Jalan Perubahan Rasulullah S.A.W. - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, February 25, 2021

Jalan Perubahan Rasulullah S.A.W.


Dede Wahyudin (Tabayyun Center)

Rasulullah saw. adalah teladan abadi bagi umat Islam dalam semua aspek kehidupan (QS al-Ahzab [33]: 21). Langkah yang ditempuh Rasulullah saw. dalam mengubah masyarakat menuju tegaknya Daulah Islam harus dijalankan pula oleh gerakan dakwah ataupun partai politik. Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk mengambil apapun yang berasal dari Rasulullah saw. dan meninggalkan segala larangannya (QS al-Hasyr [59]: 7).

Rasulullah saw. juga pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir, sementara di kanan kiri itu beliau menggariskan garis-garis yang banyak. Lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus, sementara ini adalah jalan-jalan yang di setiap pintunya ada setan yang mengajak ke jalan itu.” Kemudian Nabi saw. membaca QS al-An’am [6]: 153) yang memerintahkan kita mengikuti jalan yang lurus serta melarang untuk mengikuti jalan yang lain.  Selain itu, Allah SWT telah mengancam orang-orang Islam yang menyalahi perintah Rasulullah saw. dengan ancaman musibah dan adzab yang pedih (QS An-Nur [24]: 63).

Nas-nas tersebut dan yang lainnya mewajibkan kita terikat dengan metode yang ditempuh Rasulullah saw., termasuk dalam mengemban dakwah sehingga berhasil menegakan Daulah Islam. Banyak nas  juga mengingatkan kita agar tidak menyimpang dari jalan Rasulullah saw. walau seujung rambut sekalipun, dengan berbagai macam dalih dan alasan.

Ketika Allah SWT menetapkan suatu hukum, pasti Allah SWT sudah menyiapkan bagaimana metode mewujudkan hukum itu. Begitupun halnya dalam menegakkan Daulah Islam.

Merujuk pada perjalanan hidup Rasulullah saw., maka secara umum apa yang dilakukan oleh beliau dalam menegakkan Daulah Islam setidaknya untuk mewujudkan dua hal.

1. Adanya opini umum (ra’yu al-‘am) yang lahir dari kesadaran umum (wa’yu al-‘am).

Hasil dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat selama di Makkah di antaranya:

(1) Dinul Islam diterima dan diikuti oleh sebagian masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan masuk Islamnya berbagai kalangan, mulai dari kalangan lemah hingga orang-orang yang memiliki pengaruh yang kuat.

(2) Lahir kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam kuat, ikhlas dalam berdakwah serta istiqamah dalam menjani berbagai cobaan.

(3) Nabi Muhammad saw. dengan ajaran yang dibawa (Islam) serta kelompok (kutlah) dakwahnya menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

(4) Masyarakat mengetahui kebobrokan akidah jahiliah, praktik-praktik sosial yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

(5) Masyarakat mengetahui bahwa solusi yang ditawarkan Nabi Muhammad saw. adalah Islam dengan berbagai macam hukum-hukumnya.

Adapun keberhasilan dakwah sebagaimana yang tersebut di atas, terwujud setelah Rasulullah saw melakukan dua tahapan dakwah yakni: (1) tahapan pembinaan kader dalam kutlah (kelompok) dakwah; (2) tahapan interaksi masyarakat dan perjuangan politik.

Pertama: tahap pembinaan kader dalam kutlah (kelompok) dakwah. Setelah Allah SWT mewahyukan risalah kepada Nabi Muhammad saw, beliau mulai mengajak orang-orang untuk memeluk Islam. Rasulullah saw. kemudian membina mereka dengan pembinaan intensif di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Rasulullah saw. juga mengorganisir para shahabat dalam sebuah kutlah (kelompok) dakwah yang beliau pimpin. Nabi saw terus melakukan hal itu selama tiga tahun hingga Allah SWT memerintahkan untuk melakukan tahap selanjutnya.

Kedua: tahap berinteraksi dengan masyarakat dan perjuangan politik. Setelah tiga tahun masa kenabian, dengan turunnya QS al-Hijr [15]: 94, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan risalah secara terbuka ke masyarakat dan mengajak mereka masuk Islam.

Pada fase ini, Rasulullah saw. menyerukan perubahan radikal dalam hal cara masyarakat menjalani kehidupan, tatacara ibadah, nilai-nilai sosial dan praktik muamalah mereka. Identitas dan gaya hidup mereka dihantam habis-habisan agar mereka mau menggantinya dengan agama dan gaya hidup yang baru. Nabi saw. menyerang sistem kehidupan yang dijalankan oleh Quraisy seraya menawarkan sistem Islam sebagai penggantinya.

Perjuangan dakwah Rasulullah saw. dan para sahabat pada tahap kedua ini dilakukan tanpa kekerasan. Beliau melakukan pergulatan pemikiran (shira’ al-fikri) dan perjuangan politik (kifah as-siyasi) tanpa menggunakan kekuatan fisik/mengangkat senjata, meskipun setiap lelaki Arab pada waktu itu sudah terbiasa menunggang kuda dan memainkan senjata.

2. Adanya dukungan Ahlul Quwwah dan Penerimaan Kekuasaan untuk Menegakkan Daulah Islam.

Dukungan dari ahlul quwwah, sebagaimaan halnya dukungan dari suku Aus dan Khazraj, terjadi setelah sebelumnya Rasulullah saw mendatangi, mendakwahi serta meminta dukungan dari berbagai kabilah. Beliau pergi mencari dukungan militer dari kabilah yang dianggap mampu menjaga kekuasaan dan melindungi kaum Muslim serta mampu menjamin tegaknya Daulah Islam.

Kebanyakan reaksi pimpinan kabilah yang didatangi Rasulullah saw. adalah menolak, baik dengan halus maupun kasar. Ada juga yang menerima tetapi mengajukan berbagai persyaratan, sebagaimana Bani Amr bin Sha’sha’ah dan Bani Syaiban, yang tentu saja dukungan bersyarat tersebut ditolak Rasulullah saw.

Walaupun banyak mendapatkan penolakan dari berbagai kabilah, karena thalab an-nushrah adalah aktivitas yang wajib, Rasulullah saw. tetap istiqamah melaksanakannya. Rasulullah saw. tetap berupaya menemui sekitar 40 kabilah dalam rangka mencari nushrah. Akhirnya, beliau berhasil mendapatkannya dari suku Aus dan Khazraj dari Madinah. Kedua suku inilah yang memberikan dukungan dengan menyerahkan kekuasaan yang selama ini mereka pegang kepada Rasulullah saw. hingga akhirnya Daulah Islam tegak di Madinah.

Dalam hal ini, kontinuitas, kekonsistenan dan keteguhan sikap Rasulullah saw. untuk tidak menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Bani Amr bin Sha’sha’ah dan Bani Syaiban - meskipun hal itu berkaitan dengan kewajiban menegakkan kekuasaan Islam yang telah beliau nyatakan sebagai masalah hidup dan mati—menunjukkan  hukum syariat tentang thalab an-nushrah. Hal ini juga mengindikasikan bahwa thalab an-nushrah adalah bagian tak terpisahkan dari metode penegakkan Daulah Islam.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here