Jangan Ada Kelaparan Di Antara Kita - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, February 27, 2021

Jangan Ada Kelaparan Di Antara Kita


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK (Direktur Poverty Care)

Pandemi corona yang masih belum reda. PBB mengatakan hingga sebanyak 265 juta orang terancam kelaparan pada akhir tahun lalu karena dampak pandemi virus corona. Jika gagal bertindak, PBB mewanti-wanti bahwa dampak pandemi bisa merusak pembangunan selama berpuluh tahun.

Kelaparan mungkin terjadi karena paceklik yang meluas dan mungkin juga karena penguasa abai terhadap masalah kemiskinan rakyat. Penguasa demokrasi kapitalistik bisa abai terhadap kemiskinan rakyat kalau dia tidak memiliki sensitivitas terhadap kemungkinan adanya orang yang lapar.  

Sensitivitas itu bisa hilang manakala penguasa lupa bahwa dia adalah penanggung jawab atas kemaslahatan rakyat atau dia menggunakan paradigma yang keliru untuk menangani urusan rakyat dan keliru dalam memahami masalah ekonomi. 

Menurut sistem ekonomi kapitalis yang banyak dipercayai oleh para petinggi dan birokrat serta ekonom negeri ini, masalah ekonomi itu adalah kelangkaan barang (scarcity). Padahal masalah ekonomi sejatinya adalah buruknya distribusi kekayaan. Sensitivitas penguasa di negara - negara demokratis sangat dibutuhkan, namun juga bisa hilang karena mereka sibuk menyiapkan diri agar sukses dalam menguasai kembali kursi di parlemen dan sukses dalam Pilpres tahun - tahun mendatang.

Di bumi pertiwi yang gemah ripah loh jinawi ini rakyat banyak makin sengsara lantaran para pejabat dan wakil rakyat menyerahkan kekayaan alam dan pengelolaan negara dengan cara-cara kapitalistik. 

Nabi Muhammad saw. menjelaskan bahwa kepala negara laksana penggembala (ra‘in):

فَاْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (kepala negara) adalah laksana penggembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. (HR al-Bukhari).  

Secara filosofis tugas pokok dan fungsi penguasa adalah laksana seorang penggembala. Penggembala bertugas membawa  domba-domba gembalaannya di padang rumput yang subur agar domba-domba itu bisa kenyang memakan rumput. Lalu ia membimbing dan menggiring domba-dombanya ke sumber air agar bisa meminum air dan menyegarkan tubuhnya. Ia juga harus mengawal domba-dombanya agar tetap dalam satu jamaah agar tidak dimakan serigala dan hewan-hewan pemangsa lainnya. Itulah tugas pokok penggembala dimanapun adanya sepanjang sejarah kemanusiaan dan penggembalaan. 

Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menulis surat kepada para penguasa daerah yang menjadi bahwahannya agar mereka tidak beralih posisi dari penggembala kepada hewan gembalaannya.  Beliau mengumpamakan penguasa yang rakus seumpama seekor hewan yang melihat padang rumput lalu memakan rumput tersebut sekenyang-kenyangnya hingga dia menjadi gemuk.  Tentu bisa kita bayangkan betapa kacaunya tata hubungan penggembalaan bilamana sang penggembala lupa tugas pokok dan jatidirinya, lalu bersaing dengan hewan-hewan gembalaannya untuk berebut air dan rerumputan.  

Pada masa modern ini, saat tata dunia baru dibentuk oleh para penguasa dunia yang merupakan sekumpulan serigala-serigala yang selalu lapar (mereka adalah kaum neolib), maka kejadiannya lebih dari apa yang dikhawatirkan Khalifah Umar yang agung. Para penggembala bukan saja lupa tugasnya dan bersaing dengan hewan gembalaannya berebut air dan rerumputan, bahkan mereka menyikat habis air, menyikat habis rumput, bahkan memeras dan menyikat habis hewan-hewan gembalaan itu demi kepentingan dunia lain.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here