentu saja bukan. Justru serangan Houthi ini menjadi sinyal kuat kepada Arab Saudi agar tidak melanggar garis diplomasi AS. Pesan demikian bukan dari AS langsung. Artinya, serangan yang nantinya dilancarkan Arab Saudi dan koalisinya ke Yaman, jangan sampai kelompok Houthi menyalahkan AS sebagai negara pendukung koalisi. Dengan kata lain, perang di kawasan Timur Tengah antara koalisi Arab Saudi dalam konflik Yaman akan memasuki era baru. Sementara AS akan hadir bak dewa penolong. Bukankah AS itu memposisikan dirinya sebagai polisi dunia? Inilah yang bisa dipahami dari pernyataan politik Joe Biden bahwa Amerika telah kembali.

Terhadap Yaman dan Arab Saudi, AS langsung turun tangan. Sedangkan terhadap Iran, tentunya AS tidak ingin mengotori persepsi terhadap dirinya. Sentimen anti Syiah masih kuat di dunia Islam. Oleh karena itu, PBB melalui utusannya, Martin Griffiths berusaha untuk menenangkan Iran. Dengan mengatasnamakan PBB akan menjadi sinyal kuat agar Iran lebih mengedepankan perdamaian internasional, khususnya di kawasan. Sementara itu, AS bisa bekerja dengan baik memperbaiki Citra politiknya sebagai negara penjamin keamanan dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah.

Demikianlah yang bisa kita saksikan dari langkah politik AS dalam memainkan isu utama di kawasan Timteng yakni perseteruan Sunni-Syiah. Perseteruan Sunni-Syiah akan terus dimainkan hingga negeri-negeri di kawasan menjadi ramah terhadap setiap kepentingan AS, termasuk hubungan negeri-negeri kawasan dengan Israel. Bukankah beberapa negara Timur tengah sudah menormalisasi hubungannya dengan Israel? 

Jika demikian yang terjadi, maka AS akan berhasil mengendalikan isu dan arah politik di Timur Tengah. AS bisa memalingkan negeri-negeri Islam di kawasan dengan sentimen-sentimen primordial di antara mereka. Pada sisi yang lain, kesibukan tersebut akan mematikan adanya upaya persatuan dunia Islam di atas landasan Aqidah Islam. Persatuan dan kerjasama yang ada diarahkan pada tataran aspek kepentingan sesaat. Khilafah Islam akan tetap menjadi teralienasi. Bukankah bangkitnya Khilafah Islam menjadi sesuatu mimpi buruk bagi ambisi-ambisi para negara imperialis? 

Di belahan dunia Islam yang lain, AS tetap bekerja demi interest nasionalnya. Memastikan negeri-negeri Islam masih tetap dalam orbitnya. Dengan begitu tekanan negeri-negeri Islam bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan imperialisnya di dunia Islam, khususnya di timur tengah. Solusi dua negara untuk konflik Israel dan Palestina menjadi bukti yang nyata dalam hal ini. Begitu pula, pengembalian berbagai konflik di dunia Islam tidak bisa dilepaskan dari andil campur tangan PBB dan AS di sisi yang lain dalam skala kepentingan secara global. Artinya, dunia Islam masih terjajah. 

# 14 Februari 2021


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here